Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Jika kita renungkan lebih dalam, “keren”-nya menyembah Allah bukan hanya karena ia benar, tetapi juga karena siapa yang kita sembah. Allah itu Maha Hebat—kehebatan yang tidak terbatas, tidak bergantung, dan tidak pernah berkurang. Sementara segala selain-Nya, betapapun tampak besar di mata manusia, hakikatnya kecil, terbatas, dan fana.
Allah berfirman:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” (QS. Al-Baqarah: 255)
Dialah Yang Maha Hidup—tidak pernah lemah, tidak pernah tidur. Dialah yang mengatur langit dan bumi tanpa kelelahan. Semua yang kita anggap hebat di dunia ini—teknologi, kekuasaan, kekayaan—semuanya berada di bawah kendali-Nya. Maka bagaimana mungkin seseorang merasa rendah, ketika ia menjadi hamba dari Dzat Yang menguasai segala sesuatu?
Bandingkan dengan selain Allah. Berhala tidak mampu bergerak kecuali dipindahkan. Penguasa zalim seperti Fir’aun pun pada akhirnya tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Bahkan manusia paling kuat sekalipun tetap butuh makan, tidur, dan akan mati. Lalu di mana letak “kehebatan” selain Allah itu?
Allah menegaskan:
مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
“Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.” (QS. Az-Zumar: 67)
Ayat ini seakan menyentak hati: sering kali manusia kagum pada yang kecil, namun lalai mengagungkan Yang Maha Besar. Padahal jika seseorang benar-benar mengenal Allah, ia tidak akan mencari kebanggaan pada selain-Nya.
Di sinilah letak keindahan tauhid: ia melahirkan rasa bangga yang murni. Bukan sombong kepada manusia, tetapi bangga karena menjadi hamba Allah. Bangga karena memiliki Rabb yang Maha Mendengar setiap doa, Maha Melihat setiap air mata, dan Maha Mengetahui setiap kegelisahan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin bukan pada dunia yang ia miliki, tetapi pada hubungannya dengan Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya…” (HR. Bukhari)
Perhatikan, seorang hamba yang dekat dengan Allah—yang mungkin tidak dikenal manusia—justru dijaga langsung oleh Allah. Ini bukan sekadar kemuliaan, ini adalah kehormatan yang luar biasa. Siapa lagi yang bisa memberikan “perlindungan” seperti itu selain Allah? Maka seorang yang bertauhid seharusnya tidak merasa rendah diri. Ia tidak perlu iri dengan gemerlap dunia orang lain. Ia tidak perlu minder di hadapan manusia. Karena ia membawa identitas yang jauh lebih tinggi: hamba Allah.
Bahkan, kebahagiaan sejati lahir dari kesadaran ini. Ketika seseorang tahu bahwa Rabb-nya Maha Hebat, maka ia akan merasa aman. Ketika ia tahu bahwa Rabb-nya Maha Kaya, maka ia tidak takut kekurangan. Ketika ia tahu bahwa Rabb-nya Maha Pengasih, maka ia tidak putus asa. Segalanya ada, dalam bentuk Maha. Itulah yang membahagiakan.
Allah berfirman:
وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Dan Aku telah ridha Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Ini adalah pilihan Allah untuk kita. Dan apa yang dipilih oleh Allah pasti yang terbaik. Maka menjadi seorang muslim, menjadi seorang hamba Allah, bukanlah sesuatu yang biasa—ia adalah kehormatan yang seharusnya disyukuri dengan penuh kebanggaan.
Lihatlah para nabi, orang-orang saleh dan para alim-faqih terdahulu. Mereka tidak pernah merasa kecil, meski hidup sederhana. Karena mereka tahu siapa Rabb mereka. Nabi Musa berdiri tegar di hadapan Fir’aun. Bukan karena ia punya pasukan besar, tetapi karena ia memiliki keyakinan besar kepada Allah.
Akhirnya, “keren”-nya menyembah Allah adalah karena kita terhubung dengan Dzat Yang Maha Hebat. Tidak dilahirkan. Tidak melahirkan. Yang Awal. Dan Yang Akhir. Dan ketika kita menyadari itu, hati ini seharusnya dipenuhi rasa bangga dan bahagia. Bangga karena kita tidak sujud kepada yang lemah. Bahagia karena kita memiliki Rabb Yang Maha Kuat. Penuh syukur karena kita dikelilingi Tuhan yang Pengasih dan Penyayang.
Di tengah dunia yang sering membanggakan yang fana, seorang mukmin cukup berkata dalam hatinya: Aku adalah hamba Allah . Dan sungguh, tidak ada identitas yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih “keren” daripada itu.











