Yogyakarta (26/7). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII Mengusung tema “Penguatan SDM Profesional Religius untuk Mewujudkan Ketahanan Lingkungan dan Budaya dalam Mendukung Pancamulia Daerah Istimewa Yogyakarta”. Acara berlangsung di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Yogyakarta, Minggu (26/7/2026).
Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudin, mengatakan pihaknya berupaya menyelaraskan program organisasi dengan Pancamulia DIY dan Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045 sekaligus mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
“Ke depan, program-program tersebut akan semakin dipertajam agar selaras dengan Pancamulia DIY dan SDGs. Kami ingin kontribusi LDII dapat mendukung pembangunan berkelanjutan sekaligus bersinergi dengan program Pemerintah Daerah DIY,” ujar Atus.
Atus menjelaskan, kontribusi LDII DIY diwujudkan melalui sejumlah program. Di bidang kebudayaan, LDII mendorong pembinaan karakter religius, pelestarian seni dan pencak silat melalui Persinas ASAD, serta penguatan budaya gotong royong atau amal shalih.
Di bidang pendidikan, LDII DIY mengembangkan sekolah dari tingkat TK hingga SMA dengan konsep boarding school. Pendidikan formal tersebut dipadukan dengan pembinaan keagamaan dan penguatan “29 Karakter Luhur”. Pembinaan generasi muda juga dilakukan melalui Satuan Komunitas Pramuka Sekawan berbasis masjid.
Sementara di bidang lingkungan, LDII DIY mengembangkan dua lokasi Program Kampung Iklim (ProKlim). Salah satunya Padukuhan Sangurejo yang telah meraih ProKlim Utama pada 2024 dan diajukan untuk meraih predikat ProKlim Lestari pada 2026.
“Mohon doanya Bapak Ibu semoga Allah menjadikan Kampung ProKlim Sangurejo berhasil mencapai ProKlim Lestari. Kalau bisa, ini adalah Kampung ProKlim Lestari pertama di DIY yang dibantu diinisiasi oleh LDII,” kata Atus.
Upaya tersebut juga diperkuat melalui pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. LDII DIY mengembangkan program Gerakan Kyai Peduli Sampah, Sedekah Sampah, serta pengelolaan sampah berbasis masjid. Di sisi lain, gedung DPW LDII DIY juga menerapkan konsep ramah lingkungan melalui sistem penampungan air hujan.
“Ini dalam rangka mengusung hidup berkelanjutan. Air hujan yang ditampung digunakan untuk wudu dan kamar mandi. Ini ikhtiar kami semoga bumi terus sehat, terus hijau, terus lestari,” ujarnya.
Di bidang ekonomi, LDII DIY menjalin kerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI). Organisasi juga mengembangkan Baitul Maal wa Tamwil (BMT), koperasi syariah, dan literasi keuangan. Program tersebut diarahkan untuk mendorong kemandirian santri dan masyarakat.
Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, mengatakan Muswil VIII LDII DIY juga menjadi momentum menyusun arah kebijakan dan program strategis organisasi untuk lima tahun ke depan. Ia mendorong penguatan pemberdayaan masyarakat hingga tingkat akar rumput.
“Kalau ada warga LDII di situ, itu mestinya bermanfaat bagi lingkungannya, menjadi rahmatan lil alamin. Karena khairunnas anfauhum linnas, sebaik-baiknya manusia itu harus bermanfaat bagi sekitarnya,” ujar Dody.
Dody juga mendorong LDII DIY menyiapkan kader muda yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, kader organisasi perlu memiliki profesionalisme dan keterbukaan tanpa meninggalkan nilai kebangsaan dan keislaman.
“Kami siapkan pimpinan-pimpinan masa depan yang semakin adaptif, semakin profesional, semakin terbuka, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Tentu tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar kebangsaan dan keislaman,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, mendorong LDII DIY memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, kompleksitas tantangan zaman membutuhkan kerja sama lintas sektor.
“Ke depan, saya berharap LDII DIY semakin memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat. Tantangan zaman semakin kompleks, sehingga hanya dengan kerja sama dan semangat gotong royong kita mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat,” ujar Singgih.
Ia juga mengapresiasi kontribusi LDII DIY dalam bidang lingkungan. Menurut Singgih, pengembangan ProKlim dan pengelolaan sampah berbasis masjid menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan seiring dengan nilai moral dan keagamaan.

Kepala Biro Kesra Setda DIY, Faishol Muslim, hadir mewakili Gubernur DIY sekaligus membuka secara resmi Muswil VIII LDII DIY. Dalam sambutan Gubernur DIY yang dibacakannya, Muswil dinilai bukan sekadar momentum pergantian kepengurusan. Forum tersebut menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, memperbaiki kekurangan, memperbarui arah perjuangan, dan menyusun program kerja.
“Musyawarah adalah kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh. Hal-hal yang telah berjalan baik perlu diperkuat, kekurangan yang masih ada perlu diperbaiki. Sementara tantangan baru harus dijawab dengan pikiran yang terbuka dan semangat kebersamaan,” demikian sambutan Gubernur DIY yang dibacakan Faishol.
Gubernur DIY juga mengapresiasi tema Muswil VIII LDII DIY yang menempatkan penguatan SDM profesional religius sebagai perhatian utama. Profesionalisme, menurutnya, membutuhkan kecakapan, kedisiplinan, dan kesungguhan. Sementara nilai religius menjadi landasan moral agar kemampuan yang dimiliki digunakan untuk kemaslahatan masyarakat.
Melalui Muswil VIII, LDII DIY diharapkan mampu merumuskan program kerja yang realistis dan selaras dengan pembangunan daerah. Organisasi juga didorong memperluas manfaat bagi masyarakat melalui penguatan lingkungan, pelestarian budaya, pendidikan generasi muda, pemberdayaan ekonomi, serta pembangunan kerukunan sosial.

