Tanah Laut (31/5). Sejak tahun 2022, Ketua DPD LDII Tanah Laut, Anton Kuswoyo, mulai menaruh perhatian besar pada tanaman sorgum. Bagi Anton, sorgum bukan hanya tanaman alternatif, tetapi memiliki potensi besar untuk menjawab beberapa persoalan penting sekaligus, yaitu ketahanan pangan, penyediaan pakan ternak, serta pemanfaatan lahan marginal yang selama ini dianggap kurang produktif.
Ketekunan Anton dalam meneliti sorgum berangkat dari kondisi nyata di Kalimantan Selatan, khususnya Kabupaten Tanah Laut, yang memiliki banyak lahan pascatambang batubara. “Lahan seperti ini umumnya dikenal kering, masam, miskin unsur hara, dan sulit dimanfaatkan untuk pertanian. Namun, melalui pendekatan ilmiah, pengolahan tanah, serta penggunaan ” ujar Anton saat diwawancarai tim LINES, pada Jumat (29/5/2026).
Ia percaya, lahan pascatambang masih dapat dihidupkan kembali menjadi lahan produktif, dengan teknologi pembenah tanah yang tepat. Salah satu temuan penting dari riset Anton adalah, lahan pascatambang batubara tidak selamanya harus dibiarkan menjadi lahan rusak dan tidak produktif.
Berdasarkan hasil penelitiannya, lahan pascatambang batubara dapat dipulihkan melalui penggunaan bahan pembenah tanah dengan dosis yang tepat. “Beberapa bahan yang digunakan antara lain asam humat, dolomit, dan kompos. Ketiga bahan ini memiliki peran penting dalam memperbaiki kondisi tanah, mulai dari menurunkan tingkat keasaman, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan bahan organik, hingga membantu ketersediaan unsur hara bagi tanaman,” pungkasnya.
Melalui perlakuan tersebut, tanah pascatambang yang awalnya tandus, masam, miskin unsur hara, dan sulit ditanami perlahan dapat diperbaiki kualitasnya. Asam humat membantu meningkatkan kesuburan tanah dan kemampuan tanah dalam menyimpan unsur hara.
“Dolomit berperan menetralkan keasaman tanah, sedangkan kompos memperbaiki struktur tanah sekaligus menambah bahan organik. Dengan kombinasi dan dosis yang sesuai, lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif ternyata mampu menjadi media tumbuh bagi tanaman sorgum,” jelas Anton.
Hasil riset Anton membuktikan, sorgum dapat dibudidayakan di lahan pascatambang batubara dan menghasilkan biomassa yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak ruminansia, terutama kambing dan sapi.
Hal ini sejalan dengan fokus penelitiannya yang mengkaji potensi sorgum sebagai hijauan pakan berenergi tinggi, sekaligus pemanfaatan lahan pascatambang batubara menjadi area produktif yang bernilai ekonomi dan mendukung keberlanjutan lingkungan.
Politeknik Negeri Tanah Laut mencatat karya ilmiah Anton berjudul “Kajian Agronomi dan Nutrisi Sorgum Hijauan Pakan Berenergi Tinggi di Lahan Pascatambang Batubara sebagai Produk Unggulan Kalimantan Selatan” berhasil meraih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah 2025 tingkat Provinsi Kalimantan Selatan.
Kiprah Anton di bidang sorgum tidak berhenti pada aspek budidaya. Ia melihat sorgum sebagai tanaman serbaguna. Bijinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif, sementara batang dan daunnya berpotensi besar sebagai hijauan pakan ternak. Gagasan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam riset doktoralnya di Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan, IPB University.
Dalam salah satu pemberitaan, Anton menjelaskan, risetnya berkaitan dengan strategi budidaya sorgum serta pengombinasian sorgum dengan tumbuhan lokal dan limbah pertanian untuk pakan kambing. Batang dan daun sorgum diarahkan sebagai pakan ternak, sedangkan bijinya dapat dimanfaatkan untuk pangan manusia.

Sebagai dosen Politeknik Negeri Tanah Laut, Anton juga menunjukkan, riset perguruan tinggi tidak boleh berhenti di ruang akademik saja. Penelitian harus menyentuh persoalan masyarakat dan daerah. Hal ini terlihat dari upayanya menjadikan sorgum sebagai komoditas yang relevan dengan kebutuhan Kalimantan Selatan, baik untuk mendukung pertanian, peternakan, maupun pemulihan lahan pascatambang.
“Lahan bekas tambang tidak harus berakhir sebagai lahan mati, tetapi dapat diolah kembali menjadi ruang produktif melalui ilmu pengetahuan dan inovasi,” tegasnya.
Perjalanan panjang riset tersebut akhirnya mengantarkan Anton meraih gelar doktor di bidang Ilmu Nutrisi dan Pakan, IPB University. Pada Senin ( 25/5/2026), hasil penelitiannya dipresentasikan dan diuji dalam ujian akhir Program Doktor di IPB.
Dalam ujian tersebut, penelitian Anton diuji oleh enam profesor dan dua doktor. Hasilnya, Anton berhasil lulus ujian tertutup dengan nilai A setelah mampu mempertahankan risetnya mengenai pemanfaatan lahan pascatambang batubara, untuk budidaya sorgum dan pengembangannya sebagai sumber pakan ternak ruminansia.












