Jakarta (30/6). Komunitas Pengajian Teman Tuli LDII berkolaborasi dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Minhajurrosyidin menggelar kegiatan pengajian khusus bagi warga LDII penyandang Tuli. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (28/6) tersebut, untuk membuka akses pendidikan agama yang ramah bagi para penyandang disabilitas.
Kegiatan yang berpusat di Ponpes Minhaajurrosyidin Jakarta ini, dihadiri oleh 33 peserta dari berbagai wilayah, meliputi Cirebon, Karawang, Bogor, Bekasi, Jakarta, hingga Tangerang. Ketua DPP LDII Koordinator Bidang Pendidikan, Keagamaan, dan Dakwah (PKD) Dwi Pramono, mengapresiasi generasi muda yang berhasil mewujudkan kegiatan tersebut.
Menurutnya, wadah seperti ini menjadi jawaban atas keterbatasan dalam mempelajari agama, sekaligus menjadi implementasi dari target pembentukan 29 karakter secara menyeluruh tanpa terkecuali, “Kami menilai positif agenda ini karena sangat esensial. Setiap umat Muslim punya hak setara untuk mendapatkan pembinaan karakter. Hambatan komunikasi yang sering dialami saudara-saudara tuna rungu dapat dijembatani dengan baik lewat penyampaian materi menggunakan bahasa isyarat,” ujarnya.
Dwi juga menegaskan bahwa LDII berkomitmen penuh dalam mendukung program dakwah inklusif ini. Dukungan nyata juga diberikan dalam bentuk penyediaan fasilitas di berbagai ponpes binaan LDII, guna menunjang kemandirian para santriwan dan santriwati.
“Kami menyediakan sarana pengajian di ponpes serta membuka akses silaturahim ke pondok pesantren binaan di daerah, seperti di Kediri, Jombang, dan Nganjuk. Target besar kami adalah mencetak generus tuli yang mandiri, berprestasi, dan profesional religius. Sikap mandiri ini merupakan bagian penting dari tri sukses generus yang terus kita dorong,” jelasnya.
Ia juga berharap program ini dapat bersinergi dengan agenda pemerintah, salah satunya dalam pemanfaatan Mushaf Al Quran Isyarat agar nilai-nilai Al Quran bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Sementara itu, salah satu Guru Teman Tuli LDII, Ardha Ikrimatu Zanjabila menjelaskan, untuk memaksimalkan penyerapan ilmu dan pembentukan karakter, materi pengajian dibagi ke dalam tiga kategori kelas yang disesuaikan dengan kebutuhan usia peserta.
“Untuk Kelas Caberawit Tuli, kami fokus pada pengenalan dasar-dasar agama lewat media visual dan ekspresi, karena anak-anak lebih mudah belajar dengan melihat. Hal ini penting untuk menanamkan karakter jujur, amanah, dan rukun sejak dini kepada mereka,” papar Ardha.
Lalu untuk kelas dewasa atau yang sudah menikah (Kelas Mumi), difokuskan pada pemahaman makna Al Quran. “Tujuannya agar muda-mudi dan yang sudah menikah dapat memahami makna Al Quran secara mendalam, sehingga mereka memiliki karakter yang bijaksana dalam membedakan mana yang benar dan salah, serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan,” lanjutnya.
Tidak hanya bagi anak, pengajian ini juga membangun aspek penerapan ‘kerja sama yang baik’ di lingkungan keluarga melalui Kelas BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) untuk para orang tua.
“Kami ingin keluarga atau pendamping juga bisa berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa isyarat, sehingga proses saling mendukung dan pembelajaran agama di rumah bisa terus berkesinambungan,” tambahnya.
“Melihat semangat anak-anak menebak gambar, melihat peserta dewasa menangis haru karena akhirnya paham makna Al-Quran, dan melihat orang tua gigih belajar bahasa isyarat, semua rasa lelah kami hilang. Ini bukti perjuangan kami tidak sia-sia, dan kami akan terus memperjuangkannya selama masih diberikan tenaga,” ungkap Ardha.
Mengenai keberlanjutan program, Ardha menambahkan bahwa pembinaan untuk generus tuli ini sebenarnya sudah berjalan secara rutin di berbagai wilayah di Indonesia sebagai wujud komitmen menjaga kekompakan komunitas. Selain pengajian daring (online) rutin satu sampai tiga kali seminggu via Zoom, pertemuan langsung (luring) juga konsisten diadakan di Jetis Surabaya setiap hari Minggu, di Ponpes Minhaajurrosyidin Jakarta sebulan sekali, serta di Yogyakarta sebulan sekali.

