Jakarta (30/10). Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, KH Zulfikar Hajar bersama Qori Nasional M. Syafi’i silaturahim dengan santri dan pimpinan Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Jakarta. Kunjungan pada Rabu (28/10/2026) tersebut, KH Zulfikar diajak berkeliling melihat pusat pendidikan dan berbagai aktivitas di lingkungan pesantren.
Ia mengaku kagum setelah melihat secara langsung lingkungan pendidikan di pondok pesantren tersebut. Ia mengajak para ulama dan umat Islam untuk memperbanyak kunjungan dan mengambil pelajaran dari berbagai lembaga pendidikan maupun kegiatan keumatan.
“Saya kagum sekali melihat apa yang dilakukan LDII di pesantren ini. Marilah kepada kaum muslimin, khususnya para ulama, mengambil perbandingan. Kami harapkan untuk datang ke sini (Ponpes Minhaajurrosyidin), agar bisa melihat, mengambil pelajaran dan menjadi iktibar,” ujarnya.
Dewan Pertimbangan MUI Sumatera Utara itu menyampaikan pentingnya membangun hubungan melalui sejumlah tahapan, mulai dari saling mengenal, bertukar pikiran, saling berkunjung, mengambil manfaat dan pelajaran, berbagi, hingga saling menasihati.
“Itu adalah konsep dakwah Nabi Muhammad SAW. Beliau dakwah di Kota Mekah selama 13 tahun, tidak lebih dari 1.000 orang Mekah yang masuk Islam, tapi ketika beliau dakwah di Madinah selama 10 tahun lebih dari 1.000 penduduk Madinah yang masuk Islam,” tambanya.

Ia menilai, konsep tersebut dapat diterapkan dalam pengembangan kehidupan umat, termasuk melalui kerja sama antarlembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan. “Mungkin guru di sini (Minhajurrosyidin) bisa mengajar ke ponpes kami, guru dari sana bisa mengajar di sini. Setelah itu kita saling berbagi. Kemudian saling menasihati,” ungkapnya.
KH Zulfikar juga mengajak memperkuat persatuan dan menghindari perpecahan. Menurutnya, perbedaan di tengah masyarakat merupakan hal yang wajar karena manusia memiliki keterbatasan dan dapat melakukan kesalahan. “Wa‘tasimu bihablillahi jamī‘aw wa la tafarraqu, artinya bersatulah kamu dalam agama Allah dan janganlah kamu berpecah belah. Jangan dibalik, berpecahlah kamu janganlah bersatu,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan agama bagi generasi muda. Menurutnya, ajaran Nabi Muhammad SAW perlu ditanamkan kepada anak-anak. “Agar mereka tumbuh sebagai generasi yang memiliki kepedulian terhadap sesama, menghormati orang tua dan guru, serta memiliki akhlak yang baik,” tuturnya.
Dalam kunjungannya, ia juga mengikuti upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Sekolah Minhajurrosyidin. Dalam amanatnya, KH Zulfikar mengutip pemikiran penyair dan filsuf Muslim asal Pakistan, Muhammad Iqbal, untuk menggambarkan besarnya potensi generasi muda.
Ia mengibaratkan generasi muda seperti bulan sabit yang baru muncul. Meski pada awalnya terlihat kecil, bulan sabit diyakini akan tumbuh menjadi bulan purnama yang menerangi dunia. “Apabila kamu melihat bulan sabit mulai muncul, yakinlah dia akan menjadi bulan purnama,” ujarnya, mengutip pemikiran Muhammad Iqbal.
Menurutnya, pesan tersebut relevan untuk membangkitkan semangat para pelajar agar tidak meremehkan potensi yang mereka miliki. Masa muda menjadi kesempatan penting untuk menuntut ilmu dan membangun karakter. Ia juga mengingatkan pentingnya kesungguhan dalam belajar. “Barang siapa yang bersungguh-sungguh, dia pasti akan mendapatkan,” tutupnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum DPP LDII Tri Gunawan Hadi yang mendampingi kunjungan ini mengatakan, kehadiran KH Zulfikar memberikan manfaat dan pengetahuan baru bagi LDII. “Dari kunjungan yang cukup singkat ini, banyak mendapatkan manfaat dan juga ilmu baru untuk bagaimana mengembangkan umat. Bagi kami, ini menjadi spirit baru. Yang tadinya sudah semangat, sekarang bertambah semangat lagi,” ujarnya.
Ia mengatakan, semangat tersebut akan diteruskan melalui penguatan amal saleh, dan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat kepada masyarakat. “Kami sudah banyak melakukan, tadi Kiai menyampaikan, amal saleh, budi luhur atau budi pekerti yang luhur. Kami kembangkan terus,” katanya.

Menurutnya, upaya membangun hubungan dengan masyarakat juga perlu dilakukan melalui pendekatan yang mengedepankan kebaikan dan keteladanan. “Kami perbanyak kontribusi untuk mengembangkan kebaikan-kebaikan LDII,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, KH Chairul Baihaqi, menyambut baik kunjungan KH Zulfikar Hajar. Ia menyebut, kedatangan ulama dari Sumatera Utara tersebut memberikan wawasan dan semangat bagi para pendidik di lingkungan pesantren.
“Nasihat yang disampaikan KH Zulfikar menjadi dorongan bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Dan itu sangat luar biasa, menjadi salah satu penyemangat kita untuk lebih menguasai ilmu dunia,” katanya.
Ia berharap kunjungan tersebut memberikan dampak positif bagi para pendidik dan generasi muda, sehingga pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan nilai keagamaan.















