Sleman (22/8). DPD LDII Kabupaten Sleman mendorong pembinaan keagamaan generasi muda melalui kegiatan brainstorming aqidah, pemahaman alim faqih, dan keilmuan agama. Salah satu kegiatan pembinaan tersebut dikemas dalam Cerdas Cermat Agama (CCA) yang digelar TPA Akhlakul Karimah pada Kamis (6/8/2026).
Tenaga pendidik TPA Akhlakul Karimah Yuche Pasharela Aska mengatakan metode CCA dipilih untuk mengetahui kemampuan santri dalam memahami materi yang telah dipelajari. Menurut dia, pola pembelajaran interaktif membuat santri lebih aktif mengikuti proses belajar.
“Kami ingin melihat sejauh mana santri memahami materi aqidah dan keilmuan agama. Cerdas cermat membuat mereka tidak hanya mendengar atau menghafal, tetapi juga berani menjawab dan mengingat kembali materi yang sudah dipelajari,” kata Yuche.
Yuche mengatakan materi yang diberikan tidak hanya berorientasi pada kemampuan menjawab pertanyaan. Santri juga diarahkan memahami nilai yang terkandung dalam materi keagamaan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Pembelajaran agama perlu sampai pada pemahaman dan pengamalan. Kami ingin santri memiliki dasar aqidah yang kuat, memahami ilmu agama dengan baik, dan membangun akhlak melalui kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.
Ketua DPD LDII Kabupaten Sleman, Suwarjo mengatakan pembinaan generasi muda perlu dilakukan melalui metode yang sesuai dengan karakter anak-anak. Menurut dia, kegiatan seperti CCA dapat menjadi media untuk memadukan pembelajaran agama dengan kemampuan berpikir, komunikasi, dan keberanian.
“Anak-anak membutuhkan pola pembelajaran yang membuat mereka aktif. Cerdas cermat dapat melatih pengetahuan sekaligus keberanian menyampaikan jawaban. Ini menjadi bagian dari proses pembentukan karakter,” kata Suwarjo.
Suwarjo mengatakan penguatan aqidah dan pemahaman agama merupakan bagian penting dalam pembinaan generasi penerus LDII. Ia mendorong lembaga pendidikan keagamaan terus memberikan ruang belajar yang menarik dan terarah.
“Generasi muda perlu memiliki pondasi agama yang kuat. Pengetahuan agama harus diberikan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan mereka. Dengan cara itu, mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang memahami agama dan mampu menerapkannya,” ujarnya.
Menurut Suwarjo, pembinaan di tingkat TPA juga memiliki peran dalam menyiapkan generasi yang memiliki karakter mandiri dan bertanggung jawab. Ia meminta para pendidik tidak hanya fokus pada capaian akademik keagamaan, tetapi juga membangun kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak perlu dibiasakan disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain. Nilai tersebut perlu berjalan bersama dengan pemahaman aqidah dan ilmu agama,” kata Suwarjo.
Suwarjo berharap kegiatan pembinaan seperti brainstorming dan CCA dapat dilakukan secara berkelanjutan di berbagai lembaga pendidikan LDII di Sleman. Ia menilai kegiatan interaktif dapat menjadi salah satu cara menjaga minat belajar santri sekaligus mengevaluasi pemahaman mereka.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berkembang. Evaluasi pembelajaran perlu dilakukan secara berkala agar pendidik mengetahui materi yang sudah dipahami dan bagian yang masih perlu diperkuat,” ujarnya.
Suwarjo mengatakan pendidikan menjadi investasi penting bagi keberlanjutan generasi. “Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang alim, faqih, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi keluarga serta masyarakat,” katanya.














