Surabaya (3/8). DPD LDII Kota Surabaya menggelar seminar wanita yang dihadiri sekitar 300 peserta. Dalam kegiatan yang berlangsung pada Minggu (19/7/2026) di GSG Sabilurrosyidin, Surabaya, Jawa Timur tersebut, para peserta mendapat materi parenting food.
Materi tersebut menjadi bekal orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, melalui kebiasaan makan yang bergizi dan seimbang. Seminar bertajuk “Parenting Skill: Meneladani Pola Makan Rasulullah Guna Membangun Generasi Sehat, Cerdas, dan Berakhlakul Karimah” itu diselenggarakan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPD LDII Kota Surabaya.
Peserta mendapatkan materi mengenai pola makan Rasulullah SAW, gizi seimbang, serta penerapan food parenting dalam kehidupan sehari-hari, “Seminar ini merupakan upaya membekali para ibu dengan pengetahuan dan keterampilan dalam membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga. Pembentukan generasi unggul tidak hanya ditentukan oleh pendidikan formal, tetapi juga kebiasaan yang ditanamkan orang tua sejak usia dini,” jelas Wakil Ketua DPD LDII Kota Surabaya, Khamim Tohari
Ia menjelaskan tujuan seminar tersebut untuk memberikan bekal kepada para ibu LDII Kota Surabaya, dalam mendidik dan membina anak-anaknya sesuai teladan Rasulullah SAW. Menurutnya, dengan bekal tersebut, diharapkan lahir generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlakul karimah.

Sementara itu, Dosen Prodi Fisioterapi D IV Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Sofiatun, menjelaskan pola makan Rasulullah yang mengedepankan prinsip tidak berlebihan selaras dengan konsep gizi seimbang yang diterapkan saat ini, “Kami mengingatkan pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, dan minyak, serta memperbanyak sayur, buah, protein, dan aktivitas fisik. Pemenuhan gizi perlu dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK),” jelasnya.
Ia menerangkan investasi kesehatan terbaik dimulai sejak anak berada di dalam kandungan hingga usia dua tahun. Menurutnya, masa tersebut yang menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat dan cerdas, “Food parenting bukan sekadar mengatur menu makanan, tetapi juga membentuk kebiasaan makan yang sehat melalui keteladanan orang tua. Anak tidak lahir sebagai picky eater, melainkan dibentuk oleh pengalaman makan yang diciptakan di lingkungan keluarga,” ungkap Psikolog dan Hypnotherapis, Karlin.
Ia menegaskan bahwa anak tidak lahir sebagai picky eater. Melainkan orang tualah yang mengarahkan, memberi contoh, dan membangun pengalaman makan anak sejak usia dini, “Orang tua tidak menjadikan makanan sebagai hadiah atau membiasakan anak makan sambil menggunakan gawai. Sebaliknya, suasana makan bersama keluarga perlu dibangun sebagai sarana menanamkan kebiasaan hidup sehat sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak,” tutupnya.














