Jakarta (31/8). Pelatihan Jurnalistik LINES DPP LDII Batch 7 memasuki pekan kedua pada Sabtu (29/8/2026). Kali ini, peserta mempelajari event management dan fotografi jurnalistik untuk memperkuat keterampilan dalam mendukung produksi dan publikasi kegiatan.
Ketua Divisi Event Management LINES DPP LDII Abdul Husen Rouf bersama Arini dan Astrid Wendianisa mengajak peserta memahami proses di balik penyelenggaraan sebuah acara. Rouf menjelaskan, sebuah acara yang sukses tidak hanya bergantung pada pelaksanaan di hari-H, tetapi juga pada persiapan dan koordinasi tim sejak pre-event hingga after event.
“Event management itu seperti pabrik mobil, sementara show manager adalah pembalapnya. Kalau pabriknya tidak bekerja dengan baik, pembalap sehebat apa pun tidak akan bisa melaju maksimal,” ujarnya.
Rouf menjelaskan bahwa event management mencakup proses merencanakan, mengatur, menjalankan, hingga mengevaluasi sebuah acara. Proses tersebut meliputi penentuan konsep dan anggaran, pemilihan lokasi, penyusunan jadwal, koordinasi dengan vendor dan panitia, promosi, registrasi peserta, aspek keamanan, hingga evaluasi setelah acara.
Ia juga mengenalkan berbagai peran yang terlibat dalam produksi sebuah acara, seperti show director, stage manager, stage crew, MC crew, visual jockey, serta tim broadcast dan multimedia. Menurutnya, setiap bagian harus mampu bekerja dalam satu koordinasi agar acara berjalan sesuai tujuan.
“Tim yang sukses adalah sekelompok orang yang terdiri dari banyak tangan dan satu pikiran. Sehebat apa pun kemampuan seseorang, akan kalah dengan attitude,” tegas Rouf.
Setelah mempelajari pengelolaan acara, peserta mendalami cara menyampaikan informasi melalui medium visual dalam sesi fotografi jurnalistik. Nurdianto Khairurrahman dan Muhammad Fattachul Firdaus membahas peran fotografi dalam memperkuat sebuah berita, “Pada dasarnya fotografer dengan penulis berita sama-sama menyampaikan berita, hanya saja medium dan cara kerjanya yang berbeda,” ungkap Nurdianto.
Nurdianto kemudian menjelaskan perbedaan foto jurnalistik dan foto dokumentasi. Menurutnya, foto jurnalistik tidak sekadar merekam sebuah peristiwa, tetapi juga harus menyampaikan informasi, menunjukkan konteks, dan memiliki nilai berita. Sementara foto dokumentasi lebih berfokus pada fungsi pengarsipan atau pencatatan suatu kegiatan.
Ia juga memperkenalkan konsep dasar pengambilan foto jurnalistik, mulai dari Entire Frame, Detail, Angle, hingga Time (EDFAT). “Konsep tersebut membantu fotografer menentukan bagian peristiwa yang perlu ditampilkan, memilih sudut pengambilan gambar, serta menangkap momen yang tepat untuk memperkuat informasi dalam berita,” ungkapnya.
Selain teknik pengambilan gambar, Nurdianto mengingatkan peserta untuk memperhatikan etika fotografi jurnalistik. Fotografer perlu menjaga konteks peristiwa, menghormati subjek yang difoto, serta menghindari manipulasi yang dapat mengubah atau menyesatkan informasi.
Rangkaian Pelatihan Jurnalistik LINES DPP LDII Batch 7 akan terus berlanjut dengan materi yang semakin beragam. Setelah mempelajari jurnalistik online, straight news, bijak bermedia sosial, manajemen krisis, dan jurnalistik televisi pada pekan pertama, peserta kini memperluas keterampilan melalui event management dan fotografi jurnalistik.













