Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Kadang kita merasa perlu memiliki banyak hal sebelum memulai suatu kebaikan. Amal ibadah misalnya. Ketika hendak shalat, kita membayangkan pakaian tertentu, perlengkapan khusus, atau suasana yang sempurna. Tanpa disadari, sesuatu yang sebenarnya dapat dilakukan dengan sederhana terasa jauh dan berat.
Kisah Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu mengajak kita menjernihkan pemahaman itu. Muhammad bin al-Munkadir meriwayatkan bahwa Jabir salat dengan satu kain yang diikatkan di belakang lehernya, sementara pakaian lainnya berada di tempat gantungan. Ketika seseorang mempertanyakan tindakannya, Jabir menjelaskan dengan tegas bahwa ia sengaja melakukannya agar orang yang belum memahami dapat melihat dan belajar. Ia juga mengingatkan keadaan para sahabat yang memiliki keterbatasan pakaian pada masa Rasulullah ﷺ. (HR. al-Bukhari no. 352).
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، قَالَ صَلَّى جَابِرٌ فِي إِزَارٍ قَدْ عَقَدَهُ مِنْ قِبَلِ قَفَاهُ، وَثِيَابُهُ مَوْضُوعَةٌ عَلَى الْمِشْجَبِ قَالَ لَهُ قَائِلٌ تُصَلِّي فِي إِزَارٍ وَاحِدٍ فَقَالَ إِنَّمَا صَنَعْتُ ذَلِكَ لِيَرَانِي أَحْمَقُ مِثْلُكَ، وَأَيُّنَا كَانَ لَهُ ثَوْبَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم
Dalam riwayat lain, Jabir menyatakan dasar perbuatannya:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي هَكَذَا
“Aku melihat Nabi ﷺ shalat seperti ini.” (HR. al-Bukhari no. 370).
Jabir sedang mengajarkan sesuatu yang pernah disaksikannya sendiri. Pakaian lain tersedia, tetapi ia sengaja memperlihatkan diperbolehkannya shalat dengan satu kain. Tindakannya memberi pelajaran bahwa kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat perlu dibedakan dari ketentuan yang memang diajarkan agama. Jangan tertipu dan jangan kebablasan.
Dari kisah ini, kita dapat memahami kemudahan dengan lebih tenang dan lapang. Kemudahan memiliki landasan dan tuntunan. Rasulullah ﷺ menjelaskan kepada Jabir bahwa apabila kainnya luas, hendaklah diselimutkan pada tubuh; apabila sempit, digunakan sebagai kain penutup bagian bawah. Yang penting aurat tertutupi. (HR. al-Bukhari no. 361). Ada perhatian terhadap keadaan pakaian dan kemampuan pemakainya. Namun sempurna secara syariat.
Karena itu, pelajaran tentang kesederhanaan tetap berjalan bersama pemenuhan ketentuan salat, termasuk menutup aurat dan menjaga kesucian. Sehelai kain dalam riwayat ini adalah pakaian yang digunakan dengan cara yang diajarkan. Jumlah lapisannya sendiri bukan ukuran kedalaman iman. Akan berbahaya, jika gebyar pakaian menjadi ukuran selanjutnya.
Dalam kehidupan kita, pemahaman ini sangat penting agar seseorang tidak terjebak dalam keumuman dan adat kebiasaan, merasa harus membeli perlengkapan mahal sebelum mendekat kepada Allah. Pakaian yang sederhana pun dapat digunakan dengan layak, patut dan diterima. Orang yang hidup dalam keterbatasan selayaknya mendapatkan dukungan, penjelasan, dan penghormatan yang sama. Itulah rahmat.
Kita pun perlu berhati-hati ketika melihat penampilan orang lain. Sesuatu yang berbeda dari kebiasaan kita belum tentu keliru. Sebelum menegur, ada baiknya kita belajar dan bertanya. Boleh jadi yang terasa asing justru memiliki dasar yang belum kita ketahui. Ilmu membuat kita semakin teliti sekaligus semakin rendah hati.
Rasulullah ﷺ berpesan: يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh.” (HR. al-Bukhari no. 69).
Pesan itu dapat kita hidupkan ketika mendampingi orang yang baru belajar salat. Kita menjelaskan apa yang perlu dipenuhi, membantu sesuai kebutuhannya, dan menghargai langkahnya. Pengetahuan agama, ilmu yang benar sejak dari sumbernya, semestinya menumbuhkan keyakinan untuk beribadah, serta membantu seseorang memahami tuntunan secara bertahap.
Semangat tersebut juga sejalan dengan ajakan untuk bergembira atas karunia dan rahmat Allah dalam Surah Yunus ayat 58. Petunjuk adalah anugerah yang layak disyukuri. Mengetahui bahwa ibadah dapat dijalankan dengan sarana sederhana, tidak rumit dan tidak harus wah, membuat hati lebih lapang, rela dan segera untuk memulainya.
Semoga kita diberi pemahaman yang jernih: bersungguh-sungguh memenuhi tuntunan, bijaksana terhadap perbedaan kebiasaan, dan lembut kepada mereka yang sedang belajar. Dari sehelai kain Jabir, kita mengenang luasnya kemudahan yang diajarkan Rasulullah. Betapa berharga ilmu yang membantu manusia melangkah menuju tempat sujudnya dengan hati yang yakin, mantap dan penuh kesyukuran.















