Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Sebagaimana hari yang tidak pernah membuang malamnya, samudera tidak pernah menolak gelombang, dan mawar tidak bisa hidup tanpa duri. Manusia pun demikian, tidak pernah diberi pilihan untuk membuang bad mood, kesedihan, rasa sakit, penyakit, dan kematian. Semua itu bukan kesalahan sistem kehidupan, melainkan bagian utuh dari desain kebijaksanaan semesta. Skenario sempurna Sang Maha Pencipta. Terutama kematian—ia bukan musuh kehidupan, melainkan mitra makna yang membuat hidup menjadi sungguh-sungguh bernilai. Tanpa kematian, hidup hanya menjadi penundaan tanpa arah. Karenanya Allah mengatakan; setiap diri akan mencicipi mati, untuk melanjutkan perjalanan.
Masalah manusia modern bukan pada hadirnya kegelapan, melainkan pada cara menyikapinya. Di zaman sekarang, Susan David—guru besar psikologi dari Universitas Harvard—melalui mahakaryanya Emotional Agility menjelaskan dengan jernih bahwa penderitaan batin sering kali membesar bukan karena peristiwa itu sendiri, melainkan karena reaksi kita terhadapnya. Ketika kesedihan datang, banyak orang mengambil langkah yang tidak sehat: menghakimi orang lain, menghakimi diri sendiri, lalu berlari sejauh mungkin dari rasa tidak nyaman. Ada yang lari ke hiburan tanpa henti, ada yang lari ke ambisi, ada yang melarikan diri ke obat penenang, bahkan ada yang bersembunyi di balik jargon spiritual. Namun, pelarian semacam itu justru melahirkan paradoks: kegelapan di luar tidak hilang, malah melahirkan kegelapan yang lebih pekat di dalam. Luka yang tidak dipeluk akan membusuk. Kesedihan yang tidak diakui akan berubah menjadi kemarahan, kecemasan, atau kehampaan yang sunyi.
Di sinilah keikhlasan menunjukkan keindahannya. Keikhlasan bukan meniadakan rasa sakit, melainkan kemampuan mengubah kegelapan luar menjadi cahaya di dalam. Ia tidak meminta manusia menjadi kebal, tetapi mengajarkan keberanian untuk hadir sepenuhnya dalam pengalaman hidup—termasuk yang pahit dan tidak nyaman. Allah berfirman;
وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan Kami menguji mereka dengan (masa-masa) yang baik dan (masa-masa) yang buruk, agar mereka kembali (kepada Allah).” (QS. Al-A’raf: 168)
Karena itu, setiap kali kesedihan atau rasa sakit datang berkunjung, mungkin kita perlu mengurangi satu kebiasaan lama: terlalu manja untuk terus-menerus melarikan diri. Sebagai gantinya, latih diri untuk berdekapan dengan ketidaknyamanan. Bukan dengan sikap dramatis, bukan pula dengan perlawanan keras, melainkan dengan kehadiran yang jujur dan tenang. Duduklah bersama rasa itu. Dengarkan ia berbicara. Rasakan, tanpa terburu-buru menyingkirkannya.
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Kami pasti akan merasakan kepada mereka azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), agar mereka kembali.” (QS. As-Sajdah: 21)
Untuk direnungkan lebih dalam, tidak ada kehidupan yang selalu nyaman. Jiwa-jiwa besar dalam sejarah pun tumbuh dari ketidaknyamanan. Para Nabi dan Rasul, tidak pernah berhenti dimusuhi, bahkan ada yang akhirnya menyabung nyawa. Imam Ahmad bin Hambal mengenal penjara, penolakan, dan rasa sepi. Para Wali mengalami kegelisahan eksistensial yang mendalam sebelum mencapai pencerahan. Ketidaknyamanan bukan tanda kegagalan, melainkan bahan baku kedewasaan batin. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ، وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ، وَلَا حَزَنٍ، وَلَا أَذًى، وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun duka cita, bahkan hingga tertusuk duri, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari no. 5641, Muslim no. 2573)
Langkah praktisnya adalah bertumbuh bersama ketidaknyamanan. Lihat ia apa adanya, tanpa label berlebihan. Perlakukan ia sebagaimana alam memperlakukan malam—tidak dibenci, tidak disingkirkan. Seperti samudera yang tidak memusuhi gelombang, atau mawar yang tidak menyesali durinya. Ketidaknyamanan adalah bagian dari keindahan yang belum selesai dipahami. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ
“Besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan)
Dalam proses ini, penolakan hampir pasti muncul. Ada penolakan kasar: merasa bodoh, merasa dipermainkan, merasa sedang dihukum. Ada pula penolakan halus: menyebut rasa itu tidak masuk akal, atau bahkan membungkus penolakan dengan dalil-dalil suci demi menenangkan ego. Semua itu manusiawi. Namun, jangan berhenti di situ. Teruslah berlatih untuk berdekapan dengan ketidaknyamanan, meski canggung dan tidak elegan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia menyegerakan hukuman (atas sebagian dosanya) di dunia.” (HR. Tirmidzi no. 2396)
Gunakan rasa tidak nyaman seperti amplas yang menghaluskan. Ia mengikis kesombongan, menajamkan empati, dan membersihkan ilusi tentang kontrol. Perlahan, kita akan menyadari bahwa keikhlasan bukan keadaan tanpa luka, melainkan kemampuan untuk mencintai kehidupan—apa adanya. Bahkan saat ia tidak ramah. Bahkan saat ia gelap. Bahkan saat ia mengajak kita diam dan belajar.














