Jakarta (8/4). Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Kementerian Agama RI, Muchlis Muhammad Hanafi memberikan pembekalan dalam Musyawarah Nasional (Munas) X LDII. Dalam acara yang digelar di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, pada Rabu (8/4/2026), ia mengapresiasi berbagai inisiatif LDII.
Menurutnya LDII telah melaksanakan dakwah inklusif bagi penyandang disabilitas hingga penguatan program ekoteologi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah hadirnya pengajian khusus bagi penyandang tuli atau “Pengajian Generus Tuli”.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi syiar dakwah inklusif yang membuka akses seluas-luasnya bagi seluruh umat, termasuk kelompok disabilitas, “Ini merupakan upaya LDII memberikan perhatian terhadap komunitas penyandang disabilitas tunarungu. Bahkan tadi saya lihat ada kader LDII yang terlibat dalam penyusunan Mushaf Al Quran Isyarat yang diinisiasi oleh Kementerian Agama,” ujarnya.
Ia menilai, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa komunitas muslim tuli di Indonesia kini memiliki peluang lebih besar dalam mengakses kitab suci dan pemahaman keagamaan. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan keagamaan yang inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, perhatian terhadap kelompok disabilitas menjadi penting karena selama ini masih ada keterbatasan akses dalam memahami ajaran agama. “Mereka sama-sama muslim dan memiliki hak yang sama dalam mengakses pemahaman keagamaan,” tambahnya.
Selain dakwah inklusif, Muchlis juga menyampaikan materi terkait ekoteologi, yang menjadi salah satu fokus dalam Munas X LDII. Ia menjelaskan, ekoteologi merupakan bagian dari program prioritas Kementerian Agama yang sejalan dengan arah pembangunan nasional, khususnya dalam membangun harmoni antara manusia, alam, dan budaya.
Dalam kunjungannya, ia juga meninjau Pondok Pesantren Minhajurrosyidin yang dikenal sebagai salah satu eco-pesantren di lingkungan LDII. Pesantren tersebut telah mengembangkan berbagai program berbasis lingkungan, seperti zero waste, urban farming, hingga pengelolaan sampah terpadu.
“Saya melihat bagaimana ekosistem lingkungan dibangun secara terintegrasi, mulai dari pengolahan sampah hingga pemanfaatannya untuk peternakan, perikanan, dan perkebunan. Ini model yang sangat baik dan bisa ditularkan ke tempat lain,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum DPP LDII, Dody Taufik Wijaya menilai konsep ekoteologi yang disampaikan sangat sejalan dengan program-program yang telah dijalankan LDII selama ini.
“LDII sudah cukup lama mengembangkan program berbasis lingkungan, mulai dari penghijauan, penanaman mangrove, hingga program zero waste di pondok pesantren. Jadi ini gayung bersambut dengan program Kementerian Agama,” kata Dody.
Ia menambahkan, ke depan LDII membuka peluang kerja sama lebih luas dengan Kementerian Agama, termasuk dalam penguatan dakwah dan pengembangan sumberdaya mubalig. Menurutnya, sinergi ini dilakukan untuk memperluas jangkauan dakwah yang tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga sosial dan lingkungan.










