Jakarta (14/4). Generus Festival (GenFest) menggelar workshop bertajuk “Be Known for Something: Membangun Personal Branding Sejak Dini”. Kegiatan itu mengundang Human Resource Consultant Himawan Pramudita.
Dalam pemaparannya, Himawan menekankan pentingnya personal branding di era digital. Ia menjelaskan dunia kerja tidak hanya menilai potensi, tetapi juga persepsi yang terbentuk di ruang publik, khususnya media sosial. “Kalau kamu tidak menentukan kamu dikenal sebagai apa, maka orang lain yang akan menentukan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan sekitar 70 persen perekrut kerap memanfaatkan media sosial untuk *screening* kandidat, bahkan lebih dari separuhnya pernah menolak kandidat karena konten online pelamar kerja yang tidak sesuai. Selain itu, kelengkapan profil pekerja di aplikasi LinkedIn (aplikasi jejaring sosial untuk pekerja dan profesional) disebut memiliki peluang lebih besar untuk terlihat oleh perekrut.
Himawan menjelaskan, personal branding bukan berarti pamer, melainkan menunjukkan kemampuan dan nilai diri secara tepat. Menurutnya, generasi muda perlu mulai mengenali diri sejak dini, termasuk minat, kemampuan, dan tujuan karier yang ingin dicapai. Ia menekankan pentingnya memiliki tujuan yang spesifik dalam 3–5 tahun ke depan, bukan sekadar keinginan umum seperti ingin sukses atau kaya.
Lebih lanjut, ia memaparkan langkah membangun personal branding melalui kerangka clarity dan seen, yakni memahami diri, memiliki bukti nyata atas kemampuan, serta memastikan aktivitas yang dilakukan selaras dengan tujuan. “Harus ada evidence, seperti sertifikat, portofolio, atau project yang menunjukkan bahwa kita benar-benar punya skill tersebut,” jelasnya.
Selain itu, Himawan menyoroti pentingnya exposure dan networking. Ia menyarankan peserta secara konsisten membagikan proses, karya, maupun pencapaian di platform digital agar lebih dikenal. “Networking juga menjadi faktor penting karena sebagian besar peluang kerja diperoleh melalui koneksi. Bahkan peluang diterimanya bisa meningkat melalui rekomendasi,” ujarnya.
Untuk memulai, langkah sederhana membangun koneksi melalui tantangan tujuh hari, kata Himawan. Yakni dimulai dari merapikan profil pekerja di LinkedIn, menambah koneksi, hingga aktif berinteraksi dan membagikan karya. “Selain itu konsisten jadi kunci utama dalam membangun personal branding,” kata dia.
Terakhir, ia mengingatkan peserta tetap fokus pada tujuan dan tidak mudah terdistraksi oleh penilaian orang lain. “Maju bukan karena dipuji, mundur bukan karena dicaci,” pesannya.
Melalui workshop ini, peserta diharapkan mampu memahami pentingnya personal branding serta mulai membangun citra diri yang positif dan relevan sejak dini sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Nisa)

