Makkah (2/6). Dewan Penasihat (Wanhat) DPP LDII KH Hafiluddin yang juga merupakan jemaah haji Indonesia tahun 1447H/2026M mengingatkan bahwa keberhasilan ibadah haji tidak hanya diukur dari selesainya rangkaian manasik. Akan tapi juga dari perubahan sikap dan kualitas ibadah setelah kembali ke tanah air.
“Tujuan utama setiap jemaah adalah meraih haji mabrur, yaitu haji yang diterima dan diberkahi oleh Allah SWT,” ungkapnya, saat ditemui Tim Media Center Haji, Makkah (31/5/2026).
KH Hafiluddin menjelaskan, para imam di Masjidil Haram dan berbagai masjid di Makkah saat khotbah kerap memanjatkan doa agar seluruh jemaah memperoleh haji mabrur.
“Salah satu doa yang sering dipanjatkan adalah, “Allahumma ja’al hajjana hajjan mabruran, wa sa’yana sa’yan masykuran, wa dzanbana dzanban maghfuran, wa tijaratana tijaratan lan tabur”, yang berarti memohon agar haji diterima, amal ibadah disyukuri, dosa diampuni, dan seluruh usaha mendapatkan keberkahan,” ungkapnya.
Baca Juga: Apa Itu Murur dan Tanazul? Ini Penjelasan Musyrif Diny
Menurutnya, tanda-tanda haji mabrur dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari setelah seseorang pulang dari Tanah Suci. Salah satu indikator utamanya adalah meningkatnya kualitas ibadah, baik ibadah wajib maupun sunnah. “Kalau hajinya mabrur, maka ibadahnya harus semakin tertib, semakin meningkat. Salat lima waktunya lebih terjaga, ibadah sunnahnya bertambah, infak dan sedekahnya juga semakin baik,” ujarnya.
Selain peningkatan ibadah, perubahan akhlak juga menjadi ukuran penting. Ia mengingatkan agar jemaah yang telah berhaji tidak merasa lebih tinggi dibanding orang lain.
Justru sebaliknya, seseorang yang memperoleh kesempatan berhaji harus semakin rendah hati, tawadhu, dan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. Jangan sampai pulang dari haji kemudian merasa lebih dari yang lain. “Kesempatan berhaji itu semua karena pertolongan Allah,” katanya.
Baca Juga: 9 Keutamaan Haji dan Umrah yang Pelu Diketahui
Ia berharap para jemaah yang kembali ke tanah air dapat menjadi motor penggerak kebaikan di lingkungan masing-masing. Dengan ibadah yang lebih tertib dan akhlak yang lebih baik, mereka diharapkan mampu memberikan motivasi kepada masyarakat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi meningkatnya kontribusi warga LDII dalam pelayanan dan penyelenggaraan ibadah haji. Menurutnya, kepercayaan yang diberikan kepada berbagai unsur LDII untuk terlibat dalam pelayanan haji merupakan amanah yang harus dijaga dengan baik demi memberikan manfaat yang lebih luas kepada umat.
“Yang terpenting, kemabruran haji itu nantinya dibuktikan dengan perubahan. Ibadahnya semakin baik, akhlaknya semakin mulia, kepeduliannya kepada sesama semakin besar, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya,” pungkasnya. (Faqihu Sholih/MCH 2026).










