Jutaan umat Islam berkurban setiap tahun atas nama ketakwaan. Bagi LDII, ketakwaan tidak cukup dibuktikan dengan keikhlasan semata, namun harus berlanjut pada tanggung jawab kepada sesama, kepada hewan yang dikurbankan, dan kepada bumi yang menopang kehidupan.
Setiap Idul Adha, gema takbir berkumandang dari masjid ke masjid, dari lapangan ke gang-gang sempit. Umat Islam merayakan salah satu momen paling sakral dalam kalender Hijriah, bulan panen pahala. Bagi yang mampu, panennya ada di Tanah Suci: wukuf di Padang Arafah, talbiyah yang terus diulang, dan air mata yang jatuh tanpa diminta. Bagi yang belum sampai ke sana, Allah membentangkan ladang yang sama luasnya: menunaikan kurban.
Penyembelihan hewan kurban menjadi simbol ketaatan sekaligus kepedulian sosial dengan berbagi kebahagiaan, melalui daging yang harganya tidak selalu bisa dijangkau semua orang. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, kebahagiaan itu terasa nyata di wajah setiap orang yang menerimanya. Namun di tengah semarak itu, muncul pertanyaan yang kian relevan: sudahkah praktik kurban kita ramah terhadap lingkungan?
Sebab dalam praktiknya, pelaksanaan kurban kerap menyisakan persoalan ekologis, karena jika darah yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari sumber air dan menjadi ladang subur bagi bakteri seperti E. coli, bahkan mengganggu budidaya ikan di sejumlah tempat. Sementara kantong plastik sekali pakai yang digunakan setiap tahun terus memperparah persoalan sampah yang butuh ratusan tahun untuk terurai.
Pertanyaan itu menjadi perhatian DPP LDII, dan mereka memilih untuk menjawabnya dengan tindakan. Tahun ini, organisasi Islam itu mengusung konsep Eco-Kurban: kurban yang tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Ketua DPP LDII Dody Taufik Wijaya mengatakan bahwa pihaknya menggunakan plastik biodegradable dan besek, wadah anyaman bambu yang sudah ratusan tahun menjadi bagian dari tradisi berbagi di Nusantara — sebagai pengganti kantong plastik konvensional dalam pembagian daging kurban.
“DPP LDI juga memperkenalkan pembagian kurban dengan berwawasan lingkungan. Tentu menggunakan biodegradable plastik, plastik yang dapat di daur ulang, dan juga menggunakan besek.” ungkapnya.
Kantong plastik yang dipilih pun bukan sembarangan. Dibuat dari pati singkong alias Manihot esculenta — tanaman umbi yang tumbuh melimpah di tanah Indonesia, plastik ini telah diuji di Laboratorium Kementerian Perindustrian dan terbukti mampu terdegradasi oleh mikroba. Dalam kondisi kompos yang hangat dan lembap, ia bisa luruh dalam enam bulan hingga dua tahun. Jauh berbeda dari plastik konvensional berbasis minyak bumi yang bisa bertahan ratusan tahun di lingkungan.
Dody mengungkapkan langkah ini pun tidak berhenti di tingkat pusat. Untuk itu ia mengimbau seluruh jenjang organisasi, dari DPW, DPD, hingga PC dan PAC, untuk melakukan hal yang sama.
Namun bagi LDII, ramah lingkungan tidak cukup hanya soal kemasan. Ada dimensi lain yang tak kalah penting: bagaimana hewan kurban itu sendiri diperlakukan. Bukan hanya saat detik penyembelihan, tetapi sejak masa pemeliharaannya.
Untuk itu, Dody mengungkapkan para juru sembelih di lingkungan LDII telah melewati pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha), yakni program bersertifikat yang memastikan setiap hewan dikurbankan dengan cara yang meminimalkan rasa sakit, sesuai syariat sekaligus beradab. Pisau diasah hingga benar-benar tajam, hewan ditenangkan sebelum disembelih, dan seluruh prosesnya dijalankan dengan standar yang diakui BPJPH Kementerian Agama.
“Terutama dalam rangka pembersihan, dari sisi darah, kemudian juga pembersihan, isi perut, jeruannya, dan lain-lain. Itu sudah menggunakan standar. kita mendapatkan pelatihan-pelatihan. Baik di dinas kebersihan, dinas kesehatan di Pemda, pemerintah daerah, provinsi, atau kabupaten, kota masing-masing,” lanjutnya.
Di balik seluruh ikhtiar itu, Dody mengingatkan bahwa kurban sejatinya menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar ritual sembelih, “Makna dari berkurban, pertama tentu ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT, meningkatkan ketaatan dan ketakwaan kita. Kemudian juga meningkatkan rasa berbagi dan persaudaraan,” ujarnya.
Kebersamaan itu, katanya, terasa nyata dalam setiap tahap, mulai dari menyembelih, memotong, mengepak, hingga membagikan daging kepada yang membutuhkan maupun yang sekadar datang meminta, sesuai tuntunan hadis.
“Dalam setiap penyembelihan kurban, ini rasa kebersamaan. Sama-sama bekerja sama, beramal soleh untuk menyembelih daging kurban, memotong-motong daging kurban, dan juga mengepak dan membagi-bagikan,” lanjutnya.

Kurban juga menggerakkan roda ekonomi dalam skala yang jarang disadari, Dody menggambarkannya dengan sederhana, “Bayangkan saja kalau misalnya, seluruh Indonesia ini umat Islamnya, mungkin 80% dari 280 juta. Kalau satu kepala keluarga, atau setiap 10 kepala keluarga berkorban, satu ekor kambing atau satu ekor sapi, ini alangkah besarnya putaran ekonomi bagi para peternak,” lanjutnya.
Dan manfaatnya tidak berhenti di kandang. Bagi mereka yang menerimanya, daging kurban adalah berkah yang konkret, “Ini juga menjadi sumber protein bagi masyarakat yang mungkin memang jarang untuk mendapatkan akses ke sumber protein,” tutupnya.
Bagi LDII, kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan dan membagikan daging. Ia adalah praktik spiritual yang mengajarkan keikhlasan, kepedulian, dan tanggung jawab — termasuk terhadap lingkungan yang menopang kehidupan.
Eco-Kurban mengingatkan bahwa menjaga bumi bukanlah agenda di luar ibadah, melainkan bagian darinya. Dengan kesadaran itu, Iduladha tidak hanya menghadirkan keberkahan bagi manusia tetapi juga bagi alam yang sudah lama menopang semarak hari raya ini dalam diam.












