Jeddah (8/6). Komitmen Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dalam menghadirkan layanan haji yang inklusif pada musim haji 1447 H/2026 M mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Beragam program yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan dinilai berjalan dengan baik selama operasional haji berlangsung.
Apresiasi tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenhaj RI, Puji Raharjo, saat meninjau sekaligus melepas kepulangan jemaah haji Kloter 6 Lombok (LOP) di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Minggu (7/6) malam.
Menurut Puji, berbagai testimoni yang diterima dari jemaah menunjukkan bahwa program haji ramah lansia telah memberikan manfaat nyata.
“Terkait layanan ramah lansia, kami menerima banyak testimoni positif dari jemaah. Bahkan tadi kami bertemu langsung dengan dua jemaah lansia yang menyampaikan apresiasi terhadap pelayanan yang diberikan,” ujarnya.
Selain lansia, pelayanan bagi penyandang disabilitas juga mendapat penilaian positif. Pada penyelenggaraan haji tahun ini, Kementerian Haji dan Umrah menggandeng Komisi Nasional Disabilitas (KND) untuk mengawal pemenuhan hak-hak jemaah disabilitas sejak tahap persiapan, pelaksanaan ibadah, hingga proses kepulangan ke Tanah Air.
“Alhamdulillah, berdasarkan masukan dari teman-teman disabilitas, layanan tahun ini mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Jemaah disabilitas memang memerlukan perhatian khusus dan itu terus kami upayakan,” kata Puji.
Ia menambahkan, perhatian serupa juga diberikan kepada jemaah perempuan. Mengingat mayoritas jemaah haji Indonesia adalah perempuan, Kemenhaj melakukan berbagai penyesuaian layanan, termasuk menambah jumlah petugas perempuan di berbagai sektor pelayanan.
“Musim haji tahun ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam keterlibatan petugas perempuan. Kami juga menambah jumlah pembimbing ibadah perempuan serta memperkuat layanan perempuan di bidang kesehatan, pelayanan umum, dan bimbingan ibadah,” jelasnya.
Meski demikian, Puji mengakui masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dibenahi. Salah satu catatan evaluasi adalah ketersediaan fasilitas toilet bagi jemaah perempuan di Mina yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan.
“Catatan kami ada pada ketersediaan toilet perempuan di Mina yang masih perlu ditingkatkan. Ini menjadi perhatian untuk perbaikan layanan pada penyelenggaraan haji mendatang,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang jemaah asal Lombok, Fitriany Maksum Syafii, mengaku puas dengan pelayanan yang diterimanya selama menjalankan ibadah haji.
“Alhamdulillah pelayanan di Arafah sangat luar biasa. Petugas-petugas juga ramah dan sangat membantu. Meski di Mina toiletnya masih kurang untuk perempuan, secara keseluruhan pelayanan sangat baik dan kami berterima kasih atas layanan haji tahun ini,” tuturnya.
Menurut Fitriany, pelayanan yang diberikan mulai dari kedatangan di bandara, pemondokan, hingga fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina berjalan dengan baik dan membantu jemaah menjalankan ibadah dengan lebih nyaman. (Faqihu Sholih/MCH)











