Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Malas adalah penyakit yang tidak terlihat, tetapi dampaknya mampu melumpuhkan langkah seorang hamba menuju Allah. Ia tidak membuat seseorang berhenti bernapas, tetapi membuat hati berhenti bertumbuh. Perlahan-lahan ia mencuri semangat, mengikis amal, dan memadamkan cahaya keimanan. Itulah gambaran perasaanku saat ini.
Bayangkan, sebenarnya aku bisa membaca Al-Quran. Waktu ada, jiwa sehat, situasi dan kondisi mendukung, tetapi kemudian berkata, “Nanti saja.” Tanpa alasan. Lalu hari berganti hari, mushaf tetap tertutup, sementara hati semakin gersang. Dan tidak membaca Kitab Allah. Sayang sungguh disayang.
Sebenarnya aku bisa mengerjakan shalat sunnah, tetapi selalu terlewat. Habis sholat wajib langsung pergi. Terlihat buru-buru, padahal cuma bergaya atau pura-pura. Mengerjakan yang tertinggal atau memenuhi agenda ke depan. Kesibukan dunia terasa begitu mendesak, sedangkan panggilan menuju keridaan Allah dianggap masih bisa ditunda. Menyesal juga pada akhirnya.
Seharusnya aku bisa menghadiri majelis ilmu dan mengaji, tetapi kaki justru melangkah menjauh. Tubuh pilih rebah – selonjoran. Atau kesibukan lain. Ada seribu alasan untuk tidak datang, padahal satu langkah menuju majelis ilmu dicintai Allah. Dan ada kesedihan di sana.
Sering juga menerima ajakan sedekah. Dan sebenarnya bisa bersedekah, tetapi berlagak lupa. Pura-pura, bahkan berusaha lupa. Padahal harta terus bertambah atau berkurang, sementara kesempatan beramal tidak selalu kembali. Peluang tidak datang dua kali. Sungguh menyesal kemudian. Belakangan.
Rasanya aku bisa mengajak kepada kebaikan, tetapi malu. Sudah malu, jadi tak mau lagi. Takut dianggap sok saleh, takut dinilai menggurui, hingga akhirnya kebenaran dibiarkan berlalu tanpa suara. Tiada bekas dan tanda kebaikan. Bahkan memungkinkan untuk bisa memberikan nasihat, tetapi memilih menolak. Padahal boleh jadi satu kalimat yang tulus menjadi sebab hidayah bagi seseorang, bahkan menjadi amal yang terus mengalir hingga hari kiamat.
Dari hati yang paling dalam, sejujurnya aku bisa berdzikir, dan bercita-cita dzikir yang panjang di malam hari. Terbayang indahnya. Sayang selalu terlewatkan karena capek, siang berat, malam ketiduran. Jari sibuk menggulir layar, pikiran sibuk mengejar dunia, sementara lisan enggan menyebut nama Rabb yang telah memberikan segalanya. Terus sejatinya apa maunya, hei raga yang fana!
Padahal Allah telah mengingatkan bahwa orang-orang beriman sejatinya tidak menunda ketaatan. Selalu memberikan respon dan tindakan di kesempatan pertama. Tetapi kenapa menundanya?
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah kalian dalam mengerjakan kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Allah juga berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)
Rasulullah ﷺ pun mengingatkan agar tidak menunda amal.
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal saleh sebelum datang berbagai fitnah yang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap…” (HR. Muslim)
Bahkan kemalasan termasuk sesuatu yang selalu dimohonkan perlindungan darinya oleh Rasulullah ﷺ. Beliau berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemalasan bukan sekadar kehilangan waktu, kehilangan amal shalih, tetapi kehilangan kesempatan untuk mendekat kepada Allah. Hari yang berlalu tanpa tilawah adalah kesempatan yang hilang. Shalat sunnah yang ditinggalkan adalah pintu cinta Allah yang tertutup. Sedekah yang ditunda mungkin tidak pernah lagi sempat diberikan. Nasihat yang diurungkan bisa jadi membuat seseorang tetap berada dalam kesalahan.
Jangan menunggu semangat datang untuk beribadah. Justru beribadahlah, maka semangat akan mengikuti. Karena iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan serta kelalaian.
Hari ini mungkin kita masih mampu membaca Al-Qur’an. Besok belum tentu mata masih melihat huruf-hurufnya. Hari ini kita masih mampu bersujud. Besok belum tentu lutut masih kuat menopang tubuh. Hari ini kita masih mampu bersedekah. Besok belum tentu harta ataupun kesempatan masih ada.
Maka lawanlah malas dengan satu langkah kecil. Bukalah mushaf walau hanya satu halaman. Kerjakan dua rakaat walau singkat. Bersedekahlah walau sedikit. Berdzikirlah walau beberapa kali. Nasihatilah dengan lembut walau satu kalimat. Sebab Allah tidak menilai besarnya amal semata, tetapi keikhlasan dan kesinambungannya. Amal yang kecil namun dilakukan terus-menerus lebih dicintai daripada amal yang besar tetapi hanya sesekali.
Jangan biarkan kata “nanti” menjadi penghalang menuju surga. Karena sering kali, “nanti” adalah bisikan yang perlahan berubah menjadi “tidak pernah.” Semoga curahan hati ini menjadi pengingat bahwa musuh terbesar dalam perjalanan menuju Allah sering kali bukan ketidaktahuan, melainkan kebiasaan menunda ketaatan. Dari diri sendiri. Alias malas. Cirinya suka berkata nanti.














Tepat. Ajzkh