Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Di antara keindahan paling agung dalam mengenal Allah adalah kesadaran ini: bahwa Allah tidak pernah menganiaya hamba-Nya. Tidak sedikit pun. Tidak pernah. Bahkan yang sering terjadi justru sebaliknya—manusialah yang menganiaya dirinya sendiri. Dan di situlah letak “keren”-nya: meski hamba berkali-kali jatuh dalam kesalahan; menentang, melawan dan membangkang, Allah tetap membuka pintu kembali dengan kasih sayang yang tidak pernah habis.
Allah menegaskan dengan sangat jelas dan lugas:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. Yunus: 44)
Ayat ini seperti cermin yang jujur. Ketika hidup terasa sempit, ketika hati terasa gelap, sering kali kita tergoda untuk menyalahkan takdir. Padahal, jika direnungi lebih dalam, banyak luka itu lahir dari pilihan kita sendiri—dari dosa yang kita ulangi, dari kelalaian yang kita biarkan. Namun hebatnya, Allah tidak membalas kezaliman kita dengan kezaliman. Dia tetap memberi, tetap menjaga, tetap memberi kesempatan.
Inilah keagungan yang tidak dimiliki siapa pun, selain Allah.
Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah ﷺ meriwayatkan bahwa Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)
Perhatikan kalimat ini: Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya sendiri. Padahal Dia Maha Kuasa untuk melakukan apa saja. Namun Dia memilih keadilan, bahkan melampaui itu—Dia memilih rahmat. Ini bukan sekadar kekuasaan, ini adalah keagungan yang penuh kelembutan. Lebih “keren” lagi, ketika manusia kembali dari kezaliman yang ia lakukan, Allah tidak menolaknya. Bahkan, Allah menyambutnya.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini bukan hanya undangan, tetapi pelukan. Ia ditujukan kepada mereka yang “melampaui batas”—yang berkali-kali jatuh, yang merasa terlalu jauh. Namun Allah tidak berkata, “Pergilah.” Justru Allah memanggil mereka dengan penuh kasih: Wahai hamba-Ku…
Rasulullah ﷺ menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah: “Sesungguhnya Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hamba daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan seseorang yang hampir mati karena kehilangan harapan, lalu tiba-tiba mendapatkan kembali apa yang menyelamatkannya. Kegembiraan itu saja sudah luar biasa. Namun Nabi ﷺ mengatakan: kegembiraan Allah atas taubat hamba-Nya lebih besar dari itu. Inilah cinta yang tidak bisa ditandingi oleh apa pun. Cinta di atas cinta. Cinta tanpa syarat.
Para ulama, alim faqih pun menegaskan hal ini. Sang Guru Bijak misalnya, ia berkata bahwa seorang hamba tidak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati kecuali dengan kembali kepada Allah, karena hati manusia diciptakan untuk-Nya. Sementara seorang Alim-Faqih lain menjelaskan bahwa dosa adalah luka, dan taubat adalah obatnya—dan Allah-lah yang menyediakan obat itu dengan penuh kasih.
Maka, menjadi hamba Allah adalah perjalanan yang penuh harapan. Kita mungkin tergelincir, mungkin tersesat, bahkan mungkin melukai diri sendiri dengan dosa. Namun selama pintu taubat masih terbuka, tidak ada yang benar-benar hilang.
Di sinilah letak keindahan itu: Allah tidak pernah menganiaya, tetapi manusia sering menganiaya dirinya sendiri. Namun bahkan setelah itu, Allah tetap berkata, “Kembalilah.”
Bukankah ini luar biasa?
Bukankah ini indah?
Bukankah ini… keren?
Karena kita memiliki Rabb yang tidak hanya Maha Adil, tetapi juga Maha Pengampun. Rabb yang tidak hanya menghitung kesalahan, tetapi juga melipatgandakan ampunan. Rabb yang tidak lelah menerima, meski hamba berkali-kali kembali.
Maka jangan pernah ragu untuk berhenti dari kezaliman terhadap diri sendiri. Jangan pernah malu untuk kembali. Karena setiap langkah menuju Allah bukan hanya diterima—tetapi disambut dengan cinta.
Dan sungguh, tidak ada yang lebih “keren” daripada menjadi hamba dari Dzat Yang tidak pernah menzalimi, namun selalu mengampuni.













