Yogyakarta (25/7). Menghadapi era kecerdasan buatan dan transformasi digital, serta bonus demografi pada 2040, bangsa Indonesia membutuhkan sumberdaya manusia yang tak sekadar memiliki prestasi akademik, namun juga karakter unggul yakni generasi profesional religius.
Pernyataan tersebut ditegaskan Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya saat media gathering menjelang Muswil VIII LDII Daerah Istimewa Yogyakarta, di Resto Makan di Sawah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Sabtu (25/7/2026).
“Sebagai anak bangsa harus mampu memanfaatkan dua momen dalam pembangunan manusia, yaitu bonus demografi dan Indonesia Emas 2045. Saya mengapresiasi tema Muswil VIII LDII DIY, yakni ‘Penguatan SDM Profesional Religius untuk Mewujudkan Ketahanan Lingkungan dan Budaya dalam Mendukung Pancamulia Daerah Istimewa Yogyakarta’. Hal ini sangat relevan dan penting untuk disikapi,” ujar Dody Taufiq Wijaya.
Untuk merealisasikan konsep tersebut, ia mengajak pengurus DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta untuk fokus menyukseskan delapan program pengabdian LDII untuk bangsa, “Mulai dari kebangsaan, dakwah, pendidikan, ekonomi syariah, kesehatan, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, hingga teknologi digital dan energi baru terbarukan,” ujarnya.
Pada sektor pendidikan, ia mengungkapkan LDII telah menandatangani kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk membekali siswa berpengetahuan dan berteknologi, “Pada sektor kesehatan, kami sangat berkonsentrasi mencegah stunting. Kemudian mendukung pemeriksaan kesehatan secara rutin, dan kami bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk pencegahan stunting,” imbuh Dody Taufiq Wijaya.
Terkait pelaksanaan Muswil VIII LDII Daerah Istimewa Yogyakarta, Dody Taufiq Wijaya mengatakan, acara tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan kebangsaan di tengah dinamika global. “Muswil akan berfokus pada penyusunan program strategis lima tahun ke depan,” imbuhnya.
Dody menggarisbawahi pentingnya pembangunan sumberdaya manusia (SDM) berwawasan kebangsaan. Ia mengibaratkan Indonesia sebagai kapal besar yang membutuhkan stabilitas untuk tetap berlayar. “Tanpa wawasan kebangsaan, stabilitas akan terganggu, termasuk dalam aspek ibadah,” tutupnya didampingi Ketua DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta Atus Syahbudin, Sekretaris Gatot Wardoyo dan Ketua Panitia Muswil LDII Daerah Istimewa Yogyakarta Qomarudin.















