Jakarta (7/9). Letusan Anak Gunung Krakatau yang melontarkan abu vulkanik hingga ke wilayah Lampung, Banten, Jabodetabek, dan sebagian Jawa Barat memerlukan kewaspadaan ekstra. Abu vulkanik memiliki karakteristik yang jauh lebih berbahaya dibandingkan debu biasa, karena mengandung partikel silika tajam menyerupai serpihan kaca.
Pernyataan tersebut dilontarkan Ketua DPP LDII sekaligus Ahli Kesehatan Lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman. Ia mengatakan, partikel silika dalam abu vulkanik berpotensi kuat merusak organ tubuh yang terpapar langsung, “Abu vulkanik bisa merusak pada organ tubuh yang terkena, antara lain mata, hidung, maupun mulut, maupun kulit,” ujar Dicky, pada Minggu (6/8/2026).
Epidemiolog yang juga menjabat sebagai Koordinator Bidang Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (Lisdal) DPP LDII itu menerangkan, dampak spesifik pada mata dapat berupa iritasi, konjungtivitis, hingga goresan pada kornea.
Risiko cedera ini bertambah tinggi pada pengguna lensa kontak karena sifat abu yang abrasif. Jika abu mengenai mata, ia mengimbau masyarakat untuk tidak sekali-kali menguceknya, “Jika abu masuk mata bilas mata dengan air bersih atau larutan saline (garam steril) yang mengalir dengan kelopak mata dibuka lebar selama beberapa menit. Jika pakai lensa kontak, segera lepas sebelum atau saat membilas,” tuturnya.
Jika setelah dibilas mata masih mengalami iritasi. Seperti terasa mengganjal, mata mengalami nyeri hebat, penglihatan kabur, atau kemerahan tidak membaik dalam beberapa jam, Dicky menyarankan agar segera memeriksakannya ke fasilitas kesehatan atau dokter mata untuk penanganan lebih lanjut, “Hindari mengucek atau menutup mata rapat-rapat karena dapat mendorong partikel abu semakin dalam,” ungkapnya.
Selain organ mata, paparan silika pada saluran pernapasan dapat menyebabkan iritasi tenggorokan. Dampaknya bisa menyebabkan batuk kering, sesak napas, hingga nyeri dada. Abu vulkanik berisiko memicu perburukan gejala pada kelompok rentan seperti anak di bawah lima tahun, lansia, serta penderita asma dan bronkitis kronis.
“Kelompok rentan disarankan menghindari aktivitas berat saat sirkulasi abu vulkanik di udara sedang tinggi. Karena nafas yang lebih cepat akan menarik partikel halus abu lebih dalam ke paru-paru,” kata epidemiolog itu.
Guna meminimalkan dampak buruk kesehatan, Dicky menyampaikan lima langkah pencegahan utama. Pertama, masyarakat diimbau menutup jendela dan pintu rumah secara rapat serta membatasi aktivitas di luar ruangan.

Kedua, masyarakat wajib mengenakan masker N95 yang menutup hidung dan mulut dengan rapat jika terpaksa keluar rumah. Ketiga, gunakan kacamata pelindung, ”Bagi pekerja luar ruangan seperti nelayan, petani, petugas lalu lintas, dan profesi lapangan lainnya di wilayah terdampak, diimbau menggunakan dua perlengkapan itu,” ujarnya.
Langkah keempat adalah mengenakan pakaian tertutup. Peneliti di Universitas Yarsi itu mengimbau agar masyarakat tidak mengibas-ibaskan pakaian yang terpapar debu vulkanik. Selain itu, membilas pakaian sebelum dibawa masuk ke rumah, serta menghindari penjemuran pakaian di luar ruangan.
Kelima, masyarakat dan para penjual makanan diminta menjaga higiene dengan memastikan seluruh makanan dan minuman selalu tertutup rapat, “Selalu waspada mengikuti berita-berita dari sumber resmi pemerintah dan juga jangan panik. Ketika ada keluhan sesak napas, nyeri dada, ataupun gangguan di mata, segera ke fasilitas kesehatan,” pungkas Dicky.














