Sukoharjo (23/8). Ratusan generasi muda LDII dari Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru mengikuti Camping Cinta Alam Indonesia (CAI) SUSELA 2026. Kegiatan pembinaan generasi muda itu berlangsung di Kompleks Masjid Roudhotul Jannah, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, pada 24–26 Juli 2026.
Ketua Panitia CAI SUSELA 2026 Aris Budi Prasetyo mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pembinaan generasi muda LDII, melalui materi keagamaan dan pengembangan karakter. Menurut dia, peserta perlu mendapatkan bekal yang sesuai dengan tantangan sosial dan perkembangan zaman.
“Kami ingin peserta memiliki karakter yang kuat, mampu beradaptasi, dan tetap memegang nilai luhur. Pembinaan dalam CAI kami arahkan agar mereka memiliki bekal untuk mengambil peran di lingkungan masing-masing,” kata Aris.
Aris mengatakan rangkaian kegiatan tidak hanya berisi penyampaian materi. Peserta mengikuti nasihat keagamaan, materi CAI, kegiatan keakraban, dan Focus Group Discussion atau FGD. Menurut dia, metode diskusi menjadi salah satu pendekatan baru dalam CAI tahun ini.
“FGD membuat peserta tidak hanya mendengarkan materi. Mereka juga berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan belajar mencari solusi atas persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya.
Menurut Aris, FGD juga diarahkan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan komunikasi peserta. Remaja didorong menyampaikan gagasan dengan cara yang terukur dan menghargai pandangan peserta lain.
“Kami ingin mereka berani berbicara sekaligus belajar mendengar. Diskusi seperti ini penting karena generasi muda akan menghadapi persoalan yang semakin beragam. Mereka perlu mampu melihat masalah dari berbagai sisi sebelum mengambil keputusan,” kata Aris.
Aris mengatakan interaksi dalam kegiatan tersebut diharapkan membangun hubungan yang lebih baik di antara generasi muda LDII dari tiga kecamatan.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti pada materi. Peserta perlu membawa pengalaman dari sini ke sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang memiliki pengetahuan, karakter, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian sosial,” ujarnya.
Pembina LDII Kecamatan Weru, Sugito mengatakan penguatan karakter menjadi bagian penting dalam pembinaan generasi muda LDII. Ia menyebut terdapat tiga fokus utama dalam pembinaan tersebut, yakni memperkuat daya juang generasi penerus, menanamkan 29 karakter luhur.
“Karakter perlu ditanamkan melalui pemahaman dan praktik. Anak-anak muda perlu mendapatkan pembinaan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Sugito.
Sugito mengatakan pendekatan FGD dipilih agar peserta menjadi bagian aktif dalam proses pembelajaran. Menurut dia, diskusi kelompok memberi ruang bagi remaja untuk membahas persoalan yang muncul di lingkungan mereka.
“Kami ingin peserta menjadi subjek dalam pembelajaran. Mereka ikut mengidentifikasi persoalan, menyampaikan pendapat, lalu mencari solusi bersama. Cara seperti ini melatih tanggung jawab dan kepemimpinan,” katanya.














