Kediri (25/10). Keterampilan menjahit membantu remaja putri PAC LDII Bangkok memperbaiki pakaian rusak ringan, mengurangi pemborosan, dan menghemat pengeluaran rumah tangga. Bekal praktis ini diberikan melalui kegiatan Kemandirian Keputrian di Aula Masjid Al-Mubarak, Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Jumat (16/10/2026).
Melalui praktik menjahit, peserta belajar memperbaiki pakaian rusak ringan agar kembali layak digunakan. Keterampilan tersebut diharapkan membantu mereka mengurangi pembelian pakaian baru dan memanfaatkan barang yang masih bisa diperbaiki. Kegiatan yang digagas pengurus LDII di Dusun Mangurejo ini dipandu Rira, yang juga mengelola usaha pakaian.
Dalam pelatihan ini Rira membimbing peserta mempraktikkan teknik dasar menjahit. “Banyak pakaian yang sebenarnya masih bisa dipakai, hanya karena jahitannya lepas atau ada kerusakan kecil langsung disimpan di lemari,” ujar Rira.
Selain mengajarkan keterampilan praktis, kegiatan ini mengenalkan konsep re-wear, yaitu menggunakan kembali pakaian setelah diperbaiki. Menurut Rira, kebiasaan tersebut dapat mengasah kreativitas, mengurangi pemborosan, dan mendorong peserta memanfaatkan barang secara bijak. “Dengan keterampilan dasar menjahit, kita bisa perbaiki sendiri dan pakaian itu bisa digunakan kembali seperti semula,” tambahnya.
Rira menambahkan bahwa keterampilan jahit dasar menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan yang mandiri dan bijak. “Selain melatih kreativitas, menjahit juga mengajarkan kita untuk tidak boros. Daripada beli baru, lebih baik perbaiki yang sudah ada,” katanya.
Salah seorang pengurus PAC LDII Kelurahan Bangkok, Evi Rakhmawati, mengatakan keterampilan menjahit dapat menjadi bekal praktis bagi generus putri. Kemampuan tersebut juga berpotensi membantu mereka mengelola kebutuhan rumah tangga ketika kelak berkeluarga.
“Perempuan yang bisa menjahit bukan berarti kuno. Justru itu perempuan yang cerdas secara finansial,” ujar Evi. Ia menilai memperbaiki pakaian sendiri dapat menjadi pilihan untuk menghemat biaya membeli pakaian baru atau membayar jasa perbaikan.
Evi berharap kegiatan ini mendorong generus putri mengembangkan kemandirian melalui keterampilan sederhana yang berguna sehari-hari. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan lebih percaya diri memenuhi kebutuhan praktis tanpa selalu bergantung pada orang lain.













