Padang (26/10). Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Padang Yasril menghadiri peringatan Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda naungan LDII. Acara pada Sabtu (24/10/2026) tersebut diisi pembekalan mengenai keimanan, akhlak, dan keterampilan santri.
Kemenag Kota Padang, Yasril menekankan, keimanan santri harus diwujudkan dalam hubungan dengan teman, guru, dan orang tua. Ia juga mengingatkan pentingnya akhlak dalam pendidikan pesantren.
“Akhlak itu lebih tinggi ketimbang ilmu. Selain itu kita perlu membekali para santri dengan keterampilan ekonomi untuk menunjang kebutuhan keluarga, masyarakat, dan pesantren. Caranya dengan membekali dengan keahlian tertentu,”sebutnya.
Ia juga mengajak alumni menjaga persatuan dan mendukung pengembangan pesantren. “Para alumni ponpes harus bersatu untuk memajukan pesantren di masa yang akan datang,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Ketua Ponpes Miftahul Huda KH Muhammad Sodiqin, menekankan pentingnya pembinaan santri melalui Tri Sukses Generus, yakni alim-fakih, berakhlakul karimah, dan mandiri. “Santri perlu memahami ilmu agama, memiliki akhlak yang baik, dan mampu hidup mandiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembentukan karakter membutuhkan keteladanan pengajar dan pembiasaan yang konsisten. Pembinaan tersebut mencakup kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kerukunan. “Ilmu agama harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk menghormati para guru dan orang tua,” katanya.
Sodiqin yang juga merupakan Dewan Penasihat LDII Kota Padang menekankan perlunya keterampilan hidup dan penguasaan teknologi. “Santri perlu dibekali keterampilan agar mampu bekerja, berwirausaha, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPD LDII Kota Padang Yulianto Nugroho menjelaskan, ada empat indikator moderasi beragama menurut Kementerian Agama, meliputi komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan sikap akomodatif terhadap budaya lokal. “Menghargai perbedaan pendapat, keyakinan, dan cara pandang orang lain tanpa memaksakan kehendak adalah wujud moderasi beragama di Indonesia,” jelasnya.
Yulianto juga menekankan pentingnya kesetiaan pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia mengajak masyarakat menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan. “Kami warga LDII dan warga Ponpes Miftahul Huda menolak segala bentuk tindakan kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dalam menyelesaikan masalah atau menyebarkan ajaran agama,” katanya.
Ia turut menyampaikan komitmen untuk mewujudkan pesantren ramah anak guna membentuk generasi yang alim-fakih, berakhlak mulia, dan mandiri. (Berliana)














