Kendari (7/11). DPW LDII Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 7–8 November 2026. Kegiatan ini diikuti 51 peserta yang merupakan perwakilan pengurus DPD LDII kabupaten dan kota se-Sulawesi Tenggara.
Seremoni pembukaan acara tersebut dihelat di kantor Badan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), “Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya LDII meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam bidang jurnalistik, komunikasi publik, dan pengelolaan informasi di tengah perkembangan teknologi digital,” kata Ketua Panitia Hamzah Tarumustam.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi informasi (TI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pers. Insan pers tidak lagi hanya dituntut menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga harus memastikan setiap informasi yang dipublikasikan akurat, independen, dan bertanggung jawab.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang diskusi, pertukaran wawasan, sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik para peserta,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan ini memberikan materi fundamental jurnalistik, mulai dari etika, teori penulisan, hingga pemahaman dasar dalam menghasilkan produk jurnalistik. Penyelenggaraan kegiatan juga mendapat dukungan dari Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sulawesi Tenggara.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Sultra, La Ode Mane Mbeu menegaskan bahwa pendidikan jurnalistik tidak boleh sekadar dimaknai sebagai proses belajar menyampaikan informasi kepada orang lain.
Lebih dari itu, pelatihan jurnalistik harus menjadi wadah untuk menempa karakter peserta agar tumbuh menjadi insan yang memiliki integritas, tanggung jawab, wawasan luas, serta menjadikan etika sebagai pedoman dalam menjalankan aktivitas jurnalistik.
Ia mengajak peserta menerapkan empat prinsip pengembangan diri yang dikemukakan pakar kepemimpinan John C. Maxwell, yakni belajar (to learn), melakukan perubahan (to change), bertumbuh (to grow), dan mereformasi diri (to reform).
“Belajar berarti terus membelajarkan diri untuk meningkatkan literasi dan memperluas wawasan. Kemudian melakukan perubahan, bertumbuh dari perubahan tersebut, serta mereformasi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik,” jelasnya.
Menurut La Ode Mane Mbeu, perubahan merupakan sebuah keniscayaan, tetapi bertumbuh merupakan pilihan. Karena itu, peserta harus memiliki kesungguhan untuk terus mengembangkan kemampuan dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Ia juga mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam menghadapi derasnya arus informasi di era disrupsi. Tidak semua informasi yang diterima dapat langsung dipercaya, apalagi disebarluaskan.
“Semua informasi boleh kita terima, tetapi tidak semuanya harus diyakini. Perlu dicek dan dikonfirmasi terlebih dahulu. Ukuran keberhasilan pelatihan ini bukan hanya apa yang didapatkan peserta, tetapi bagaimana pengetahuan itu didistribusikan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ungkapnya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sulawesi Tenggara, Andi Syahrir, yang membuka kegiatan tersebut mengatakan, demokrasi membutuhkan peran media massa sebagai salah satu pilar penting dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pelatihan jurnalistik merupakan kawah candradimuka untuk menempa generasi muda agar memiliki kemampuan dan karakter sebagai insan pers yang profesional.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi telah berulang kali mengubah lanskap industri media. Kehadiran mesin, internet, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi dunia jurnalistik.
“Ketika mesin hadir, banyak pekerjaan berubah, tetapi muncul pekerjaan-pekerjaan baru. Begitu pula ketika internet berkembang. Sekarang AI juga membawa disrupsi bagi wartawan,” ujarnya.

Andi Syahrir menilai AI dapat membantu pekerjaan jurnalistik, termasuk mengolah data dan menghasilkan tulisan. Namun, teknologi tersebut tidak memiliki hati dan perasaan sebagaimana manusia.
Karena itu, menurutnya, jurnalis tetap memiliki peran penting dalam memastikan informasi yang dihasilkan memiliki kebenaran, nilai kemanusiaan, dan manfaat bagi masyarakat.
Ia mengingatkan tiga prinsip dalam menyebarluaskan informasi. Pertama, memastikan informasi benar atau salah. Kedua, mempertimbangkan apakah informasi tersebut baik atau tidak. Ketiga, menilai apakah informasi yang disampaikan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kalau tidak benar, jangan dibagikan. Kalau tidak baik, jangan disebarkan. Dan yang terakhir, apakah informasi tersebut bermanfaat jika dibagikan kepada publik,” tegasnya.
Selain itu, ia mengajak peserta memahami perubahan perilaku audiens di era digital. Saat ini, konten tidak lagi terbatas pada tulisan, tetapi juga mencakup video pendek, gambar, hingga berbagai bentuk hiburan digital.
Perhatian audiens di media sosial juga semakin singkat. Karena itu, jurnalis perlu memahami karakteristik pembaca dan mengemas informasi secara menarik, ringkas, serta sesuai dengan kebutuhan masing-masing segmen audiens.
“Pertarungan kita sekarang adalah bagaimana mengenali audiens. Mereka sangat tersegmentasi. Karena itu, jangan lagi hanya menggunakan konsep lama dalam memproduksi dan menyampaikan informasi,” tambahnya.
Melalui pelatihan ini, LDII Sulawesi Tenggara berharap lahir generasi muda yang kapabel di bidang jurnalistik, mampu mengelola informasi secara profesional, serta memiliki integritas dan tanggung jawab dalam bermedia.
Etika jurnalistik diharapkan menjadi kompas moral bagi setiap peserta agar perkembangan teknologi dan kecepatan distribusi informasi tetap berjalan seiring dengan prinsip kebenaran, independensi, dan kemanfaatan bagi masyarakat.















