Sleman (18/9). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendukung Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Sleman, dalam verifikasi lapangan Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari. Verifikasi dilaksanakan pada Kamis (20/8/2026), yang diikuti para pengurus DPWW LDII DIY, sekaligus untuk memastikan pendampingan lingkungan di Sangurejo terus berjalan.
Sekretaris DPW LDII DIY Gathot Wardodyo hadir dalam verifikasi tersebut. Ia mengatakan LDII ikut mendampingi pengembangan program lingkungan di Sangurejo sejak awal, “Alhamdulillah kami turut bangga karena ProKlim Sangurejo akan meningkat menjadi ProKlim Lestari. Sejak awal DPW ikut berperan dalam program ini,” kata Gathot.
Menurut Gathot, program lingkungan di Sangurejo sejalan dengan delapan bidang pengabdian LDII. Salah satunya mencakup ketahanan lingkungan dan ketahanan pangan.
“Program ini sejalan dengan bidang pengabdian LDII. Kami berharap wilayah binaan lainnya dapat mengikuti langkah Sangurejo dalam mengelola lingkungan,” ujarnya.
Gathot mengatakan pendampingan tidak berhenti pada proses verifikasi. LDII DIY akan tetap terlibat dalam pengembangan program lingkungan di Sangurejo. “LDII tetap akan mendampingi. Kami memiliki sumber daya yang dapat mendukung pengembangan program lingkungan di Sangurejo,” kata Gathot.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa turut hadir dalam verifikasi lapangan. Ia menyebut perubahan Sangurejo berlangsung melalui keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.
Danang mengatakan Sangurejo dahulu dikenal dengan sebutan “Si Kumis”. Istilah tersebut merujuk pada kondisi kampung yang kumuh dan miskin. “Dulu Sangurejo dikenal sebagai Si Kumis, kumuh dan miskin. Warga kemudian bergerak mengubah kondisi tersebut. Kini Sangurejo menjadi salah satu wilayah yang aktif dalam pelestarian lingkungan,” ujar Danang.
Perubahan kawasan tersebut juga berkaitan dengan kegiatan ekonomi warga. Danang menyebut keberadaan embung, komunitas, UMKM, dan pengembangan produk ecoprint ikut berkembang bersama program lingkungan.

“Lingkungan ikut memengaruhi ekosistem ekonomi. Saat akhir pekan banyak orang berolahraga di sini dan aktivitas UMKM ikut tumbuh,” katanya.
Danang mengatakan keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan masyarakat. Pemerintah tidak dapat menjalankan program lingkungan tanpa dukungan warga.
“Program tidak boleh berhenti setelah bantuan pemerintah selesai. Konsistensi warga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan,” ujarnya.
Panewu Turi Joko Susilo mengatakan gerakan lingkungan di Sangurejo bermula pada 2014. Warga mulai membangun kesadaran untuk memperbaiki hubungan antara masyarakat dan lingkungan. “Mulai 2014 warga bangkit dan memperkuat pemahaman,” pungkasnya.

