Kudus (18/9). DPD LDII Kabupaten Kudus menggelar Pengajian Sarimbit (Suami-istri) di Aula GSG Syaifudin Zuhri, Kompleks PP Baitul Qudus, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Minggu, (13/9/2026). Sebanyak 124 pasangan suami istri mengikuti pengajian bertema “Keluarga Bahagia Bersama Meraih Surga” tersebut.
Pengajian menghadirkan Pengasuh Ponpes Budi Utomo, Surakarta, KH Thoyibun sebagai pemateri utama. Ia membahas fondasi keluarga sakinah melalui iman, akhlak, dan hubungan yang sehat antara suami dan istri.
Thoyibun menyampaikan empat kunci dalam membangun rumah tangga. Empat hal tersebut meliputi kejujuran, kerja sama, komunikasi intens, dan saling menghargai, “Suami dan istri perlu terbuka dalam menyampaikan keadaan dan perasaan. Keterbukaan menjadi dasar untuk membangun kepercayaan dalam keluarga,” kata Thoyibun.
Menurut dia, kerja sama juga diperlukan dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Suami dan istri dapat berbagi peran dalam mengurus keluarga, mendidik anak, serta memenuhi kebutuhan keluarga.
“Rumah tangga seperti sebuah tim. Beban keluarga tidak hanya dipikul satu pihak. Suami dan istri perlu saling membantu sesuai peran masing-masing,” ujarnya.
Thoyibun juga mengingatkan pasangan agar menjaga komunikasi. Dialog dan kebiasaan mendengarkan pasangan dapat membantu mencegah kesalahpahaman, “Komunikasi jangan berhenti. Sampaikan pendapat dengan santun dan beri ruang kepada pasangan untuk menyampaikan keluh kesah,” kata dia.
Kunci keempat ialah saling menghargai. Pasangan perlu menghargai peran, pendapat, dan kekurangan masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Ketua DPD LDII Kabupaten Kudus Muhammad As’ad mengatakan Pengajian Sarimbit menjadi bagian dari pembinaan keluarga warga LDII. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat akhlak dalam keluarga.
“Kami ingin pembinaan keluarga terus berjalan. Keluarga perlu menjadi tempat membangun akhlak dan menyiapkan generasi penerus,” ujar As’ad.
Ia mengatakan pembinaan pasangan suami istri memiliki kaitan dengan pendidikan anak dalam keluarga. Orang tua menjadi bagian penting dalam membentuk kebiasaan dan karakter anak di rumah.
“Keteladanan orang tua dimulai dari kehidupan sehari-hari. Cara suami dan istri berkomunikasi juga menjadi bagian dari pendidikan bagi anak,” katanya.














