Jakarta (29/10). Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar “SMILE: Learning and Shaping the Future – Pembelajaran dan Masa Depan Anak Muda untuk Keadilan Iklim. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, tersebut dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni.
Pada kesempatan tersebut Syafiq A. Mughni mengatakan, upaya mewujudkan keadilan iklim membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan dan generasi muda, “Manusia tidak hanya memiliki tanggung jawab sebagai hamba Allah, tetapi juga sebagai khalifah yang bertugas menjaga bumi,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagai khalifatullah, tugas manusia adalah menjaga bumi dan membangun kehidupan yang damai, yang adil, dan dunia yang sejahtera, “Persoalan lingkungan tidak dapat dibebankan hanya kepada organisasi, kelompok agama, maupun negara tertentu. Karena itu, kolaborasi lintas agama, lembaga, komunitas, hingga masyarakat luas diperlukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim,” paparnya.
Pengurus Departemen Pengabdian Masyarakat DPP LDII Agus Tarmudji yang hadir dalam acara tersebut, mengapresiasi langkah PP Muhammadiyah dalam pelestarian lingkungan.
Agus menilai, kegiatan itu memberikan pembelajaran penting mengenai lingkungan sekaligus masa depan generasi muda. “Alhamdulillah, hari ini kami (LDII) diundang untuk acara pembelajaran dan masa depan anak muda untuk keadilan iklim. Bagus sekali acaranya,” ujarnya.
Ia mengatakan, warga LDII sebagaimana ormas Islam lainnya memiliki perhatian besar terhadap pelestarian lingkungan, melalui pendekatan ekoteologi. Sejumlah telah kegiatan dilakukan, mulai dari pemanfaatan lahan untuk penghijauan (LDII Go Green), gerakan biopori, hingga pengembangan konsep masjid hijau. “Termasuk juga gerakan masjid hijau yang sudah kami laksanakan. Masjid-masjid yang memang lahannya terbatas, tetapi kami bisa memanfaatkan dengan baik,” tambahnya.
Menurutnya, gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan. Ia menilai masjid dan komunitas dapat menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan kebiasaan ramah lingkungan.
Ia secara khusus mendorong generasi muda agar lebih aktif menjaga lingkungan. Menurutnya, perubahan iklim semakin nyata dirasakan sehingga anak muda perlu memiliki kepedulian terhadap bumi sejak sekarang.
“Anak muda ini harus lebih peduli terhadap iklim, terhadap bumi, menjaga bumi, jangan buang sampah sembarangan, mulai memilah sampah, lalu juga peduli terhadap air, serta jangan boros terhadap air,” ujarnya.
Ia menilai, kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan memilah sampah, menghemat air, menjaga kebersihan, dan memanfaatkan lingkungan secara bijak dinilai dapat menjadi kontribusi nyata masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.















