Klaten (9/9). DPD LDII Kabupaten Klaten menggandeng Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk melatih 390 dai dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Kegiatan tersebut dihelat pada 22-23 Agustus 2026, di kantor DPD LDII Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Pelatihan Dai Tingkat Jawa Tengah 2026 itu berlangsung secara luring di Kantor DPD LDII Kabupaten Klaten dan secara daring melalui kantor DPD LDII kabupaten dan kota se-Jawa Tengah. Sebanyak 40 peserta mengikuti pelatihan secara langsung. Sekitar 350 peserta lainnya mengikuti kegiatan melalui jaringan daring.
Pelatihan mengusung tema “Mewujudkan Dai Profesional, Adaptif, dan Berwawasan Kebangsaan di Era Digital untuk Membangun Umat yang Moderat, Rukun, dan Harmonis”. Kegiatan tersebut menghadirkan unsur pemerintah, akademisi, kepolisian, serta pengurus LDII.
Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Singgih Tri Sulistiyono mengatakan pelatihan dai menjadi bagian dari peningkatan kompetensi pendakwah. Ia mendorong peserta mengembangkan kemampuan dakwah dengan mengikuti perkembangan teknologi dan tetap memiliki wawasan kebangsaan.
“Dengan adanya pelatihan dan sertifikat pengakuan kompetensi dari UIN Sunan Kalijaga, kami berharap para dai semakin siap memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Singgih.
Singgih juga berharap kompetensi peserta dapat mendukung kerja sama dengan Kementerian Agama. Para dai dapat berkontribusi dalam penyuluhan agama sesuai kapasitas dan kompetensinya.

Kaur Bin Ops Binmas Polresta Klaten Sartono mengatakan pelatihan dai dapat memperkuat kapasitas keagamaan sekaligus peran dai di tengah masyarakat. Menurut dia, penyampaian pesan agama yang baik dapat membantu menjaga kerukunan dan ketertiban lingkungan.
“Semakin banyak orang yang berbuat baik dan mengajak kepada kebaikan, tentu akan semakin kuat pula lingkungan masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan,” kata Sartono.
Ketua DPD LDII Kabupaten Klaten Muhammad Sigit Winoto mengatakan pelatihan tersebut menyiapkan dai dengan kemampuan agama, komunikasi, dan literasi digital. Perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah memperoleh dan menyebarkan informasi.
“Di era digital, tantangan dakwah semakin kompleks. Karena itu, dai harus mampu memanfaatkan teknologi dan media digital untuk menyampaikan pesan keagamaan yang santun, mencerahkan, dan mencerdaskan masyarakat,” ujar Sigit.















