Kudus (22/5). DPD LDII Kabupaten Kudus mengajak masyarakat memperkuat akhlak dan budaya ilmu dalam momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026. Ajakan tersebut disampaikan sebagai upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia di tengah perkembangan teknologi dan tantangan sosial yang terus berubah.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei dinilai menjadi momen penting untuk merefleksikan arah pembangunan bangsa. Tema tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, dipandang memiliki makna strategis dalam mendorong pembinaan generasi muda agar memiliki karakter, wawasan, dan kepedulian terhadap kehidupan berbangsa.
Ketua DPD LDII Kabupaten Kudus, Muhammad Asad, mengatakan pembangunan bangsa memerlukan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan pembinaan karakter. Menurutnya, perkembangan teknologi yang pesat harus diiringi kemampuan masyarakat dalam menjaga etika, persatuan, dan tanggung jawab sosial.
“Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat penting agar masyarakat tidak hanya mengejar kemajuan intelektual, tetapi juga memperkuat akhlak dan kepedulian sosial. Bangsa yang maju memerlukan generasi yang berilmu sekaligus memiliki karakter baik,” ujar Asad.
Ia menambahkan tantangan masyarakat modern saat ini semakin kompleks, terutama dengan derasnya arus informasi di media digital. Penyebaran hoaks, menurunnya etika dalam bermedia sosial, hingga melemahnya budaya literasi menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama. Menurutnya, budaya belajar harus terus diperkuat, agar masyarakat mampu memilah informasi secara bijak. Sekaligus tidak mudah terpengaruh hal-hal yang dapat memecah persatuan.
“Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga membutuhkan kedewasaan dalam menyikapi informasi. Karena itu budaya ilmu dan pembinaan akhlak harus berjalan beriringan,” katanya.
Ketua Bagian Pendidikan Umum dan Pelatihan DPD LDII Kudus, Suwargi, mengatakan tema Hari Kebangkitan Nasional tahun ini mengandung pesan penting mengenai kualitas manusia sebagai penentu masa depan bangsa. Ia menilai pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga harus membentuk karakter yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Pembinaan akhlak dan budaya belajar perlu dilakukan secara konsisten mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, hingga masyarakat. Dengan begitu generasi muda memiliki kesiapan menghadapi tantangan zaman sekaligus menjaga persatuan bangsa,” ujar Suwargi.
Sementara itu, Pengajar Ponpes Baitul Qudus, Ust Anas Sugianto mengatakan, ukuran kemajuan bangsa tidak hanya dilihat dari perkembangan teknologi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga kualitas moral masyarakatnya. Ia menilai ilmu yang dimiliki seseorang seharusnya melahirkan manfaat bagi lingkungan sekitar dan memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
“Ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah manfaatnya. Sebaliknya, akhlak tanpa ilmu membuat masyarakat sulit berkembang menghadapi perubahan zaman. Karena itu keduanya harus saling menguatkan,” kata Anas. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga rendah hati, etika, dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.












