Kudus (22/10). Saat memasuki usia sekolah, anak mengalami perubahan pertumbuhan fisik dan kemampuan belajar. Orang tua dan guru perlu mengenali tanda gangguan tumbuh kembang sejak dini agar anak mendapat pendampingan sesuai kebutuhannya.
Ketua DPD LDII Kudus, Muhammad Asad, mengatakan pemantauan tumbuh kembang anak perlu menjadi perhatian bersama keluarga dan sekolah. Perubahan berat badan, tinggi badan, kemampuan berkonsentrasi, hingga keterampilan membaca dan berhitung dapat menjadi petunjuk penting dalam memahami kebutuhan anak.
“Setiap anak memiliki pola perkembangan yang berbeda. Orang tua dan guru perlu mengamati perubahan anak secara berkala, baik dari sisi fisik maupun kemampuan belajar. Jika muncul hambatan yang berulang, jangan langsung memberi label malas atau kurang mampu. Cari tahu penyebabnya dan berikan pendampingan yang sesuai,” ujar Asad.
Pertumbuhan fisik dapat dipantau melalui berat badan, tinggi badan, lingkar kepala sesuai usia, dan status gizi. Hambatan pertumbuhan dapat terlihat dari tinggi badan yang sulit bertambah atau berat badan yang tidak naik sesuai pola perkembangan. Sebaliknya, kenaikan berat badan berlebih juga perlu mendapat perhatian.
“Kecukupan nutrisi, aktivitas fisik, waktu tidur, faktor keturunan, dan kondisi kesehatan turut memengaruhi pertumbuhan anak. Orangtua dapat membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi makanan dan minuman tinggi gula atau rendah zat gizi, mendorong aktivitas fisik, serta menjaga waktu tidur sesuai usia,” tutur Asad.
Selain pertumbuhan fisik, usia sekolah menjadi masa penting untuk mengenali kesulitan belajar. Anak dengan kecerdasan normal atau tinggi tetap dapat mengalami hambatan pada kemampuan tertentu. Kesulitan tersebut dapat berupa sulit mempertahankan perhatian, sering lupa, atau kesulitan membaca, menulis, dan berhitung.
“Dalam dunia pendidikan, kesulitan membaca dikenal sebagai disleksia, kesulitan berhitung disebut diskalkulia, sedangkan hambatan menulis dapat berkaitan dengan disgrafia. Sebagian anak juga mengalami kesulitan koordinasi gerak yang dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan koordinasi atau dispraksia,” lanjutnya.
Ia menambahkan, kemampuan berkonsentrasi anak juga berkembang seiring pertambahan usia. Salah satu perkiraan sederhana yang kerap digunakan adalah rentang fokus sekitar dua hingga tiga menit dikalikan usia anak.
“Dengan perkiraan ini, anak berusia lima tahun dapat memiliki rentang perhatian sekitar 10–15 menit. Angka tersebut bukan patokan diagnosis karena kemampuan setiap anak berbeda dan dipengaruhi jenis kegiatan, kondisi fisik, serta lingkungan belajar,” tambahnya.
Orangtua dan guru perlu mengamati pola kesulitan yang muncul. Anak yang berulang kali kesulitan mengikuti instruksi, mengingat materi, atau menyelesaikan tugas perlu mendapat perhatian lebih lanjut. “Pengamatan juga perlu membedakan hambatan pada banyak aspek perkembangan dengan kesulitan yang hanya muncul pada kemampuan tertentu,” imbuhnya.
Asad menilai komunikasi antara keluarga dan sekolah menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Guru dapat menyampaikan hasil pengamatan selama pembelajaran, sedangkan orang tua memberikan informasi mengenai kebiasaan anak di rumah. Catatan dari kedua lingkungan itu membantu menentukan bentuk pendampingan yang dibutuhkan.
“Anak perlu mendapat ruang belajar yang nyaman, teratur, dan sesuai dengan kemampuannya. Orang tua dan guru sebaiknya memberikan arahan secara bertahap, mengurangi gangguan saat belajar, serta menghargai proses yang dijalani anak. Jika kesulitan terus berulang, konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu menemukan langkah penanganan yang tepat,” katanya.
Pengenalan sejak dini membantu anak memperoleh pemeriksaan dan penanganan sesuai kebutuhannya. “Dengan dukungan keluarga, guru, dan tenaga profesional, anak memiliki kesempatan lebih baik untuk mengembangkan kemampuan belajar serta mencapai tahap pertumbuhan secara optimal,” pungkasnya.















