Sleman (2/9). Yayasan Insan Prima di bawah naungan DPD LDII Kabupaten Sleman menggelar Cinta Alam Indonesia kolaborasi dengan Insan Prima Leadership 2026 (CAI x IPL 2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kaderisasi dan pembinaan generasi penerus LDII.
Pelaksanaan CAI dibagi dalam dua gelombang, yang pertama berlangsung di Masjid Al Andar pada 31 Juli–2 Agustus 2026 dan kedua di Wisma Sanata Dharma Pentingsari pada 8–9 Agustus 2026.
Ketua Panitia CAI x IPL 2026 Ihsan Rosyid Wicaksono mengatakan, kegiatan tersebut memadukan pembinaan spiritual dengan pengembangan kapasitas kepemimpinan generasi muda. Menurut dia, kemampuan belajar dan berdakwah perlu diikuti dengan pengamalan dan evaluasi diri.
“Semangat belajar perlu dibarengi dengan pengamalan. Kemampuan berdakwah juga perlu diikuti introspeksi diri. Kami ingin peserta tidak berhenti pada pemahaman, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan,” kata Ihsan.
Ihsan mengatakan kolaborasi CAI dan IPL dirancang untuk memperluas materi pembinaan generasi penerus. CAI selama ini menjadi ruang pembinaan spiritual dan kecintaan terhadap alam. IPL memberikan penekanan pada kepemimpinan serta kemampuan mengelola persoalan. “Kami menggabungkan dua pendekatan agar peserta mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap. Mereka belajar tentang nilai agama, karakter, kepemimpinan, kerja sama, dan cara mengambil keputusan,” ujarnya.
Ketua DPD LDII Kabupaten Sleman Suwarjo mengatakan kaderisasi generasi muda perlu dilakukan melalui pembinaan yang menyentuh kemampuan pribadi sekaligus kehidupan sosial. Menurut dia, kegiatan seperti CAI x IPL memberi ruang bagi generasi penerus untuk belajar menghadapi persoalan secara langsung.
“Generasi muda perlu memiliki bekal agama, karakter, dan kemampuan memimpin. Mereka juga harus mampu bekerja sama dengan orang lain dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab,” kata Suwarjo.
Suwarjo mengatakan penguatan karakter menjadi bagian penting dalam pembinaan generasi penerus LDII. Ia mengapresiasi penggunaan diskusi dan kegiatan lapangan sebagai metode pembelajaran.
“Pembinaan tidak cukup hanya melalui penyampaian materi. Peserta perlu diberi ruang untuk berdiskusi, memecahkan masalah, bekerja dalam tim, dan mempraktikkan nilai karakter luhur. Dari proses itu akan terlihat kemampuan mereka dalam menghadapi persoalan,” ujarnya.













