Bandung (4/7). DPD LDII Kabupaten Bandung menggelar Seminar Interaktif Sakinah Journey bertajuk “Aku dan Kamu Adalah Kita”. Kegiatan tersebut diikuti pasangan suami istri dengan usia pernikahan di bawah 15 tahun.
Kegiatan tersebut merupakan upaya LDII membina keluarga agar tercipta rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Seminar yang digelar di Aula Baitul Manshurin, pada Minggu (28/6/2026) tersebut menghadirkan trainer parenting sekaligus pemerhati keluarga, Fauzi Nugraha atau yang akrab disapa Ayah Abatasa.
Dengan pendekatan yang interaktif, peserta diajak memahami pentingnya komunikasi yang sehat, saling menghargai, serta membangun kedekatan emosional dalam menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga. Dalam pemaparannya, Fauzi berbagi pengalaman sekaligus mengajak peserta memahami cara membangun hubungan yang lebih harmonis bersama pasangan. “Alhamdulillah bisa berbagi dan belajar bersama dengan ayah bunda di Bandung Timur. Luar biasa, semuanya antusias, semangat, dan mampu mengekspresikan satu sama lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hubungan yang harmonis antara suami dan istri menjadi pondasi utama dalam membangun keluarga yang sehat. Menurutnya, keharmonisan tersebut akan memberikan dampak positif terhadap tumbuh kembang anak.
“Semoga apa yang dirasakan hari ini bisa dibawa pulang ke rumah masing-masing. Suami istri semakin romantis, sehingga anak-anak tumbuh lebih rukun, kompak, mudah diarahkan, serta menjadi generasi yang saleh dan salehah,” tuturnya.
Fauzi juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan durasi yang lebih panjang agar materi pembinaan keluarga dapat disampaikan secara lebih mendalam.
“Mudah-mudahan di lain kesempatan kita bisa belajar bersama lagi, mungkin dengan suasana alam yang lebih nyaman. Semoga ayah bunda semakin sakinah, mawadah, warahmah, dan keluarga senantiasa diberi keberkahan hingga akhir hayat,” katanya.
Melalui Seminar Sakinah Journey, LDII Kabupaten Bandung berupaya memperkuat pembinaan keluarga, khususnya bagi pasangan muda. Dengan bekal komunikasi yang baik, kemampuan menyelesaikan perbedaan secara bijaksana, serta saling menguatkan dalam kehidupan rumah tangga, diharapkan lahir keluarga yang harmonis sebagai fondasi terbentuknya generasi profesional religius yang berakhlakul karimah.












