Surakarta (5/11). DPD LDII Surakarta menggelar talkshow Generus Surakarta Bertoleransi #2. Kegiatan tersebut mengajak pemuda membangun toleransi dan keharmonisan di tengah keberagaman.
Acara yang diselenggarakan pada Rabu, (28/10/2026), di Pendhapi Gedhe Balai Kota Surakarta itu, merupakan kolaborasi Pemkot Surakarta, Kemenag, FKUB, dan pemuda LDII. Acara tersebut juga melibatkan tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat.
Ketua DPD LDII Kota Surakarta, Muhammad Zain, menjelaskan acara tersebut merupakan komitmen LDII untuk mendorong generasi muda menjadi pelopor toleransi di Kota Surakarta, serta meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya menjaga toleransi antar umat beragama.
Lebih lanjut, Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengingatkan sikap toleran penting dalam komunikasi sehari-hari atau saat bermedia sosial. “Generasi muda diharapkan lebih bijak dalam berbicara, membuat konten, dan membagikan informasi agar ruang digital dapat mempererat persaudaraan, bukan justru memicu perpecahan,” ujar Astrid.
Ahmad Ulin Nur Hafsun, Kepala Kementerian Agama Kota Surakarta, juga menambahkan, generasi penerus perlu komitmen kebangsaan yang kuat, menolak kekerasan dan perundungan, serta menghormati perbedaan.
Senada dengan Ahmad Ulin, Ketua FKUB Surakarta, Muhammad Mashuri, mengingatkan agar perbedaan tidak diseragamkan, justru perlu keberagaman agar lebih bermakna. “Sing bedo ojo dipadak-padak, sing podo ojo dibedak-bedake yang bermakna sesuatu yang berbeda tidak perlu dipaksakan menjadi sama, sedangkan sesuatu yang sama tidak seharusnya dibeda-bedakan,” kata dia.
Ketua Badan Antar Gereja Kristen Surakarta (BAGKS), Pendeta Djonedi Ginting, turut menambahkan generasi muda juga perlu berempati dan menjaga boundary dengan hubungan antar sesama. Pentingnya memperlakukan orang lain sebagaimana seseorang ingin diperlakukan. Sehingga, karakter luhur diterapkan dengan baik.
Ketua DPP LDII Bidang Keagamaan dan Dakwah Dwi Pramono, menyoroti pentingnya proses mengenal, memahami, dan saling menolong sebagai fondasi toleransi bagi pemuda. “Tanggung jawab merawat toleransi berada di tangan generasi muda saat ini. Kalau sekadar hanya teori, seribu teori pun akan kalah dengan aksi saja,” tegasnya.
Staff Khusus Menteri Agama RI, H. Gugun Gumilar, Harapannya kedepan, toleransi tidak hanya berkaitan dengan pemahaman terhadap perbedaan, tetapi juga tercermin dalam sikap dan adab seseorang.















