Banda Aceh (30/7). Universitas Syiah Kuala (USK) mengukuhkan lima profesor baru dalam Sidang Terbuka Senat Akademik di Gedung AAC Dayan Dawood. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (7/7/2026) itu, menempatkan salah satu warga LDII, yakni Umi Fathanah, sebagai profesor di bidang Teknologi Rekayasa Kimia Polimer dan Membran Fungsional.
Pengukuhan tersebut menjadi pencapaian atas perjalanan panjang Prof. Umi dalam dunia akademik dan penelitian. Selama lebih dari satu dekade, ia fokus mengembangkan teknologi membran, khususnya membran polimer untuk pengolahan air bersih yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Dalam risetnya, Umi mengembangkan membran yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap fouling, yaitu penumpukan kotoran yang dapat menurunkan kinerja membran. Untuk mendukung pengembangan tersebut, ia memanfaatkan berbagai material ramah lingkungan seperti kitosan, silika, magnesium hidroksida, hingga nanoselulosa yang berasal dari biomassa dan limbah pertanian.
“Ketertarikan saya berawal dari sebuah pertanyaan sederhana, bagaimana ilmu pengetahuan dapat menghadirkan solusi bagi kebutuhan dasar manusia, yaitu air yang layak dan aman,” ujar Umi.
Bagi Umi, penelitian tidak hanya bertujuan menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga mengoptimalkan potensi alam agar memberikan manfaat bagi masyarakat, “Teknologi membran yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung sistem pengolahan air yang lebih efisien, hemat energi, serta memiliki umur pakai lebih panjang bagi kebutuhan masyarakat maupun industri,” ungkapnya.
Ia melihat pemanfaatan limbah pertanian menjadi material bernilai tinggi sebagai bentuk kontribusi ilmu pengetahuan dalam menjawab persoalan lingkungan, “Ketika limbah pertanian yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi material bernilai tinggi, di situlah saya melihat bahwa ilmu dapat menjadi jembatan antara inovasi, kepedulian terhadap lingkungan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” tuturnya.
Pemanfaatan biomassa lokal sebagai bahan baku penelitian juga dinilai membuka peluang ekonomi baru sekaligus mendukung pelestarian lingkungan, “Saya selalu meyakini bahwa ukuran keberhasilan sebuah penelitian bukan hanya banyaknya publikasi atau penghargaan yang diperoleh, tetapi sejauh mana hasil penelitian itu dapat memberi manfaat bagi kehidupan,” ungkapnya.
Perjalanan Umi hingga meraih gelar profesor tidak terlepas dari berbagai tantangan. Ia menjalani proses panjang sebagai dosen, peneliti, pembimbing mahasiswa, sekaligus menjalankan peran dalam keluarga. Baginya, konsistensi untuk terus belajar dan berkarya menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan penelitian, mulai dari eksperimen yang harus dilakukan berulang kali hingga proses publikasi yang membutuhkan ketekunan.
“Jabatan profesor bukan sebagai pencapaian pribadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan untuk terus berkarya dan memberi manfaat melalui ilmu pengetahuan,” katanya.
Setelah dikukuhkan sebagai profesor, Umi berharap dapat terus mengembangkan riset di bidang pengolahan air dan pelestarian lingkungan. Ia juga ingin memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, hingga dunia industri.

Ia berpesan kepada generasi muda, khususnya warga LDII yang ingin berkarier di dunia akademik dan penelitian, Prof. Umi berpesan agar terus membangun semangat belajar dan tidak mudah menyerah menghadapi proses, “Ilmu bukan semata-mata untuk mengejar gelar atau kedudukan, tetapi untuk memberi manfaat kepada sesama dengan niat karena Allah SWT,” pesannya.
Ia meyakini bahwa ilmu yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, menjaga lingkungan, dan membawa kemaslahatan akan menjadi amal yang terus memberikan manfaat.

