Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Tidak semua luka harus dibalas. Sebagian luka dititipkan Allah untuk mendewasakan. Ada kata-kata yang menyinggung. Ada sikap yang mengecewakan. Ada orang yang berubah tanpa penjelasan. Dan hati terasa perih.
Kita sering mengira luka adalah tanda kelemahan. Padahal sering kali ia adalah pintu pemurnian. Allah berfirman: “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Mari kita dalami lebih jauh dari ayat di atas, yaitu: min – “sedikit”. Tetapi sedikit bagi Allah bisa terasa besar bagi kita.
Luka membuat kita sadar bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya diandalkan. Harapan yang terlalu tinggi pada makhluk sering melahirkan kecewa. Orang-orang Alim – Faqih dulu dengan berwibawa berkata; “Apa yang dilakukan musuhku terhadapku? Surgaku ada di dadaku. Jika aku dipenjara, itu khalwat. Jika aku dibuang, itu perjalanan. Jika aku dibunuh, itu syahid.” Mengapa beliau bisa setenang itu? Karena sandarannya bukan manusia.
Luka sering memindahkan sandaran kita—dari makhluk kepada Khalik. Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya…” (HR. Muslim)
Termasuk luka.
Tetapi bagaimana luka menjadi baik? Ketika ia melahirkan ikhlas. Ikhlas bukan hanya dalam beramal. Ikhlas juga dalam menerima takdir. Ikhlas adalah berhenti menuntut dunia untuk selalu sesuai harapan kita. Sang Guru Bijak sering berpesan, “Barangsiapa mengenal dunia, ia akan ringan dalam menghadapi musibahnya.”
Kita terluka karena berharap dunia adil sepenuhnya. Padahal dunia adalah tempat ujian, bukan tempat pembalasan. Setiap luka membawa pilihan: Membalas atau memaafkan. Mengeluh atau mendewasa. Membenci atau menyerahkan.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan berarti membebaskan diri dari racun kebencian.
Kadang Allah tidak segera memperbaiki orang yang melukai kita. Dia justru memperbaiki hati kita melalui luka itu. Air mata yang jatuh di sepertiga malam lebih berharga daripada seribu keluhan di siang hari.
Luka bisa mengeras menjadi dendam. Atau melembut menjadi kedekatan dengan Allah.
Pilihannya ada di hati.












