Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada doa yang segera terasa jawabannya. Ada pula doa yang menggantung lama di langit harapan. Kita telah menangis. Kita telah memohon. Kita telah mengulang doa yang sama. Berhari – hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun.
Namun keadaan belum berubah. Lalu hati mulai bertanya pelan: Apakah Allah mendengar?
Allah telah menjawab pertanyaan itu jauh sebelum ia lahir di dadamu: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Ayat yang indah dan berkesan. Allah tidak mengatakan, “Katakanlah Aku dekat.” Tetapi langsung: “Aku dekat.” Tidak ada perantara. Tidak ada jarak.
Masalahnya bukan pada pendengaran Allah. Kadang pada pemahaman kita tentang jawaban.
Nabi ﷺ bersabda; “Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa atau memutus silaturahim, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga: dikabulkan segera, disimpan untuknya di akhirat, atau dijauhkan darinya keburukan yang setara.” (HR. Ahmad)
Artinya, tidak ada doa yang sia-sia. Yang ada hanyalah jawaban dalam bentuk yang berbeda. Kita sering menginginkan jawaban sesuai skenario kita. Padahal Allah menjawab sesuai ilmu-Nya.
Umar ibn al-Khattab pernah berkata, “Aku tidak khawatir doaku tidak dikabulkan. Aku khawatir jika aku tidak diberi ilham untuk berdoa.”
Betapa dalam kalimat itu. Karena bisa jadi kemampuan untuk terus berdoa adalah tanda bahwa Allah belum menutup pintu.
Menunggu adalah bagian dari ibadah. Kesabaran dalam doa adalah bentuk keyakinan.
Para Alim – Faqih mengingatkan dalam fatwanya bahwa tergesa-gesa adalah racun doa. Hati yang mendesak waktu sering kehilangan adab di hadapan takdir.
Kadang Allah menunda karena: Ia sedang membersihkan niat kita. Ia ingin kita lebih dekat. Ia tahu waktu terbaik belum tiba. Doa adalah sarana untuk mendekatkan diri.
Mungkin yang berubah bukan keadaanmu, tetapi hatimu. Mungkin yang Allah ingin sembuhkan bukan masalah di luar, tetapi kegelisahan di dalam.
Dan suatu hari, ketika engkau menoleh ke belakang, engkau akan berkata: Jika dulu Allah mengabulkan sesuai keinginanku, mungkin aku tidak akan berada di tempat terbaik hari ini.
Doa yang tertunda bukan berarti ditolak. Ia sedang disusun dalam waktu yang paling baik dan tepat.
Teruslah mengetuk. Pintu itu tidak tuli. Tidak terkunci.














Aamiin ajzkh