Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Tidak semua yang benar harus diucapkan. Tidak semua yang terlintas harus disampaikan.
Lisan itu ringan. Tetapi dampaknya berat. Satu kalimat bisa menyelamatkan. Satu kalimat bisa menghancurkan.
Allah mengingatkan: “Tidaklah suatu kata diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Setiap kata punya saksi. Setiap kalimat punya jejak.
Kita hidup di zaman yang mendorong untuk selalu bersuara. Berkomentar. Menanggapi. Mengoreksi. Padahal sebagian kebijaksanaan justru lahir dari diam.
Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi jiwa dengan mata indah sangat faham; pilihannya hanya dua. Berkata baik. Atau diam. Tidak ada opsi ketiga.
Ali ibn Abi Talib berkata, “Jika akal sempurna, maka sedikitlah bicara.”
Banyak bicara sering kali bukan tanda keluasan ilmu, tetapi kegelisahan ego. Diam bukan berarti lemah. Diam adalah kendali.
Seorang Alim – Faqih berkata, “Seorang mukmin menahan lisannya sebagaimana ia menahan tangannya.”
Karena luka dari tangan mungkin sembuh. Luka dari kata-kata sering tinggal lama di dada. Berapa banyak hubungan rusak bukan karena niat jahat, tetapi karena kata yang tergesa. Berapa banyak amal gugur bukan karena dosa besar, tetapi karena komentar yang merendahkan. Lisan sering lebih cepat daripada hati yang jernih.
Diam memberi ruang bagi hati untuk berpikir. Diam memberi waktu bagi emosi untuk mereda. Diam menjaga kehormatan diri.
Jika hari ini ada perdebatan, tahan sebentar. Jika ada keinginan membalas komentar, tunggu.
Jika ada dorongan membuktikan diri, evaluasi. Karena tidak semua kemenangan perlu dibuktikan dengan suara.
Bahkan dalam doa, ada saatnya kita tidak perlu bersuara. Cukup hadir. Cukup sadar. Cukup tunduk. Bibir bergerak, tapi hanya diri sendiri yang mendengar.
Dan sering kali, orang yang paling kuat adalah yang mampu memilih diam ketika ia mampu berbicara.


AJKH Mas Kus