Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Sebagian nikmat tidak terasa karena ia selalu ada. Udara tidak kita syukuri karena ia gratis. Kesehatan tidak kita syukuri karena ia rutin. Keluarga tidak kita syukuri karena ia “biasa”.
Kita sering baru sadar nilai sesuatu setelah ia hilang. Allah berfirman: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini tidak berbicara tentang nikmat besar saja. Ia mencakup yang kecil, yang diam, yang harian.
Masalahnya bukan kurangnya nikmat. Masalahnya adalah mata hati yang terbiasa. Kita hidup dalam budaya “lebih”. Lebih sukses. Lebih kaya. Lebih dihargai.
Padahal bahagia sering tersembunyi dalam “cukup”. Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)
Cukup itu tenang. Cukup itu ringan. Cukup itu damai. Cukup itu cukup.
Umar ibn al-Khattab pernah berkata, “Jika kesabaran dan syukur adalah dua kendaraan, aku tidak peduli mana yang aku tunggangi.”
Artinya, dalam lapang kita bersyukur. Dalam sempit kita bersabar.
Keduanya sama-sama jalan menuju Allah.
Sering kali kita sibuk mengejar nikmat berikutnya hingga lupa menikmati yang sekarang.
Padahal mungkin doa yang dulu kita panjatkan— rumah yang layak, pekerjaan tetap, keluarga sehat— kini sudah ada di genggaman.
Tetapi karena sudah “biasa”, kita tidak lagi merasakannya.
Seorang Alim – Faqih pernah mengingatkan, “Barangsiapa tidak mengenal nikmat kecuali dalam makanan dan minuman, maka ilmunya sedikit dan azabnya dekat.”
Nikmat bukan hanya materi. Ia adalah ketenangan. Ia adalah iman.Ia adalah kemampuan untuk sujud.
Mensyukuri yang biasa membuat hati stabil. Ia menghentikan perlombaan yang melelahkan. Ia mengajari kita menikmati perjalanan, bukan hanya tujuan.
Jika hari ini terasa datar, coba lihat ulang. Mungkin bukan hidup yang kurang indah. Mungkin mata kita yang terlalu sibuk mencari yang belum ada.
Syukur tidak menunggu sempurna. Ia tumbuh di tengah keterbatasan.
Dan hati yang bersyukur jarang merasa miskin.

