Wonogiri (17/6). DPD LDII Wonogiri mengadakan pengajian generasi muda bertema “Pembinaan Generasi Penerus di Masa Kini”. Pengajian tersebut digelar di Masjid Baitussubur, Bulusulur, Wonogiri, pada Minggu (24/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 900 peserta yang berasal dari kalangan pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa. Dewan Pakar Bidang Pendidikan DPP LDII, KH Mohammad Thoyibun, menegaskan pembentukan generasi unggul tidak dapat dilakukan secara instan. Menurutnya, proses tersebut memerlukan pendidikan yang berkelanjutan sejak usia dini, dukungan keluarga yang kuat, serta lingkungan yang mampu membangun karakter anak secara konsisten.
Ia menilai keluarga menjadi fondasi utama dalam menentukan arah perkembangan seorang anak, sebelum memasuki lingkungan pendidikan maupun masyarakat, “Karakter anak dibentuk melalui proses yang panjang. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi dimulai dari rumah. Orang tua memiliki peran besar dalam menanamkan nilai moral, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebiasaan baik sejak usia dini,” ujar Thoyibun.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya karena perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Dalam pemaparannya, Thoyibun menyoroti penggunaan handphone dan media digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak dan remaja. Menurutnya, teknologi dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara tepat, namun juga berpotensi menimbulkan dampak negatif ketika tidak disertai pengawasan yang memadai.
Ia mengamati tidak sedikit anak muda yang mengalami perubahan perilaku, akibat penggunaan gadget yang berlebihan dan kurang terarah, “Teknologi bukan untuk dijauhi, melainkan diarahkan. Anak-anak perlu diajarkan bagaimana memanfaatkan perangkat digital untuk belajar, menambah wawasan, meningkatkan keterampilan, dan membuka peluang usaha. Pendampingan dari orang tua menjadi faktor penting agar penggunaan teknologi tetap berada pada jalur yang positif,” katanya.
Ia juga mengingatkan para remaja agar mampu mengendalikan waktu penggunaan gawai sehingga tidak mengganggu aktivitas belajar maupun interaksi sosial.
Mantan Kepala SMA Negeri 1 Surakarta itu juga menjelaskan pentingnya pendidikan yang berlangsung secara bertahap mulai dari usia dini hingga dewasa. Menurutnya, setiap fase pertumbuhan memiliki kebutuhan pembinaan yang berbeda. Salah satu model pendidikan yang dinilai efektif adalah sistem sekolah berbasis asrama atau boarding school karena mampu membangun kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, serta kebiasaan hidup yang teratur.
“Lingkungan pendidikan yang terkontrol dapat membantu memperkuat pembentukan karakter. Anak-anak belajar hidup mandiri, menghargai waktu, dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya,” ujarnya.
Selain pendidikan formal, Thoyibun menekankan pentingnya peran seorang ibu dalam perjalanan hidup anak. Ia menyampaikan dukungan, perhatian, serta doa orang tua memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan seseorang. Sebagai ilustrasi, ia membagikan kisah seorang mahasiswa yang memilih mendampingi ibunya berobat ke dokter dibanding mengikuti ujian kampus. Menurutnya, keputusan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada orang tua yang kemudian membawa hasil di luar perkiraan.
“Berbakti kepada orang tua merupakan investasi kehidupan. Banyak keberhasilan yang lahir dari hubungan baik antara anak dan orang tua,” katanya.
Di hadapan para peserta, Thoyibun juga mengingatkan pentingnya membangun etos kerja sejak usia muda. Ia menilai sebagian generasi muda masih memiliki pola pikir ingin memperoleh hasil besar melalui usaha yang minim. Padahal, berbagai pelatihan keterampilan dan program magang tersedia untuk meningkatkan kompetensi dan pengalaman kerja.
“Anak muda harus berani belajar dan mencoba. Keterampilan menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan dunia kerja maupun menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi jadilah pencipta peluang melalui teknologi,” ujarnya.
Menurut Thoyibun, generasi unggul tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang dimiliki, melainkan juga oleh kualitas pendidikan, ketangguhan karakter, kedekatan dengan keluarga, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan memanfaatkan perkembangan digital secara bijaksana untuk kemajuan diri dan masyarakat.












