Jakarta (2/10). Batik bukan sekadar produk fesyen, melainkan warisan budaya yang menyimpan nilai kearifan lokal sekaligus potensi mendukung pembangunan berkelanjutan. Keberlangsungan batik membutuhkan upaya pelestarian budaya yang berjalan seiring dengan regenerasi perajin, inovasi, penguatan ekonomi masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan (Lisdal) DPP LDII, Atus Syahbudin, mengatakan batik merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya. “Batik merupakan warisan budaya yang menyimpan nilai kearifan lokal sekaligus potensi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan (SDGs),” ujar Atus yang juga Dosen Fakultas Kehutanan dan Prodi Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana UGM.
Menurut Atus, pelestarian batik tidak cukup hanya dengan mempertahankan motif dan teknik pembuatannya. Dari perspektif ekoteologi, proses produksinya juga perlu diarahkan agar semakin ramah lingkungan.

“Merawat batik tidak cukup hanya dengan melestarikan motif dan teknik pembuatannya, tetapi juga memastikan proses produksinya semakin ramah lingkungan, termasuk melalui pemanfaatan pewarna alam yang disertai pengelolaan limbah secara bertanggung jawab,” katanya.
Atus menambahkan, keberlanjutan batik juga berkaitan erat dengan regenerasi perajin. Generasi muda perlu dilibatkan melalui pendidikan, inovasi desain, kewirausahaan, maupun pemanfaatan teknologi digital agar batik tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Tantangan regenerasi perajin juga perlu dijawab dengan melibatkan generasi muda, baik melalui pendidikan, inovasi desain, kewirausahaan, maupun pemanfaatan teknologi digital agar batik tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat sebagai konsumen juga memiliki peran penting. Membeli dan mengenakan batik lokal berarti menghargai kreativitas perajin, menjaga identitas budaya sebagai bagian dari ketahanan nasional, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Yang tak kalah pentingnya, membeli dan mengenakan batik lokal berarti turut menghargai kreativitas perajin, menjaga identitas budaya sebagai wujud ketahanan nasional serta menggerakkan ekonomi masyarakat,” kata Atus.
Pandangan mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan batik tersebut sejalan dengan pengalaman Agung Prayitno, pengusaha Loubybatik dari PAC LDII Banyuripan, Bayat, Klaten. Sejak 2010, Agung memproduksi batik tulis dan batik cap dengan menggunakan pewarna alam maupun sintetis.
Agung mengatakan, batik tulis dengan proses tradisional masih memiliki pasar tersendiri. Namun, kondisi pasar hingga kini masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produksinya, “Kalau untuk perkembangan batik tulis saat ini, pasarnya masih sepi, masih loyo. Semenjak Covid sampai sekarang belum pulih. Masih mode bertahan,” ujar Agung.
Menurut Agung, salah satu tantangan batik tulis adalah biaya produksinya yang relatif tinggi. Proses pembuatan secara tradisional membutuhkan bahan baku dan keterampilan khusus sehingga berpengaruh terhadap harga jual.

Di tengah kondisi tersebut, Loubybatik mengembangkan penggunaan pewarna alam. Agung menjelaskan, bahan seperti tinggi, tegeran, jolawe, dan mahoni menghasilkan karakter warna yang berbeda dibandingkan pewarna sintetis.
“Untuk pewarnaan alam itu produksinya lebih sulit dan mudah luntur. Warnanya lebih kalem dan gampang mbladus, tetapi terkadang kalangan tertentu justru suka pewarnaan alam,” katanya.
Agung menilai, pengembangan batik juga perlu mengikuti perkembangan selera masyarakat. Motif dan warna dapat disesuaikan agar batik tetap diminati, tetapi nilai budaya yang melekat pada proses pembuatannya tetap dipertahankan.
Selain persoalan pasar dan produksi, Agung melihat regenerasi menjadi tantangan lain yang perlu mendapat perhatian. Sebagian besar pembatik tulis di wilayahnya kini berusia lebih dari 45 tahun, sedangkan generasi muda cenderung memilih bekerja di sektor industri karena menawarkan pendapatan yang lebih pasti.

Kondisi tersebut membuat keberlanjutan batik tidak hanya bergantung pada kemampuan mempertahankan teknik tradisional, tetapi juga pada kemauan generasi berikutnya untuk mempelajarinya.
Jika Agung melihat tantangan regenerasi dari sisi pelaku usaha, Suharno, warga PAC LDII Pucang Sawit, Surakarta, yang juga menekuni usaha batik nirbana, melihat pentingnya membangun kecintaan generasi muda terhadap batik dari sisi pengguna.
Suharno mengajak generasi muda untuk tidak malu mengenakan batik. Menurutnya, perkembangan gaya berpakaian tidak harus membuat generasi muda meninggalkan batik.
“Gaya boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap pakai batik. Apa pun gayanya, orang yang memakai batik tetap terlihat sopan, elegan, dan berwibawa,” kata Suharno.
Menurut Suharno, kebiasaan mengenakan batik dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya tersebut. Masyarakat juga perlu menghargai proses dan keterampilan yang dimiliki para perajin.
“Harapannya ada generasi yang berkelanjutan dan mau belajar tentang batik. Yang tidak kalah penting, senang dulu memakai batik,” tuturnya.
Suharno juga memperhatikan aspek lingkungan dalam menjalankan usaha batiknya. Menurutnya, keberlangsungan usaha batik perlu disertai pengelolaan limbah yang baik agar kegiatan produksi tidak mengabaikan kelestarian lingkungan, “Alhamdulillah, pengelolaan limbahnya berjalan dan terkendali,” katanya.
Pengalaman para pelaku batik tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan batik mencakup banyak aspek, mulai dari keberlangsungan pasar, regenerasi perajin, kecintaan masyarakat, hingga tanggung jawab terhadap lingkungan.
Agung berharap masyarakat semakin menghargai batik tulis sebagai karya seni sekaligus warisan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi mendatang. “Batik tulis asli merupakan warisan budaya. Seni batik itu mahal, tetapi yang diberikan bukan sekadar kain. Yang dibeli adalah hasil karya seni,” pungkasnya.
Atus mengatakan, seluruh upaya tersebut pada akhirnya merupakan bagian dari keberlanjutan budaya dan lingkungan. Menurutnya, warisan batik tidak hanya berupa kain dan motif, tetapi juga nilai, keterampilan, serta tanggung jawab yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Inilah wujud nyata keberlanjutan budaya dan lingkungan: mewariskan bukan hanya selembar kain yang indah, melainkan juga nilai, keterampilan, dan tanggung jawab antargenerasi,” pungkas Atus.















