Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Ada saatnya ketika kita melihat kehidupan orang-orang saleh, tiba-tiba turun perasaan minder; betapa sedikit bekal yang telah kita kumpulkan. Mereka tekun beribadah, lapang dalam memberi, dan sabar menghadapi ujian. Juga syukur yang berlimpah. Sementara kita masih merasa payah, mudah lelah, sering kehilangan perhatian dalam shalat, dan berkali-kali harus membenahi niat. Di tengah kesadaran seperti itu, sebuah percakapan sederhana pada masa Rasulullah ﷺ menghadirkan harapan. Bukan hanya harapan, bahkan kemudahan dan kabar yang sangat menggembirakan.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki desa (A’rabiyan) bertanya kepada Nabi tentang kapan kiamat terjadi. Rasulullah ﷺ mengarahkannya kepada sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya: apa yang telah ia persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menyampaikan bahwa bekalnya hanyalah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau kemudian bersabda: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau bersama orang yang engkau cintai.” Anas menceritakan betapa gembiranya mereka mendengar sabda tersebut. Anas pun menyatakan kecintaannya kepada Nabi, Abu Bakar, dan ‘Umar, serta berharap dapat bersama mereka meskipun amalnya tidak menyamai amal mereka. (HR. al-Bukhari no. 3688).
عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَجُلاً، سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ ” وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا ”. قَالَ لاَ شَىْءَ إِلاَّ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صلى الله عليه وسلم. فَقَالَ ” أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ”. قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ” أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ”. قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ.
Percakapan itu mengajak kita menengok arah hati. Kita mungkin tidak mengetahui kapan perjalanan hidup akan berakhir. Namun setiap hari kita memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri: menjaga kewajiban, memperbaiki hubungan, dan memilih siapa yang teladannya ingin kita ikuti. Seorang A’rabiyan memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahkan kepada para sahabat: mengetuk relung hati, membuka mata hati dan mengguyur sanubari jiwa-jiwa yang siap pergi. Dan alhamdulillah, akhirnya pengajaran itu tertumpah sampai kepada kita yang papa ini.
Perhatikan, betapa menenteramkan ungkapan Sahabat Anas. Ia mengetahui bahwa amalnya tidak menyamai amal orang-orang yang dicintainya, tetapi ia tetap berharap. Kesadaran akan keterbatasan tidak membuatnya menjauh. Ia merawat kecintaan yang menghubungkan hatinya dengan mereka. Kita pun membutuhkan harapan seperti itu. Ada orang yang merasa dirinya terlalu banyak kekurangan untuk mendekati kehidupan yang lebih baik. Ia malu terhadap masa lalunya, lalu menunda langkah. Padahal sebuah perubahan dapat dimulai dari kesediaan mendekat: mendengarkan nasihat, mempelajari kehidupan Rasulullah, dan mencoba mengamalkan satu tuntunan dengan sungguh-sungguh.
Cinta memiliki pengaruh yang halus dalam keseharian. Orang yang kita cintai mendapat tempat dalam ingatan. Perkataannya kita perhatikan, kebiasaannya kita kenali, dan sesuatu yang berharga baginya ikut menjadi berharga bagi kita. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dapat kita rawat dengan menyediakan waktu untuk mengenal beliau. Kita membaca tentang kelembutannya kepada keluarga. Kemudian kita belajar menurunkan suara di rumah. Kita mengenal kesabarannya dalam membimbing manusia. Kemudian kita mencoba memberi kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki kesalahan. Kita mempelajari amanahnya. Kemudian kita menjaga kepercayaan, bahkan ketika tidak ada orang yang mengawasi.
Langkah-langkah tersebut mungkin terasa kecil. Namun di sanalah cinta memperoleh bentuk yang dapat dirasakan oleh orang lain. Pasangan merasakan perhatian yang lebih utuh. Anak mendapatkan kesabaran yang lebih panjang. Rekan kerja menemukan seseorang yang lebih jujur dan mudah membantu.
Ada pula hari ketika kita kembali lalai. Pada hari seperti itu, kita perlu mengakui kekurangan dan melanjutkan usaha. Harapan kepada Allah menolong kita bangkit, sementara teladan Rasulullah memberi arah bagi langkah berikutnya. Menjelang tidur, barangkali kita dapat bertanya dengan tenang: hari ini, tuntunan beliau yang mana yang sudah kucoba jalankan? Adakah ucapan yang perlu kuperbaiki? Adakah seseorang yang membutuhkan pertolonganku? Pertanyaan sederhana itu dapat menjaga cinta agar terus tumbuh dalam kehidupan.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kecintaan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, juga para sahabat-sahabat pilihan, serta kesungguhan untuk mengikuti tuntunan-tuntunan yang ada. Semoga keterbatasan amal membuat kita rendah hati, dan harapan membuat kita tetap tekun. Kelak, ketika perjalanan ini berakhir, betapa indahnya jika kita dipertemukan dengan orang-orang yang selama hidup kita cintai—orang-orang yang teladannya kita pelajari, akhlaknya kita rindukan, dan jejak kebaikannya kita ikuti. Semampu kita, walau tertatih. Sak pol kemampuan kita, walau perih.















