Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Ada satu bentuk perjuangan orang tua yang sering tidak terlihat, tetapi sesungguhnya sangat dalam nilainya di sisi Allah: ketika mereka tidak mampu lagi mengubah keadaan dengan tangan dan lisan, lalu mereka menjaga anak-anaknya dengan doa, puasa, tirakat, dan kegelisahan hati.
Sebagian orang mengira amar ma’ruf nahi munkar hanya sebatas menegur, menasihati, atau melarang. Padahal dalam banyak keadaan, terutama terhadap orang-orang yang kita cintai, perjuangan itu jauh lebih sunyi dan lebih menyakitkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Hadits ini sering dipahami seolah “dengan hati” adalah tingkatan yang tidak berarti. Padahal tidak sesederhana itu. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa membenci kemungkaran dalam hati adalah batas minimal iman yang tidak boleh hilang. Artinya, selama hati masih gelisah terhadap keburukan, cahaya iman itu masih hidup. Dan di sinilah kita mulai memahami mengapa orang-orang tua dahulu banyak melakukan tirakat untuk anak-anaknya.
Mereka mungkin tidak selalu berhasil mengendalikan zaman. Mereka tidak mampu mengawasi anak-anak setiap saat. Mereka sadar nasihat kadang tidak didengar. Teguran bisa memicu jarak. Kata-kata terkadang kalah oleh lingkungan dan arus dunia.
Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka membawa kegelisahan itu kepada Allah. Mereka berpuasa agar hatinya lembut. Mereka bangun malam agar anaknya dijaga. Mereka menangis diam-diam dalam sujud. Mereka memperbanyak istighfar untuk keluarganya.
Ini bukan pelarian dari amar ma’ruf. Justru ini bentuk amar ma’ruf yang paling dalam: menjaga agar hati tidak rela terhadap kerusakan, lalu mengetuk pintu langit ketika kemampuan manusia telah sampai batasnya.
Ketika Amar Ma’ruf Tidak Lagi Cukup dengan Kata-Kata
Ada fase dalam kehidupan ketika nasihat tidak lagi cukup. Terutama di zaman hari ini, ketika manusia dibanjiri informasi, ego, dan pembenaran diri. Kadang orang tua sudah berbicara lembut — tidak didengar. Berbicara keras — malah menjauh. Diam — dianggap membiarkan. Maka sebagian orang tua saleh memilih jalan para nabi: memperbanyak doa.
Nabi Nuh ‘alaihis salam berdakwah ratusan tahun kepada anak dan kaumnya. Nabi Ya’qub menangis karena anak-anaknya. Nabi Ibrahim tidak hanya menasihati, tetapi juga mendoakan keturunannya lintas generasi. Karena mereka tahu: hidayah bukan milik manusia.
Allah ﷻ berfirman kepada Nabi Muhammad ﷺ:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56) Ayat ini sangat menghibur sekaligus merendahkan kesombongan manusia. Bahkan Rasulullah ﷺ tidak mampu memaksa hidayah masuk ke hati orang yang beliau cintai. Lalu bagaimana manusia biasa?
Di sinilah tirakat, doa, dan perjuangan batin menjadi penting. Sebab ketika tangan tak mampu menjangkau dan lisan tak lagi didengar, hati yang terus berharap kepada Allah bisa menjadi jalan terakhir yang tidak pernah tertutup.
“Dengan Hati” Bukan Berarti Pasif
Namun perlu dipahami: amar ma’ruf dengan hati bukan berarti menyerah total atau membiarkan kemungkaran. Hati yang hidup akan melahirkan: doa, kegelisahan, ikhtiar, teladan, dan kesabaran panjang. Bukan kebencian yang kasar, tetapi cinta yang takut kehilangan. Orang tua dahulu memahami bahwa memperbaiki anak tidak cukup dengan kontrol, tetapi juga membutuhkan keberkahan. Dan keberkahan itu sering lahir dari ibadah-ibadah tersembunyi.
Mungkin itulah sebabnya dahulu ada orang tua yang: mengurangi tidur demi qiyamul lail, berpuasa Senin-Kamis untuk keluarganya, menjaga makanan halal dengan sangat hati-hati, memperbanyak membaca Al-Qur’an di rumah, dan tidak henti menyebut nama anak-anaknya dalam doa. Karena mereka yakin: ada pertempuran yang tidak bisa dimenangkan hanya dengan logika dan pendidikan, tetapi membutuhkan pertolongan Allah.
Hati yang Masih Gelisah Adalah Tanda Iman Masih Hidup
Yang paling berbahaya bukan ketika seseorang tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangan atau lisan. Yang paling berbahaya adalah ketika hati sudah tidak lagi merasa apa-apa. Tidak sedih melihat kerusakan. Tidak takut melihat anak terseret arus dunia. Tidak lagi peduli apakah keluarga dekat kepada Allah atau jauh dari-Nya. Itulah mati rasa ruhani.
Maka kegelisahan orang tua terhadap keselamatan iman anak-anaknya sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang yang agung. Bahkan mungkin itu salah satu bentuk amar ma’ruf yang paling tulus: sebuah perjuangan sunyi yang tidak dilihat manusia, tetapi dicatat oleh Allah.
Dan boleh jadi, banyak anak terselamatkan bukan hanya karena nasihat orang tuanya, tetapi karena ada doa yang terus mengetuk langit atas namanya — bahkan ketika ia sendiri lalai kepada Tuhannya.













