Makkah (10/5). Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kementerian Haji dan Umrah RI, Laksma TNI (Purn) Ian Heriyawan, meninjau ke kawasan Arafah untuk memastikan kesiapan fasilitas bagi jemaah haji Indonesia menjelang puncak ibadah haji 1447 H/2026 M, Sabtu (9/5/2026).
Peninjauan dilakukan bersama tim Kementerian Haji dan Umrah RI di area syarikah Duyuf Al-Bait, yang nantinya akan menampung sekitar 103 ribu jemaah haji Indonesia selama pelaksanaan wukuf di Arafah.
Ian Heriyawan mengatakan, pengecekan dilakukan untuk memastikan seluruh fasilitas dasar bagi jemaah, mulai dari tenda, tempat tidur, kamar mandi, hingga sarana pendukung lainnya tersedia sesuai standar pelayanan.
“Alhamdulillah, sore hari ini kami bersama tim melakukan pengecekan langsung kesiapan tenda di Arafah, tepatnya di syarikah Duyuf Al-Bait. Di lokasi ini nantinya akan ditempati kurang lebih 103 ribu jemaah Indonesia. Kami sudah melihat beberapa tenda, kamar mandi, dan fasilitas lainnya. Memang saat ini belum sepenuhnya siap karena masih dalam proses penyelesaian,” ujar.
Baca Juga: Satu Jemaah Haji Indonesia Meninggal Dunia Akibat Serangan Jantung
Mantan Kapusbintal Mabes TNI itu menjelaskan, pihak syarikah berkomitmen menuntaskan seluruh pekerjaan dalam lima hari ke depan. Berdasarkan hasil pengecekan sementara, satu tenda berukuran sekitar 300 meter persegi mampu menampung hingga 238 tempat tidur, dan secara umum dinilai cukup untuk kebutuhan jemaah.
“Mereka menjanjikan lima hari ke depan seluruh fasilitas sudah siap. Tadi kami juga memastikan bahwa dalam satu tenda berukuran kurang lebih 300 meter persegi tersedia sekitar 238 bed, dan kami lihat kapasitasnya mencukupi,” katanya.
Pengecekan Berlanjut, Lansia dan Disabilitas Jadi Perhatian Khusus
Ian menegaskan, Kementerian Haji akan memastikan setiap tenda memiliki data kapasitas yang jelas, termasuk daftar kloter dan daftar nama jemaah yang akan menempati tenda tersebut. Hal itu dilakukan agar tidak ada jemaah yang kesulitan saat memasuki area Arafah.
“Kami ingin memastikan seluruh jemaah haji Indonesia bisa masuk ke tenda masing-masing dengan tertib, tenang, dan dapat melaksanakan ibadah wukuf dengan khusyuk,” tegasnya.
Baca Juga: Peta Akomodasi Haji 2026 di Makkah Diungkap, Kadaker Pastikan Ramah Lansia dan Terintegrasi
Terkait penempatan jemaah, Ian menjelaskan satu tenda tidak selalu diisi satu kloter penuh, mengingat jumlah jemaah dalam satu kloter bisa mencapai 360 hingga hampir 400 orang. Namun, pihaknya memastikan penempatan antarjemaah dalam satu kloter tetap berdekatan.
“Kalau satu kloter jumlahnya lebih besar dari kapasitas tenda, tentu bisa terbagi di beberapa tenda. Tapi kami pastikan penempatannya tidak berjauhan, terutama untuk jemaah lansia, disabilitas, maupun keluarga,” ujarnya.
Khusus untuk jemaah lansia dan penyandang disabilitas, Ian menegaskan kenyamanan dan aksesibilitas menjadi prioritas utama, termasuk kesiapan fasilitas MCK yang sesuai standar. “Untuk jemaah lansia dan disabilitas, ini menjadi komitmen kami. Hak mereka harus dipastikan terpenuhi, termasuk fasilitas kamar mandi dan akses pendukung lainnya,” katanya.
Baca Juga: Inilah Fasilitas Hotel Jemaah Haji di Makkah, Ada Mesin Cuci hingga Kamar Ber-AC
Meski demikian, Ian mengakui masih ada sejumlah hal yang perlu dibenahi, seperti kebersihan lingkungan, penyekat antar tenda, hingga penataan area sekitar. Karena itu, pihaknya akan melakukan pengecekan ulang secara berkala.
“Lima hari ke depan kami akan cek kembali. Prinsipnya check and recheck. Jangan sampai saat hari pelaksanaan masih ada kekurangan. Hak jemaah harus benar-benar terjamin,” tegas Ian.
Dalam kunjungan tersebut, Ian juga mengajak para kepala sektor (Kasektor) untuk ikut meninjau langsung lokasi. Langkah ini dilakukan agar petugas lapangan memahami secara detail lokasi penempatan jemaah yang menjadi tanggung jawab masing-masing.
“Kasektor kami ajak ke sini supaya mereka tahu persis jemaahnya nanti akan berada di tenda mana. Kalau ada kendala di lapangan, mereka bisa bergerak cepat bersama petugas lain,” pungkasnya. (Faqihu Sholih/MCH 2026)













