Timika (28/8). Bupati Mimika, Johannes Rettob, meresmikan Masjid Miftahul Huda naungan LDII Mimika. Peresmian yang dihadiri Forkopimda, tokoh agama, dan jajaran pengurus DKM Miftahul Huda tersebut diselenggarakan di Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Minggu (23/8/2026).
Bupati Mimika Johannes Rettob menyampaikan apresiasi atas kegigihan DKM Miftahul Huda dan warga LDII yang berhasil menyelesaikan pembangunan rumah ibadah yang representatif meskipun sempat tertundanya jadwal peresmian. “Masjid ini bukan hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga pusat pendidikan Al Quran, pembinaan generasi muda, kegiatan sosial, serta tempat memperkuat keimanan dan kebersamaan masyarakat,” kata Rettob.
Ia menekankan bahwa Pemerintah Kabupaten Mimika berkomitmen penuh mendukung pemeliharaan dan toleransi antar rumah ibadah secara setara tanpa membeda-bedakan latar belakang keagamaan. “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan kolaborasi seluruh komponen masyarakat agar Mimika terus berkembang menjadi daerah yang damai, maju, dan harmonis,” ujarnya.
Ia pun mengajak menjadikan masjid ini sebagai pusat lahirnya generasi berakhlakul karimah yang memberi manfaat bagi daerah. Peresmian sarana ibadah tersebut ditandai dengan prasasti oleh Bupati Rettob bersama Ketua TP PKK Kabupaten Mimika, Suzy Rettob.
Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan, La Ode Moh. Norris, mengungkapkan berdirinya masjid ini merupakan hasil gotong-royong berbagai pihak. Di antaranya pewakaf tanah, donatur swasta, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), hingga dukungan material paving block dari PT Freeport Indonesia.

“Kami berharap Masjid Miftahul Huda menjadi masjid yang hidup, makmur dan nyaman. Selalu dipenuhi aktivitas ibadah, pengajian, pembelajaran Al Quran, pembinaan generasi muda, dan kegiatan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat,” harap La Ode.
Ia menyebut, masjid ini berdiri karena kebersamaan, kepedulian, dan doa banyak orang. “Semoga seluruh bantuan yang diberikan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir,” tambahnya.
Perwakilan keluarga pewakaf tanah, Ahmad Yani, menceritakan bahwa pembangunan masjid ini merupakan kelanjutan niat almarhum orang tua sejak puluhan tahun yang lalu yang rindu hadirnya sarana ibadah di lingkungan tersebut. “Harapan keluarga, masjid ini menjadi tempat meningkatkan ilmu agama, mempererat persaudaraan, serta memperkuat kerukunan masyarakat,” kata Ahmad.














