Takalar (28/8). DPD LDII Kabupaten Takalar menghelat workshop bisnis bertajuk “Merdeka Berkarya, Mandiri Berwirausaha”. Kegiatan yang diikuti 91 pemuda LDII tersebut berlangsung di Masjid Nurul Jihad Barembeng, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Minggu (23/8/2026).
Dalam sambutannya, Sekretaris DPD LDII Takalar, Abdul Haris, menekankan bahwa pemuda memiliki andil penting dalam pembangunan nasional, khususnya di bidang ekonomi. “Berdasarkan data statistik terbaru, jumlah pemuda Indonesia usia 16–30 tahun mencapai sekitar 66,83 juta jiwa. Artinya, hampir seperempat atau sekitar 24 persen dari total penduduk Indonesia adalah pemuda,” ujar Abdul Haris.
Ia menjelaskan, di era digital dan industri 4.0, peran pemuda dalam bidang ekonomi tidak lagi terbatas sebagai pekerja kantoran atau industri. Pemuda, kata dia, berpeluang menjadi sentral perekonomian melalui wirausaha dan pemanfaatan teknologi informasi.
Dalam kesempatan itu, Abdul Haris menjelaskan empat tantangan utama yang dihadapi pemuda dalam bidang ekonomi saat ini. Pertama, kesenjangan keterampilan. “Banyak pemuda bekerja dengan upah rendah atau tidak sesuai bidang keahlian akibat minimnya lowongan yang cocok,” jelasnya.
Kedua, keterbatasan akses modal dan pasar. Membangun usaha baru membutuhkan biaya besar dan jaringan yang luas. Ketiga, jeratan utang. Banyak anak muda terjerat pinjaman online ilegal. “Keempat, kurangnya pengalaman. Minimnya akses pelatihan kerja praktis membuat pemuda sulit bersaing di sektor formal,” ujarnya.
Untuk itu, Abdul Haris mengajak generasi muda merenungkan kembali makna kemerdekaan di tengah suasana peringatan kemerdekaan RI. Menurutnya, jika dahulu para pahlawan berjuang mengangkat senjata untuk membebaskan bangsa dari penjajahan, maka perjuangan pemuda masa kini adalah melawan ketergantungan, kemalasan, dan ketidaksiapan menghadapi masa depan. “Tantangan disrupsi teknologi, persaingan global yang ketat, hingga ketidakpastian ekonomi menuntut kita untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi pemain utama,” tegasnya.
Semangat kemandirian ekonomi pemuda tersebut, lanjut Abdul Haris, sejalan dengan komitmen berkelanjutan LDII melalui delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa, khususnya di bidang Ekonomi Syariah. “LDII terus konsisten mendorong penguatan ekonomi kerakyatan berbasis syariah, mulai dari pengembangan UMKM hingga penguatan lembaga keuangan syariah berbasis komunitas. Melalui ekosistem ini, roda perekonomian dibangun di atas fondasi halal, transparan, dan bebas riba,” pungkasnya.
Lebih lanjut, pemateri Nur Wahyudin, memaparkan materi berjudul “Workshop Generus Hebat, Dorong Generasi Muda Berani Berwirausaha dan Naik Kelas”. Ia mengajak generasi muda untuk memiliki cita-cita tinggi, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang, serta berupaya meningkatkan kehidupan, termasuk dalam aspek ekonomi dan finansial.
“Generasi muda harus punya keberanian untuk mencoba, tidak takut mengalami kegagalan, serta tidak hanya menunggu peluang tetapi mampu menciptakan peluang,” tandasnya.
Dalam sesi kewirausahaan, peserta diperkenalkan pada pentingnya bisnis sebagai salah satu pilihan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi. Peserta juga diarahkan untuk membuat kelompok bisnis dan mengembangkan ide bisnis melalui Business Pitch/Business Plan yang mencakup nama bisnis, produk atau jasa, target pasar, keunggulan, kebutuhan modal, strategi pemasaran, hingga sumber modal.
Selain kemampuan bisnis, workshop juga menekankan pentingnya proses “naik kelas” secara menyeluruh. Generasi muda diharapkan tidak hanya berkembang dalam aspek ekonomi dan dunia, tetapi juga dalam agama, karakter, pengendalian emosi (emotional control), pengambilan keputusan (decision making), dan kemampuan berpikir strategis (strategic thinking).
Melalui Workshop Kewirausahaan Generasi Muda ini diharapkan tidak hanya mendorong peserta untuk menjadi pelaku usaha, tetapi juga membentuk generasi yang berani mengambil peluang, mampu mengambil keputusan, memiliki karakter kuat, dan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.














