Batam (4/11). Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Batam melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Budi Luhur Boarding School, naungan DPW LDII Kepulauan Riau (Kepri). Kegiatan yang dilaksanakan yaitu “Pembuatan Pupuk Kompos dengan Memanfaatkan Limbah Organik”.
“Penanganan sampah bukan sekadar tanggung jawab pemerintah. Tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah Kota Batam terus mendorong pengelolaan sampah secara bijak dan berkelanjutan,” ujar Lurah Patam Lestari, Redo Lithrony saat memberikan sambutan, di Budi Luhur Boarding School, Batam, Kepri, pada Sabtu (31/10/2026).
Lebih lanjut, Redo mengajak masyarakat untuk berperan dalam pengelolaan sampah, “Mari bersama-sama menjaga lingkungan. Pemerintah, ke depan juga akan memfokuskan penerapan teknologi dan penguatan infrastruktur pengelolaan sampah, dari hulu ke hilir. Mulai dari TPST hingga TPA,” tegasnya.
Sementara itu, pemateri penyuluhan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, Heri Winarso menjelaskan, pupuk kompos merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari dekomposisi bahan hayati oleh mikroorganisme, “Sampah domestik rumah tangga, seperti sisa sayuran, kulit buah, sisa makanan, dan dedaunan dapat diolah menjadi produk bernilai guna,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, Heri mempraktikkan pengomposan menggunakan aktivator *Effective Microorganism 4* (EM4), “Aktivator ini berisi campuran mikroorganisme fermentatif seperti bakteri fotosintetik, *Lactobacillus sp.*, *Streptomyces sp.*, *Actinomycetes sp.*, dan ragi,” katanya.
Ia menjelaskan, penambahan EM4, membantu meningkatkan aktivitas mikroorganisme sehingga proses pengomposan berlangsung lebih cepat dan efektif, “Kompos yang dihasilkan bersifat ramah lingkungan karena berasal dari bahan organik alami tanpa bahan kimia sintetis, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus menjaga kualitas lingkungan,” jelas Heri.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Kepri, Rulifa Syahroel mengungkapkan, LDII menginisiasi Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masjid (PPSBM), “Program ini dirancang sistematis untuk mengedukasi jamaah agar mengelola sampah secara mandiri,” imbuhnya.
Ia mengatakan, PPSBM bertujuan mengurangi volume sampah ke TPA, “Mencegah kebiasaan membuang sampah sembarangan serta membakar sampah, sekaligus menjadikan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomis,” tegas Rulifa.
Melalui PPSBM, warga LDII diajak menerapkan gerakan 5M, “Yakni memilah sampah, mengumpulkan sampah daur ulang, mengolah sampah organik, mengirim sampah daur ulang ke bank sampah, serta mengangkut sampah residu ke TPA,” tuturnya.
Rulifa menjelaskan, warga mengumpulkan sampah terpilah ke masjid sebelum disalurkan ke Bank Sampah atau Lembaga Pengepul Sampah (LPS). “Melalui PPSBM ini, LDII berkomitmen berperan mewujudkan Indonesia Bersih Sampah. Melalui penurunan ritasi pengangkutan ke TPA, penghematan biaya operasional, penurunan emisi kendaraan pengangkut, serta peningkatan kualitas lingkungan secara keseluruhan,” tutupnya.















