Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • Desain dan Spanduk HARI SANTRI 2026
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • Desain dan Spanduk HARI SANTRI 2026
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Menuju 100 Hari Jelang Ramadan 1448 H

2026/11/05
in Opini
0
Seorang santri menatap Masjidil Haram, 100 hari menuju Ramadan. Ilustrasi: gemini

Seorang santri menatap Masjidil Haram, 100 hari menuju Ramadan. Ilustrasi: gemini

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Dr Wilnan Fatahillah

Ada pemandangan yang selalu menghadirkan haru sekaligus kekaguman menjelang Ramadan. Ketika Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, sejumlah orang berdiri menghadap langit, sebagian mengarahkan teleskop, sebagian memeriksa perangkat pengamatan, sementara yang lain mencatat data astronomis dengan cermat. Mereka tidak sedang menikmati senja biasa. Mereka sedang menjalankan ikhtiar ilmiah dan keagamaan untuk mengamati hilal, bulan sabit muda yang menjadi salah satu penanda pergantian bulan dalam kalender Hijriah.

Di balik kegiatan itu terdapat ilmu, kesabaran, kedisiplinan, dan pengabdian. Hilal yang sangat tipis tidak selalu mudah diamati. Awan dapat menutup ufuk, atmosfer dapat mengurangi kejernihan pandangan, dan posisi Bulan mungkin belum memenuhi kondisi yang mendukung keterlihatannya. Namun, apa pun hasil pengamatan, proses ilmiah tetap memiliki nilai karena dilaksanakan melalui prosedur, pencatatan, dan pelaporan yang bertanggung jawab.

Kini, menjelang Ramadan 1448 Hijriah, kita kembali diingatkan bahwa persiapan menyambut bulan suci tidak hanya berkaitan dengan kesiapan spiritual setiap Muslim. Ada pula ikhtiar keilmuan yang membantu umat memahami waktu ibadah dengan lebih baik. Dalam bidang ini, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) telah mengembangkan kontribusi melalui pembentukan dan pembinaan Tim Rukyatul Hilal di berbagai daerah.

Langit sebagai Tanda Kebesaran Allah

Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan keteraturan alam semesta. Allah SWT berfirman:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan Bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. al-Raḥmān [55]: 5).

Ayat ini mengingatkan bahwa Matahari dan Bulan bergerak dalam keteraturan yang dapat dipelajari manusia. Dalam astronomi, pergerakan benda langit dapat dianalisis melalui pengamatan, model matematis, dan perhitungan posisi. Dalam kehidupan beragama, keteraturan tersebut membantu manusia memahami waktu, menyusun kalender, menentukan waktu salat, serta mendukung penentuan awal bulan Hijriah.

Allah SWT juga berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.” (QS. Yūnus [10]: 5).

Ayat tersebut memberikan inspirasi kuat bagi pengembangan ilmu falak. Alam bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk dipelajari. Keimanan tidak menghalangi manusia melakukan penelitian. sebaliknya, keimanan dapat mendorong pencarian ilmu yang membawa manfaat. Karena itu, mempelajari astronomi dan ilmu falak bukan semata-mata urusan teknis. Keduanya dapat menjadi jalan untuk memperdalam penghayatan terhadap ayat-ayat Allah yang terbentang di alam semesta.

Ilmu Falak: Pertemuan Syariat, Astronomi, dan Ketelitian

Ilmu falak memiliki kedudukan penting dalam praktik ibadah umat Islam. Penentuan waktu salat berkaitan dengan posisi Matahari. Penentuan arah kiblat membutuhkan perhitungan arah geografis. Sementara itu, penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah berkaitan dengan kalender lunar, fase Bulan, ijtimak, posisi hilal, dan kondisi keterlihatannya.

Dalam konteks inilah kita mengenal dua pendekatan yang sering dibicarakan, yaitu hisab dan rukyat. Hisab merupakan perhitungan untuk mengetahui posisi dan keadaan benda langit pada waktu tertentu. Dengan data astronomis yang tepat, posisi Bulan terhadap Matahari, ketinggian hilal, elongasi, dan waktu terbenamnya benda-benda langit dapat diperkirakan. Rukyat merupakan pengamatan terhadap hilal secara langsung, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu optik. Sekaligus sebagai verifikasi dan konfirmasi dari hasil hisab. Hasilnya dipengaruhi oleh kondisi astronomis, keadaan atmosfer, cuaca, kualitas instrumen, dan kemampuan pengamat.

Keduanya memiliki peran penting dalam diskusi penentuan awal bulan Hijriah. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa hasil perhitungan, hasil pengamatan, dan keputusan resmi penetapan awal Ramadan merupakan hal yang berbeda. Di Indonesia, penetapan awal Ramadan oleh pemerintah mengikuti mekanisme yang berlaku, termasuk pembahasan data hisab dan laporan rukyatul hilal melalui Sidang Isbat. Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa prediksi kalender tertentu otomatis merupakan keputusan resmi pemerintah. Literasi falak yang baik justru membantu umat memahami dasar pengetahuan, metode yang digunakan, dan kewenangan dalam penetapan kalender ibadah.

Dari Pembinaan Kader hingga 101 Tim Rukyatul Hilal

Salah satu perkembangan yang patut diapresiasi adalah kesungguhan LDII membangun kapasitas dalam bidang hisab dan rukyat. Pembentukan Tim Rukyatul Hilal LDII bukan proses yang berlangsung dalam semalam. Ia tumbuh melalui pelatihan, pembinaan, pengadaan instrumen, pengalaman lapangan, dan kerja sama dengan berbagai pihak. LDII pada tahun 2025, telah memiliki 101 tim rukyatul hilal yang aktif melakukan pemantauan, dengan sekitar 450 personel yang terlibat dalam kegiatan pengamatan Ramadan dan Syawal pada periode tersebut.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik organisasi. Di baliknya terdapat orang-orang yang belajar memahami pergerakan Bulan, berlatih menggunakan teleskop, menyesuaikan instrumen, memeriksa kondisi ufuk, mencatat hasil pengamatan, dan menyampaikan laporan secara bertanggung jawab. Di sejumlah daerah, tim LDII turut berkolaborasi dengan petugas Kementerian Agama dan unsur pengamat lainnya. Kerja bersama seperti ini penting karena penentuan awal bulan Hijriah membutuhkan data yang dapat diperiksa, komunikasi yang baik, dan keterbukaan terhadap prosedur yang berlaku.

Kebanggaan warga LDII seharusnya bertumpu pada hal-hal semacam ini, yakni kesungguhan menuntut ilmu, kesediaan berkontribusi, dan kemampuan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. LDII tidak hanya membina umat agar siap beribadah, tetapi juga mengembangkan kader agar mampu berpartisipasi dalam proses keilmuan yang mendukung pelaksanaan ibadah. Inilah bentuk dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman. Dakwah tidak selalu berlangsung di atas mimbar. Ia juga hadir melalui pengamatan ilmiah, pengembangan teknologi, pelatihan kader, pencatatan data, dan pelayanan kepada masyarakat.

Pengamatan Hilal Membangun Tradisi Keilmuan

Pengembangan tim rukyatul hilal harus dipahami sebagai bagian dari pembangunan tradisi keilmuan yang berkelanjutan. Kemampuan mengamati hilal tidak cukup hanya dimiliki oleh beberapa orang yang berpengalaman. Pengetahuan tersebut perlu diwariskan, didokumentasikan, dan dikembangkan agar generasi muda LDII berikutnya dapat melanjutkan tugas dengan kompetensi yang lebih baik.

Karena itu, pelatihan ilmu falak menjadi bagian penting dalam proses kaderisasi. Anggota tim perlu memahami dasar astronomi, konsep kalender Hijriah, penggunaan instrumen, teknik pengamatan, pencatatan kondisi cuaca, dan tata cara pelaporan. Mereka juga perlu belajar membedakan objek yang terlihat di dekat Matahari terbenam agar tidak keliru mengidentifikasi hilal.

LDII telah menyelenggarakan pelatihan rukyatul hilal dengan melibatkan peserta dari berbagai daerah. Sejak Maret 2024, LDII telah menyelenggarakan  kegiatan pelatihan teori dan praktik yang diarahkan untuk memperkuat kemampuan tim di tingkat provinsi serta mendorong kolaborasi dengan lembaga dan organisasi lain. Penguatan kapasitas tersebut penting karena setiap lokasi pengamatan memiliki tantangan tersendiri. Keadaan ufuk barat, ketinggian lokasi, kelembapan udara, awan, polusi cahaya, dan kondisi atmosfer dapat memengaruhi proses pengamatan.

Bahkan, ketika hilal tidak terlihat, kegiatan rukyat tetap dapat menghasilkan informasi yang berguna. Pengamat dapat mencatat keadaan cuaca, posisi instrumen, kondisi ufuk, dan hasil pengamatan yang kemudian dilaporkan sesuai prosedur. Ketidakberhasilan melihat hilal bukan alasan untuk mengabaikan proses ilmiah. Di sinilah kedisiplinan ilmiah diuji. Pengamat yang bertanggung jawab tidak akan menyatakan melihat hilal hanya karena berharap melihatnya. Ia harus membedakan harapan, perkiraan, dan fakta yang benar-benar diamati. Sikap tersebut sejalan dengan nilai amanah dalam Islam. Kebenaran laporan harus lebih diutamakan daripada keinginan menghasilkan kabar yang menyenangkan.

Kolaborasi Memperkuat Ukhuwah dan Kebangsaan

Pengamatan hilal juga membuka ruang perjumpaan antarlembaga dan antarkomunitas. Di lokasi pengamatan, para peserta dapat berdiskusi tentang data astronomi, metode pengamatan, kondisi cuaca, dan hasil yang diperoleh. Perbedaan pendekatan tidak harus menghalangi kerja sama. Dalam konteks Indonesia, kolaborasi antara organisasi kemasyarakatan Islam, Kementerian Agama, ahli astronomi, perguruan tinggi, dan komunitas pengamat langit merupakan modal penting bagi pengembangan ilmu falak. Kerja sama membantu memperluas pengalaman, meningkatkan kualitas pengamatan, dan membangun kepercayaan di antara para pelaku.

Bagi LDII, keterlibatan dalam kegiatan rukyatul hilal merupakan kesempatan menunjukkan bahwa organisasi kemasyarakatan dapat mengambil peran konstruktif dalam kehidupan berbangsa. Kontribusi tersebut tidak harus diwujudkan melalui klaim bahwa satu organisasi paling unggul, tetapi melalui kerja yang dapat dilihat, data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kemauan untuk bekerja bersama. Kebanggaan organisasi yang sehat bukan kebanggaan yang merendahkan pihak lain. Ia adalah kebanggaan yang mendorong anggotanya bekerja lebih baik, meningkatkan kualitas diri, dan memperluas manfaat. Dengan semangat itu, tim rukyatul hilal LDII dapat terus menjadi bagian dari ikhtiar bersama umat Islam Indonesia dalam memahami kalender Hijriah dan mendukung proses penetapan awal bulan sesuai ketentuan yang berlaku.

Seratus Hari Menjelang Ramadan: Persiapkan Ilmu, Iman, dan Amal

Momentum sekitar 100 hari menjelang Ramadan 1448 H harus menjadi ajakan untuk menyiapkan diri dari berbagai sisi. Kalender membantu kita mengetahui perkiraan waktu, ilmu falak membantu memahami fenomena langit, tetapi keduanya belum cukup jika tidak disertai kesiapan spiritual. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

Tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan. Maka, masa persiapan menjelang Ramadan sebaiknya digunakan untuk memperbaiki ibadah, memperdalam pemahaman tentang fikih puasa, membiasakan membaca Al-Qur’an, menjaga kesehatan, melatih pengendalian diri, dan meningkatkan kepedulian sosial. Bagi warga LDII, persiapan tersebut dapat disertai dengan penguatan pembinaan generasi penerus. Anak-anak muda perlu dikenalkan kepada ilmu falak, dilibatkan dalam kegiatan pengamatan, dan diberi kesempatan belajar dari anggota tim yang lebih berpengalaman. Dengan begitu, kaderisasi tidak hanya melahirkan pengurus organisasi, tetapi juga generasi yang memiliki keahlian khusus dan siap berkontribusi kepada masyarakat.

Bayangkan jika setiap daerah memiliki kader muda yang memahami dasar hisab-rukyat, mampu menggunakan instrumen dengan benar, menguasai literasi digital, dan dapat menjelaskan fenomena astronomi dengan bahasa yang mudah dipahami. Mereka tidak hanya membantu kegiatan pengamatan, tetapi juga dapat menjadi pendidik yang menghubungkan sains dan agama secara mencerahkan. Inilah investasi jangka panjang yang perlu dirawat: membangun umat yang kuat dalam ibadah, luas dalam ilmu, dan nyata dalam pengabdian.

Menjadikan Langit sebagai Inspirasi Pengabdian

Menjelang Ramadan, langit mengajarkan kita tentang keteraturan, ketekunan, dan kesabaran. Bulan tidak selalu tampak jelas pada setiap senja. Ada saatnya hilal sulit diamati karena posisi astronomis atau kondisi cuaca. Namun, para pengamat tetap menjalankan tugasnya dengan teliti dan melaporkan hasil sesuai kenyataan. Dari proses tersebut, kita dapat mengambil pelajaran untuk kehidupan. Tidak semua ikhtiar langsung menghasilkan apa yang kita harapkan. Tidak semua pekerjaan terlihat oleh banyak orang. Namun, pekerjaan yang dilakukan dengan ilmu, amanah, dan niat yang baik tetap memiliki nilai.

Demikian pula perjuangan dakwah. Tidak semua kontribusi harus tampil di panggung. Ada orang yang membina jamaah, ada yang mendidik generasi muda, ada yang menyiapkan instrumen, ada yang mengolah data, dan ada yang melaporkan hasil pengamatan. Semua memiliki peran selama dilakukan dengan benar dan memberikan manfaat. Bagi warga LDII, perkembangan Tim Rukyatul Hilal merupakan pengingat bahwa organisasi dapat terus berkontribusi melalui penguatan ilmu dan pengabdian. Capaian yang telah diraih harus dijaga dengan peningkatan kualitas, evaluasi, kolaborasi, serta pembinaan generasi penerus.

Jangan berhenti pada kebanggaan terhadap jumlah tim dan anggota. Jadikan capaian tersebut sebagai dorongan untuk meningkatkan ketelitian, memperluas pelatihan, memperkuat dokumentasi, dan mengembangkan kerja sama. Kebanggaan terbaik adalah ketika semakin banyak kader yang kompeten dan semakin besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

Penutup: Dari Langit untuk Umat, dari Ilmu Menuju Takwa

Seratus hari menjelang Ramadan bukan hanya hitung mundur menuju bulan suci. Ia adalah kesempatan untuk memperbarui niat, memperkuat ilmu, dan mempersiapkan amal. Ilmu falak membantu manusia memahami waktu, astronomi membuka cakrawala pengetahuan, sedangkan Al-Qur’an mengarahkan manusia agar mengambil pelajaran dari keteraturan ciptaan Allah.

Kehadiran Tim Rukyatul Hilal LDII menunjukkan bahwa dakwah dapat berjalan melalui pengabdian ilmiah. Dengan sekitar 100 tim dan 465 anggota yang ada pada 2026, LDII memiliki modal penting untuk terus mengembangkan kader, memperkuat kerja sama, dan berkontribusi dalam pengamatan hilal di berbagai wilayah Indonesia. Capaian ini patut disyukuri sekaligus menjadi tanggung jawab untuk terus meningkatkan mutu. Sebab, ilmu bukan sekadar kebanggaan, melainkan amanah yang harus digunakan untuk kemaslahatan. Teknologi bukan sekadar alat, melainkan sarana untuk meningkatkan ketelitian. Dan dakwah bukan hanya kata-kata, melainkan tindakan yang menghadirkan manfaat bagi umat dan bangsa.

Tags: 100 Hari Jelang RamadanJelang Ramadan 1448 HOpini LDIIRamadan LDIIWilnan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • SUDIYONO DION on Kapolres Kebumen Sambangi Ponpes Baitussyakur, Ajak LDII Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
  • Mansur Ghozali on Perkuat Edukasi Hukum Pelajar dan Santri, LDII Banyuwangi Kerja Sama dengan Kejari
  • Sly Soelistyo on Belajar Cinta dari A’rabiyan (Bersama yang Dicintai)
  • Suwandi 313 on LDII Maluku Perkuat Tupoksi Pengurus dan Selaraskan Program dengan Pemprov
  • Iswahyudi on Belajar Cinta dari A’rabiyan (Bersama yang Dicintai)
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Nasehat untuk Orang Tua

Nasehat untuk Orang Tua

March 14, 2026
PBNU dan OPOP Jember Silaturahim ke Ponpes Gadingmangu

PBNU dan OPOP Jember Silaturahim ke Ponpes Gadingmangu

April 24, 2026
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

March 11, 2026
MUI Pondok Gede Gelar Safari Ramadan di Masjid Baitul A’laa LDII

MUI Pondok Gede Gelar Safari Ramadan di Masjid Baitul A’laa LDII

March 17, 2026
Belajar Cinta dari A’rabiyan (Bersama yang Dicintai)

Belajar Cinta dari A’rabiyan (Bersama yang Dicintai)

4
LDII Maluku Perkuat Tupoksi Pengurus dan Selaraskan Program dengan Pemprov

LDII Maluku Perkuat Tupoksi Pengurus dan Selaraskan Program dengan Pemprov

2
Perkuat Edukasi Hukum Pelajar dan Santri, LDII Banyuwangi Kerja Sama dengan Kejari

Perkuat Edukasi Hukum Pelajar dan Santri, LDII Banyuwangi Kerja Sama dengan Kejari

1
Kapolres Kebumen Sambangi Ponpes Baitussyakur, Ajak LDII Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Kapolres Kebumen Sambangi Ponpes Baitussyakur, Ajak LDII Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

1
Menuju 100 Hari Jelang Ramadan 1448 H

Menuju 100 Hari Jelang Ramadan 1448 H

November 5, 2026
Mahasiswa UT Batam Helat Program Pembuatan Pupuk Kompos di Budi Luhur Boarding School

Mahasiswa UT Batam Helat Program Pembuatan Pupuk Kompos di Budi Luhur Boarding School

November 4, 2026
LDII Banten Siap Cetak Santri Berdaya Saing Global dan Berakhlak Mulia

LDII Banten Siap Cetak Santri Berdaya Saing Global dan Berakhlak Mulia

November 4, 2026
Ponpes Wali Barokah Terima Kunjungan GKI, Pererat Persaudaraan Lintas Agama

Ponpes Wali Barokah Terima Kunjungan GKI, Pererat Persaudaraan Lintas Agama

November 4, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Menuju 100 Hari Jelang Ramadan 1448 H November 5, 2026
  • Mahasiswa UT Batam Helat Program Pembuatan Pupuk Kompos di Budi Luhur Boarding School November 4, 2026
  • LDII Banten Siap Cetak Santri Berdaya Saing Global dan Berakhlak Mulia November 4, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

TELEGRAM

Untuk mengirim berita dari daerah Anda, silakan install aplikasi TELEGRAM lalu klik tautan berikut:

https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • Desain dan Spanduk HARI SANTRI 2026
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.