Oleh: Faqihu Sholih
Jutaan jemaah bergerak dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina dengan harapan: ampunan Allah dan haji mabrur.
Haji adalah Arafah. Tapi ritual itu tidak berhenti, para jemaah haji menuju Muzdalifah, kemudian menetap di Mina. Tiga lokasi puncak ritual haji itu disebut Armuzna. Di sanalah perjalanan penyempurna rukun Islam itu dimulai, yang menguras tenaga, kesabaran, dan keteguhan hati. Di tengah lelah dan terik, mereka tetap bertalbiyah, berdoa, dan saling menguatkan.
Pada Minggu malam itu, 24 Mei 2026, lobi hotel-hotel jemaah Indonesia di Makkah tak lagi sekadar menjadi tempat lalu-lalang tamu. Ribuan jemaah duduk berkelompok mengenakan ihram dan gamis hitam, dengan tas abu-abu bertuliskan Armuzna menggantung di pundak serta kantong plastik hitam berisi bekal makanan di tangan mereka.
Wajah-wajah yang biasanya tampak santai itu, malam itu gelisah. Seolah mereka hendak meninggalkan rumah untuk waktu yang sangat lama, padahal yang akan mereka tinggalkan hanyalah kenyamanan kamar hotel demi memenuhi panggilan Allah di Armuzna.
Sejak sehari sebelumnya, banyak di antara mereka mengaku sulit memejamkan mata. Berkali-kali koper dibuka dan ditutup kembali, memastikan obat-obatan, sandal, kartu identitas, hingga pakaian ganti sudah masuk ke dalam tas.
Di tengah keramaian itu, seorang pria tampak mendorong kursi roda yang diduduki ibunya yang telah lanjut usia. Tas besar menggantung di tubuhnya, sementara kantong-kantong plastik memenuhi bagian belakang kursi roda, menjadi saksi perjalanan spiritual ini juga dibangun di atas pengorbanan dan bakti seorang anak kepada orang tuanya.
Bus-bus mulai berdatangan ke depan hotel, dan satu per satu jemaah melangkahkan kaki keluar dari kamar yang selama beberapa pekan menjadi tempat beristirahat mereka. Sebagian bersiap menuju Mina untuk menjalani Tarwiyah, sementara yang lain masih menanti jadwal keberangkatan menuju Arafah. Di layar ponsel pintar mereka muncul pesan singkat yang dibaca berulang kali, “Diharapkan jemaah sudah bersiap di lobi hotel, pada Senin (25/5/2026) pukul 07.00 Waktu Arab Saudi (WAS).”
Pagi itu, Susanto dan istrinya, Mutmainah, jemaah asal Nganjuk, Jawa Timur, sudah siap sejak sebelum matahari terbit. Mereka ingin segera sampai ke padang luas yang selama bertahun-tahun hanya mendengarnya dari ceramah. “Al-Hajju Arafah,” begitu sabda Rasulullah. Inilah inti dari seluruh perjalanan panjang yang mereka tunggu belasan tahun.
Namun, perjalanan menuju Arafah ternyata juga mengajarkan kesabaran. Ketika matahari mulai meninggi dan jam menunjukkan pukul 10.00 WAS, bus yang ditunggu tak kunjung datang. Susanto membuka tas selempangnya, melihat jam pada ponselnya, lalu menarik napas panjang. “Yuk Bu, kita istirahat di mushala hotel sembari menunggu kepastian,” ujarnya kepada Mutmainah yang sejak pagi duduk menunggu di lobi Hotel Luluat Al Sharq.
Di mushola hotel, mereka ternyata tidak sendirian. Beberapa jemaah asal Kediri, Jawa Timur telah lebih dulu merebahkan tubuh di atas sajadah hijau tua, sebagian membaca Al Quran, sebagian lain memejamkan mata karena kelelahan. Hari itu, semua merasakan hal yang sama, menunggu dengan harap-harap cemas.
Selepas Dzuhur, Susanto dan rombongannya memutuskan kembali ke kamar. Tepat pukul 14.30 WAS, saya mengetuk pintu kamarnya dan berkata, “Kok belum berangkat ke Arafah, Pak?” tanyaku, di sudut pintu kamar 806.
Susanto tersenyum tipis lalu menjawab, “Rencana tadi jalan jam 07.00 WAS, rupanya ada perubahan jadwal keberangkatan jadi pukul 18.30 WAS,” katanya, sambil memperlihatkan pesan singkat yang baru saja masuk di telepon genggamnya.
Menjelang petang, penantian itu akhirnya berakhir. Bus-bus mulai bergerak meninggalkan Makkah menuju Arafah, membawa ribuan jemaah Indonesia menuju puncak ibadah haji. Di sisi lain, saya bersama petugas lain berangkat menuju Arafah pada dini hari berikutnya, untuk menyaksikan secara langsung salah satu peristiwa terbesar dalam kehidupan umat Islam.
Di Padang Arafah, lautan manusia terbentang sejauh mata memandang. Jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di bawah terik matahari yang mencapai 44 derajat Celsius. Namun panas bukanlah hal yang paling mereka rasakan hari itu, yang jauh lebih terasa adalah harapan dan kerinduan kepada Sang Pencipta, yang telah mempertemukan mereka di tempat terbaik untuk memohon ampunan.
Menjelang waktu Dzuhur, suasana semakin khusyuk. Di ujung tenda, seorang petugas haji mengenakan baju petugas dan sorban berwarna merah berdiri. Dengan suara tenang ia berkata, “Izinkan saya untuk membacakan khutbah Arafah.” Kalimat itu menjadi penanda dimulainya momen yang paling ditunggu oleh jutaan jemaah.
Sesaat setelah imam mengakhiri shalat dengan salam, “Assalamualaikum warahmatullah,” suasana yang semula hening berubah menjadi lautan air mata. Dari depan, belakang, kanan, kiri, bahkan hingga di luar tenda, terdengar suara tangisan yang saling bersahutan. Bukan karena kelelahan, bukan pula karena panas Padang Arafah yang menyengat, melainkan karena mereka sedang bermunajat kepada Allah SWT pada waktu yang diyakini sebagai saat paling mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya doa adalah doa pada hari Arafah.” (HR Tirmidzi).
Jamarat: Lelah, Keringat, dan Dahaga
Sejak matahari tergelincir hingga menjelang terbenam, tangan-tangan terus terangkat ke langit. Bibir bergetar melafalkan doa, air mata mengalir tanpa malu, dan harapan-harapan yang selama ini tersimpan rapat dicurahkan sepenuhnya kepada Allah. Hari itu, tak ada jabatan, tak ada status sosial, tak ada sekat yang membedakan manusia, yang ada hanyalah hamba dan Tuhannya.
Hari pun mulai gelap, ketika adzan Magrib berkumandang, Arafah perlahan kembali sunyi. Satu per satu jemaah meninggalkan tenda dan bergerak menuju bus yang akan membawa mereka ke Muzdalifah. Malam itu, hamparan padang yang sejak siang dipenuhi jutaan manusia kembali lengang seperti semula.
Di Muzdalifah, para jemaah tidur beralaskan karpet dan beratapkan langit. Tak ada kamar hotel, tak ada kasur empuk, tak ada pendingin udara. Direktur, petani, guru, pedagang, hingga pejabat berbaring di tempat yang sama tanpa perbedaan sedikit pun. Sebagian mengisi malam dengan dzikir dan salat, sementara yang lain sibuk memungut batu-batu kecil yang akan digunakan untuk melontar jumrah di Mina.
Pukul 00.30 WAS, pergerakan menuju Mina dimulai. Sedikit demi sedikit Muzdalifah kembali kosong hingga menjelang pagi hanya menyisakan hamparan pasir dan debu. Tempat yang semalam menjadi rumah bagi jutaan manusia itu kembali sunyi.
Di Mina, tantangan berikutnya menanti. Tenda-tenda lebih padat dibandingkan di Arafah, dan para jemaah harus berbagi ruang untuk beristirahat. Pagi itu pukul 07.00 WAS, 10 Zulhijjah. Saya bersama para petugas bergerak menuju Jamarat untuk melaksanakan lontar Jumrah Aqabah. Baru beberapa langkah turun dari bus, lautan manusia sudah memenuhi jalan Mina hingga Jamarat.
Payung warna-warni membentuk mozaik raksasa di bawah terik matahari. Sebagian jemaah menyemprotkan air ke wajah, sebagian lainnya mengusap keringat yang terus mengalir. Selangkah demi selangkah kami berjalan menempuh sekitar empat kilometer menuju Jamarat, berdesakan bersama jutaan manusia yang terus melantunkan talbiyah.
“Labbaikallahumma labbaik…”
Suara itu menggema dari segala arah, mengiringi perjalanan panjang menuju simbol perlawanan terhadap godaan dan hawa nafsu. Di tengah panas, lelah, dan kepadatan manusia, talbiyah terus berkumandang, seolah mengingatkan bahwa Armuzna bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan hati menuju kepasrahan yang paling sempurna kepada Allah SWT.
Memasuki terowongan Mina, suasana terasa sedikit berbeda. Atap beton yang membentang panjang membuat jalur itu tampak lebih teduh dibanding jalan terbuka yang disengat matahari. Namun justru di tempat itulah kelelahan mulai terasa semakin nyata, langkah kaki menjadi lebih berat, leher terasa pegal karena terus menahan beban tas, sementara bibir yang sejak pagi diterpa udara panas mulai kering.
Semakin jauh melangkah, semakin banyak wajah-wajah lelah yang saya temui. Di salah satu sudut terowongan, seorang suami istri paruh baya tampak duduk bersandar di pagar. Keringat membasahi wajah mereka, napas terdengar tersengal, lalu dengan suara lirih mereka bertanya, “Pak, ada air minum?” Tanpa berpikir panjang saya membuka tas, mengeluarkan sebotol air minum, lalu menyodorkan beberapa butir kurma dan roti yang sedari pagi saya bawa sebagai bekal. “Ini Pak, air minum dan sedikit makanan untuk menunda lapar,” ucapku. Senyum kecil yang muncul di wajah mereka menjadi energi baru di tengah perjalanan yang melelahkan itu.
Peristiwa serupa berulang beberapa kali sepanjang perjalanan menuju Jamarat. Ada yang meminta air, ada yang sekadar beristirahat, ada pula yang hanya ingin memastikan bahwa mereka masih berada di jalur yang benar. Di tengah lautan manusia yang bergerak menuju satu tujuan, bantuan kecil sering kali terasa begitu berarti.
Hingga akhirnya, saya berhasil menuntaskan lontar Jumrah Aqabah dan tahallul, menyelesaikan satu fase penting dalam rangkaian ibadah haji, yang sejak lama hanya saya lihat melalui layar televisi.
Bagi saya yang berusia 32 tahun, perjalanan itu sudah terasa sangat menguras tenaga. Betis menegang, telapak kaki terasa panas, dan tubuh seperti meminta waktu untuk berhenti sejenak. Karena itu, saya semakin memahami perjuangan para jemaah lansia yang tetap melangkah dengan semangat meski usia dan kondisi fisik tak lagi muda. Di Armuzna, lelah, letih, haru, dan semangat bercampur menjadi satu rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Usai prosesi Jumrah Aqabah, tugas saya ternyata belum usai. Saya mendapat penugasan di MCR 2, Pos 9, lantai 3 Jamarat. Setiap hari saya harus berjalan sekitar 2-3 kilometer dari hotel menuju pos tersebut untuk membantu kebutuhan peliputan dan pelayanan jemaah.
Ada kalanya tubuh terasa sangat lelah, tetapi setiap kali melihat jemaah berhasil menyelesaikan rangkaian ibadah dengan baik, rasa bangga perlahan mengalahkan semua keluhan. Saya merasa beruntung menjadi bagian kecil dari perjalanan besar para tamu Allah menuju haji yang mabrur.
Pengalaman lain yang tak kalah berkesan terjadi saat bertugas di area Jamarat. Di sana kami harus berhadapan dengan petugas keamanan Kerajaan Arab Saudi yang bertanggung jawab menjaga kelancaran arus jemaah. Tidak sekali dua kali kami diminta meninggalkan lokasi karena dianggap berpotensi menghambat mobilitas jemaah.
Namun, terbetik ide membuat surat permohonan izin bertugas dalam bahasa Arab sederhana dengan bantuan Google Translate. Sejak saat itu, perlahan komunikasi terjalin, mereka mulai memahami bahwa kami adalah petugas resmi, yang hadir untuk membantu pelayanan jemaah. Di situlah, kami dapat bertugas berdampingan dengan mereka.
Bagi saya, itulah salah satu kenangan paling berharga selama Armuzna, bukan sekadar menyaksikan jutaan orang melontar jumrah, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar kecil untuk melayani para tamu Allah dalam perjalanan mereka meraih haji mabrur.

