Ibadah haji dan umrah merupakan ibadah istimewa yang menjadi impian umat Islam di seluruh dunia. Perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di balik setiap langkah thawaf, sa’i, hingga wukuf, terdapat keutamaan besar yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Berikut beberapa keutamaan haji dan umrah yang perlu diketahui:
1. Balasan Haji Mabrur adalah Surga
Haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan mengikuti tuntunan syariat, serta membawa perubahan perilaku menjadi lebih baik setelah pulang dari Tanah Suci. Keutamaan ini menunjukkan betapa mulianya ibadah haji di sisi Allah SWT. Surga menjadi hadiah tertinggi bagi mereka yang mampu menjaga kemurnian niat dan kesungguhan ibadah selama berhaji. Rasulullah SAW bersabda:
وَلَيْسَ لِلْحَجِّ الْمَبْرُورِ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Tidak ada balasan bagi haji yang mabrur selain surga.” (HR. Bukhari)
2. Menghapus Dosa Seperti Bayi yang Baru Dilahirkan
Haji menjadi momentum penyucian diri dari dosa-dosa yang telah lalu. Karena itu, banyak jemaah menangis haru saat berada di depan Ka’bah atau ketika wukuf di Arafah. Mereka berharap pulang dengan hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih tenang, dan kehidupan yang lebih dekat kepada Allah SWT.
Dinukil dari sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barang siapa berhaji karena Allah lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari)
Di Tanah Suci, setiap doa terasa lebih dalam karena jemaah menyadari betapa besar kasih sayang dan ampunan Allah kepada hamba-Nya. Momen inilah yang sering membuat banyak orang merasa seperti memulai kehidupan baru dengan semangat ibadah dan ketakwaan yang lebih kuat.
Baca Juga: Wamenhaj Dahnil Ingatkan KBIHU Tak Patok Kavling Tenda Mina
3. Haji Termasuk Amal yang Paling Utama
Keutamaan ini menunjukkan bahwa ibadah haji bukan sekadar ritual tahunan, tetapi ibadah besar yang memerlukan kesabaran, pengorbanan, keikhlasan, serta kekuatan fisik dan mental. Karena itu, orang yang mampu menunaikan haji sering disebut sebagai tamu pilihan Allah SWT.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ». قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ». قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «حَجٌّ مَبْرُورٌ».
Dari Abi Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya: “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.” Ditanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Haji yang mabrur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam setiap rangkaian ibadah haji, jemaah diajarkan untuk tunduk, sabar, dan saling membantu di tengah jutaan manusia dari berbagai negara. Semua perbedaan status, jabatan, dan kekayaan pun seakan melebur, karena di hadapan Allah SWT seluruh jemaah datang dengan tujuan yang sama, yaitu mencari ridha dan ampunan-Nya.
Baca Juga: Dam Tamattu’ Tembus 126 Ribu, Kemenhaj: Peningkatan Luar Biasa
4. Haji dan Umrah Menghapus Kefakiran dan Dosa
Banyak orang merasa khawatir hartanya berkurang karena biaya haji dan umrah. Padahal Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ibadah ini justru membawa keberkahan hidup. Allah SWT mampu mengganti setiap pengorbanan yang dikeluarkan dengan rezeki yang lebih baik dan hati yang lebih kaya dengan rasa syukur. Menyitat sebuah hadist Rasulullah SAW:
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
“Iringilah antara haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana perapian menghilangkan kotoran besi, emas, dan perak.” (HR. Tirmidzi)
Tidak sedikit jemaah yang merasakan kemudahan rezeki dan ketenangan hidup setelah pulang dari Tanah Suci. Sebab, haji dan umrah mengajarkan bahwa keberkahan bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang hati yang merasa cukup dan dekat dengan Allah SWT.
Baca Juga: Sidak Tenda Arafah, Amirulhaj Peringatkan KBIHU yang Melanggar
5. Haji Menghapus Dosa-Dosa Sebelumnya
Haji menjadi kesempatan besar bagi seorang muslim untuk membuka lembaran hidup baru. Banyak jemaah menjadikan momen ini sebagai titik balik dalam hidup mereka, meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT setelah kembali ke tanah air, Rasulullah SAW bersabda:
وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ
“Sesungguhnya haji menghancurkan dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Muslim)
Pengalaman spiritual selama di Tanah Suci sering menghadirkan kesadaran bahwa hidup di dunia hanyalah sementara dan setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT. Karena itu, sepulang haji banyak orang berusaha menjaga kemabruran hajinya dengan memperbaiki akhlak, memperbanyak amal saleh, dan menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.
Baca Juga: Wamenag Sebut Perencanaan Detail Wujudkan Mimpi Jemaah
6. Orang Haji Mendapat Ampunan Allah SWT
Karena itulah banyak keluarga menitipkan doa kepada jemaah haji. Di Tanah Suci, para jemaah tidak hanya mendoakan diri sendiri, tetapi juga membawa harapan dan doa dari orang tua, anak, keluarga, dan sahabat agar mendapatkan ampunan serta keberkahan dari Allah SWT, dalam sebuat riwayat dijelaskan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ
“Ya Allah, ampunilah orang yang berhaji dan orang yang dimintakan ampun oleh orang yang berhaji.” (HR. Al-Hakim)
Momen berdoa di depan Ka’bah atau saat wukuf di Arafah sering menjadi waktu yang penuh haru karena jemaah mengingat orang-orang tercinta di tanah air. Doa-doa itu dipanjatkan dengan penuh keyakinan, berharap Allah SWT mengabulkan segala harapan baik bagi keluarga dan orang-orang yang mereka sayangi.
Baca Juga: Kemenhaj: Bus Shalawat Dihentikan Sementara Jelang Puncak Haji
7. Biaya dan Pahala Haji Dilipatgandakan
Setiap biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan haji dan umroh tidak akan sia-sia di sisi Allah SWT. Bahkan, pengorbanan tenaga, waktu, dan harta menjadi ladang pahala besar yang dilipatgandakan. Karena itu, banyak umat Islam rela menabung bertahun-tahun demi memenuhi panggilan ke Baitullah, Rasulullah SAW bersabda:
النَّفَقَةُ فِي الْحَجِّ كَالنَّفَقَةِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِسَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ
“Nafkah dalam haji seperti nafkah di jalan Allah dengan pahala tujuh ratus kali lipat.” (HR. Ahmad)
Semua pengorbanan tersebut terasa ringan ketika akhirnya bisa menginjakkan kaki di Masjidil Haram dan melihat Ka’bah secara langsung. Di situlah banyak jemaah merasakan bahwa setiap usaha, doa, dan penantian panjang mereka dibalas dengan pengalaman spiritual yang begitu mendalam dan tak terlupakan.
Baca Juga: Apa Itu Murur dan Tanazul? Ini Penjelasan Musyrif Diny
8. Jemaah Haji dan Umrah adalah Tamu Allah
Menjadi tamu Allah adalah kemuliaan yang luar biasa. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan menginjakkan kaki di Masjidil Haram dan melihat Ka’bah secara langsung. Karena itu, banyak jemaah merasa haru dan bersyukur ketika akhirnya Allah mengundang mereka ke Tanah Suci, Rasulullah SAW bersabda:
الْغَازِي وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang haji, dan orang yang umroh adalah tamu Allah.” (HR. An-Nasa’i)
Banyak di antara mereka yang merasa perjalanan itu bukan semata karena kemampuan harta atau fisik, melainkan karena kehendak dan panggilan Allah SWT. Saat pertama kali melihat Ka’bah, tak sedikit jemaah yang meneteskan air mata karena merasakan besarnya nikmat, cinta, dan rahmat Allah kepada hamba-Nya.
Baca Juga: Kawal Jemaah di Mina, PPIH Bentuk Timsus Optimalkan Perlindungan Jemaah
9. Doa Jemaah Haji dan Umrah Mustajab
Karena itu, jemaah memanfaatkan waktu-waktu istimewa selama di Tanah Suci untuk memperbanyak doa dan munajat. Mulai dari di depan Ka’bah, Multazam, Hijr Ismail, hingga saat wukuf di Arafah, semua menjadi momen penuh harapan agar doa-doa yang lama dipanjatkan dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ، إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ
“Orang-orang yang haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, Allah mengabulkannya, dan jika mereka memohon ampun, Allah mengampuni mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Untuk itu, haji dan umrah bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi perjalanan spiritual yang penuh ampunan, keberkahan, dan kasih sayang Allah SWT. Setiap langkah di Tanah Suci mengandung hikmah dan pahala yang luar biasa.











