(Sekelumit Perspektif Pribadi)
Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Setiap tahun. Ya, setiap tahun, gema takbir memenuhi langit. Sapi dan kambing berhimpit. Datang bergelombang. Memenuhi pandangan. Pisau diasah. Panitia sibuk. Foto-foto dibagikan. Daging ditimbang. Grup WhatsApp ramai laporan distribusi. Namun di tengah semua itu, ada pertanyaan yang pelan-pelan mengambang: Apakah yang benar-benar sedang kukurbankan?
Allah telah memberi peringatan yang sangat dalam:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Dan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ» قَالُوا: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ»
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada hari-hari itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan apa pun.” HR. Shahih al-Bukhari
Dalil-dalil ini seperti mengetuk hati ini. Hati yang berlabel manusia modern. Bahwa kurban bukan sekadar logistik daging, melainkan pendidikan jiwa. Hari ini, manusia mampu membeli hewan paling mahal, tetapi belum tentu mampu menyembelih: kesombongannya, cintanya kepada pujian, kerakusannya, ego dan gengsinya. Padahal inti kurban justru ada di sana.
Kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar kisah ayah dan anak. Itu adalah kisah tentang: melepaskan sesuatu yang paling dicintai, rela kehilangan demi Allah, dan keberanian menghancurkan “berhala” dalam diri. Dulu berhala itu patung. Hari ini berhala bisa berbentuk: uang, jabatan, popularitas, citra religius, bahkan rasa ingin dipuji sebagai “orang baik.” Banyak orang mampu membeli kurban, tetapi sangat berat meminta maaf. Banyak yang mampu menyembelih sapi, tetapi tidak mampu menyembelih amarahnya. Banyak yang membagi daging, tetapi pelit membagi perhatian kepada orang tuanya. Maka kurban kehilangan ruhnya ketika ia tinggal seremoni.
Kita hidup di zaman ketika orang semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Tetangga tidak saling mengenal. Keluarga makan bersama pun mulai jarang. Yang jauh di media sosial terasa dekat, yang dekat di rumah justru terasa asing. Di sinilah kurban sebenarnya membawa pesan sosial yang agung. Daging kurban mengajarkan: bahwa rezeki tidak boleh berhenti di meja sendiri, bahwa orang miskin juga berhak merasakan kebahagiaan hari raya, bahwa iman harus melahirkan kepedulian.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak menjadikan Idul Adha sebagai pesta pribadi. Ia menjadi momentum berbagi, menyatukan hati, dan menghidupkan kasih sayang sosial. Di zaman sekarang, mungkin justru itulah kurban yang paling mahal: mau peduli.
Kadang orang bertengkar karena panitia kurban. Ada yang marah karena pembagian. Ada yang tersinggung karena namanya tidak diumumkan. Ada yang lebih sibuk memotret sapi daripada mendoakan penerima. Padahal hewan kurban itu disembelih atas nama Allah. Betapa aneh jika ibadah yang seharusnya menghancurkan ego justru dipenuhi ego. Karena itu sebagian alim-faqih menangis ketika berkurban. Mereka bukan hanya takut hewannya tidak diterima, tetapi takut hati mereka tidak ikut berkurban.
Boleh jadi kurban terbesar hari ini adalah: seorang ayah yang menahan amarah demi anaknya, seorang ibu yang mengalahkan lelah demi keluarganya, seseorang yang diam saat mampu membalas, orang kaya yang memberi tanpa ingin dipuji, anak muda yang menjaga dirinya di tengah fitnah zaman. Sebab semua itu juga bentuk penyembelihan hawa nafsu. Dan mungkin itulah makna terdalam dari kalimat: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah.” (QS. Al-An‘am: 162)
Kurban bukan hanya tentang apa yang keluar dari kandang. Tetapi tentang apa yang keluar dari hati. Apakah setelah Idul Adha: kita menjadi lebih lembut, lebih ikhlas, lebih peduli, lebih dekat kepada Allah, dan lebih ringan melepaskan dunia? Jika tidak, boleh jadi yang tersisa hanya darah dan daging, sedangkan ruh kurban telah lama hilang. Atau bahkan bisa jadi, hanya selilit daging – selilit daging yang tertinggal di gigi.
Maka ada jalan pemahaman menuju cahaya yang sangat dalam: bahwa kurban sejatinya adalah latihan menuju pengorbanan terbesar. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih keterikatan kepada dunia. Karena itu sebagian alim-faqih mengatakan: setiap tetes darah kurban adalah pendidikan jiwa agar manusia siap menyerahkan apa pun demi Allah. Dan bukankah inti jihad juga demikian? rela kehilangan, rela letih, rela berkorban, bahkan rela menyerahkan nyawa. Maka kurban seperti “madrasah kecil” dari makna jihad yang besar.
Mengapa syahid menjadi pengecualian? Karena orang yang syahid telah memberikan: hartanya, kenyamanannya, tubuhnya, bahkan hidupnya seluruhnya untuk Allah. Ia tidak pulang membawa apa-apa selain nama dan amal. Itulah puncak pengorbanan manusia.
Sedangkan kurban mengajarkan manusia untuk mulai belajar melepaskan: harta, cinta dunia, ego, dan rasa memiliki. Seakan syariat ingin berkata: “Kalau seekor kambing saja belum mampu engkau lepaskan karena Allah, bagaimana engkau akan menyerahkan hidupmu untuk-Nya?”
Di zaman sekarang, mungkin banyak orang tidak dipanggil ke medan perang. Tetapi hampir semua orang dipanggil kepada jihad melawan: hawa nafsu, kerakusan, ketidakjujuran, cinta dunia, dan kerasnya hati. Karena itu Idul Adha sesungguhnya bukan hanya hari menyembelih hewan, tetapi hari menguji: apa yang paling kita cintai selain Allah.
Sebagian orang kehilangan Allah demi uang. Sebagian kehilangan kejujuran demi jabatan. Sebagian kehilangan keluarga demi ambisi. Sebagian kehilangan nurani demi popularitas. Maka ruh kurban adalah mengembalikan hati: bahwa tidak ada yang lebih layak dicintai melebihi Allah.
Kurban dan jihad dipertemukan oleh satu kata: pengorbanan. Yang satu melatih manusia menyerahkan sebagian miliknya. Yang satu lagi adalah puncak penyerahan seluruh dirinya. Dan mungkin karena itulah, orang-orang saleh dahulu tidak hanya sibuk mencari hewan terbaik untuk kurban, tetapi juga sibuk bertanya pada dirinya sendiri: “Apa sebenarnya yang sudah kukorbankan untuk Allah selama hidupku ini?”

