Thaif merupakan salah satu kota yang berada di wilayah pegunungan Arab Saudi dan dikenal memiliki udara yang lebih sejuk dibandingkan Makkah. Kota yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Makkah ini terletak di kawasan dataran tinggi yang dikelilingi Pegunungan Al Hada dan pegunungan di wilayah Asir, sehingga menjadi destinasi favorit masyarakat Arab Saudi untuk beristirahat saat musim panas.
Perjalanan menuju Thaif menyuguhkan pemandangan khas pegunungan gurun yang berbeda dengan pegunungan di Indonesia. Jalan berkelok dan menanjak membelah lereng-lereng batu yang tandus. Namun semakin mendekati kawasan Al Hada dan Thaif, suasana mulai berubah. Pepohonan, perkebunan kurma, serta berbagai tanaman hortikultura mulai terlihat menghiasi sepanjang perjalanan.
Selain dikenal sebagai daerah pertanian, Thaif juga terkenal sebagai penghasil delima, anggur, mawar, dan berbagai jenis sayuran. Di beberapa kawasan, tumbuh pula pohon berduri yang oleh sebagian masyarakat dikenal sebagai pohon zaqqum. Kota ini juga memiliki sejumlah lokasi wisata dan menjadi salah satu tempat penting bagi jemaah yang hendak mengambil miqat, yaitu di kawasan Wadi Sair Kabir atau Qarnul Manazil.
Karena udaranya yang relatif sejuk, banyak keluarga kerajaan Arab Saudi membangun tempat peristirahatan di Thaif. Tak heran jika kota ini mendapat julukan sebagai “Kota Para Raja”. Berbagai pertemuan penting, baik tingkat nasional maupun internasional, juga kerap digelar di kota yang berada di dataran tinggi tersebut.
Namun, di balik keindahan alam dan kesejukannya, Thaif menyimpan salah satu episode paling menyedihkan dalam sejarah dakwah Islam. Kota ini menjadi saksi perjuangan Rasulullah SAW saat menghadapi penolakan dan perlakuan kasar dari penduduk setempat.
Peristiwa itu terjadi sekitar tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Saat itu Rasulullah SAW sedang menghadapi masa yang sangat berat setelah wafatnya dua sosok yang selama ini menjadi pendukung utama dakwah beliau, yakni Siti Khadijah RA dan Abu Thalib. Tahun tersebut bahkan dikenal dalam sejarah Islam sebagai ‘Amul Huzn atau Tahun Kesedihan.
Dalam kondisi tersebut, Rasulullah SAW melakukan perjalanan ke Thaif dengan harapan memperoleh dukungan dari Bani Tsaqif dan mengajak mereka menerima ajaran Islam. Beliau juga berharap kota tersebut dapat menjadi tempat perlindungan bagi kaum muslimin yang saat itu menghadapi tekanan dan penganiayaan dari kaum Quraisy di Makkah.
Harapan itu ternyata tidak terwujud. Dakwah Rasulullah SAW ditolak, bahkan beliau mendapatkan perlakuan yang sangat menyakitkan. Sejumlah penduduk Thaif menghasut anak-anak dan masyarakat untuk melempari beliau dengan batu hingga kedua kaki Rasulullah SAW terluka dan berdarah. Zaid bin Haritsah yang mendampingi beliau juga mengalami luka saat berusaha melindungi Rasulullah SAW.
Dalam keadaan penuh luka dan kesedihan, Rasulullah SAW berlindung di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Di tempat itulah beliau memanjatkan doa yang sangat masyhur, berisi pengaduan kepada Allah atas kelemahan dirinya sebagai manusia, sekaligus ungkapan kepasrahan dan keteguhan dalam menjalankan amanah dakwah.
Peristiwa Thaif bahkan disebut Rasulullah SAW sebagai salah satu ujian terberat yang pernah beliau alami, melebihi banyak peristiwa lainnya. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, ketika Aisyah RA bertanya apakah ada peristiwa yang lebih berat daripada Perang Uhud, Rasulullah SAW menyebut pengalaman di Thaif sebagai salah satu masa yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
Saat itu, Malaikat Jibril datang bersama malaikat penjaga gunung dan menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan menimpakan dua gunung kepada mereka. Namun Rasulullah SAW menolak tawaran tersebut.
Rasulullah SAW justru berdoa agar Allah memberikan hidayah kepada keturunan mereka. Rasulullah SAW berharap dari generasi-generasi berikutnya akan lahir orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.
Sikap penuh kasih sayang dan kelapangan hati itulah yang kemudian menjadi salah satu pelajaran terbesar dari peristiwa Thaif. Di tengah penolakan, hinaan, dan luka fisik yang beliau alami, Rasulullah SAW tetap memilih mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang menyakitinya.
Kini, Thaif tidak hanya dikenal sebagai kota berhawa sejuk dan kaya hasil pertanian, tetapi juga sebagai tempat yang menyimpan jejak kesabaran, keteguhan, dan kasih sayang Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.














